Ramadhan Pagaralam “Banjir” Cincau Mengandung Boraks

 81 total views,  3 views today

boraks

Ilst Boraks

PAGARALAM, KS- Beraneka ragam makanan olahan yang diduga terindikasi bahan pengawet maupun zat pewarna berbahaya “Banjir” di Kota Pagaralam selama Ramadhan. Warga meminta, dinas terkait turun tangan untuk mengatasi masalah tersebut.

Makanan tersebut seperti cincau yang disinyalir mengandung boraks (bahan pengawet -red) beredar di sejumlah pedagang di Pagaralam. Cincau yang diduga berasal dari luar Pagaralam itu sempat dibeli beberapa konsumen sebagai salah satu makanan favorit saat berbuka puasa.

Adanya peredaran cincau itu diketahui setelah salah satu warga Kelurahan Besemah Serasan, Pagaralam Selatan, Marlon (44). Ia mengatakan, saat membeli cincau dia merasa curiga dengan kondisi cincau tersebut. Karena teksturnya lebih kenyal dan liat tidak seperti cincau umumnya yang lembut dan hancur jika diremas atau dibanting.

“Memang  yang membeli saudara saya, tapi saya kebetulan melihat kok ada yang aneh. Cincau tersebut bahkan dibanting belasan kali tidak apa-apa,” ujarnya.

Rasa penasaran itulah akhirnya ia pun memperlihatkan ke beberapa teman dan tetangganya. Merekapun penasaran dan membanting cincau itu hingga belasan kali.

“Wow, ini seperti karet bukan cincau,” kata beberapa warga saat Marlon memperlihatkan makanan olahan berborak.

Dirinya  berinisiatif melaporkan hal ini ke Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Pihak Dinkes pun melakukan uji laboratorium dan positif menemukan kandungan borax yang merupakan bahan pengawet mayat.

Kepala Dinas Kesehatan, Drs Roshan YM MKes, melalui Kasi Makmin, Hadi Candra membenarkan adanya penemuan cincau mengandung boraks tersebut. “Setelah dilakukan uji sampel yang digunakan untuk pembuatan cincau diduga kuat mereka menggunakan zat pengawet yang biasa dipergunakan untuk mayat yaitu boraks,” katanya.

Ia menambahkan,  zat tersebut sangat berbahaya bila dikonsumsi manusia karena bisa menimbulkan bermacam-macam penyakit seperti ginjal atau kanker.

“Efeknya memang tidak langsung terlihat, tetapi baru akan terasa setelah lima tahunan,” kata Hadi.

Terpisah, Kepala Dinas Perindagkop Pagaralam, Ahmadi Damrah SE MM melalui Kasi Perlindungan Konsumen, Nasrullah Hanif SE mengatakan, belum mengetahui adanya peredaran cincau berbahaya tersebut. Namun, pihaknya akan segera mengecek langsung kebenarannya di lapangan.

“Kami belum menerima laporan terkait peredaran cincau tersebut, tapi secepatnya kita akan turun ke lapangan,” tegasnya.

Pantauan di lapangan, beberapa pedagang cincau membantah jika menjual cincau berpengawet. “Kami membuat sendiri cincau ini. Ini bulan puasa buat apa kami menjual bahan berbahaya. Itu pasti cincau dari luar Pagaralam,” kata Endra, pengusaha cincau yang menyalurkan ke para pedagang di Pagaralam.

 

Teks: Antoni Stefen

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com