Plus Minum Kurikulum 2013

 451 total views,  2 views today

saronoOLEH SARONO P SASMITO

KETIKA Kabar  Sumatera melakukan reportase di lapangan,  ternyata para guru di Palembang dan Sumatera Selatan pada umumnya, belum memahami secara lengkap

Kurikulum 2013.

Padahal kurikulum itu telah dilakukan penerapannya tahun  ajaran baru ini. Mereka  rata-rata  belum memahami substansi kurikulum 2013 sehingga dibutuhkan waktu lebih untuk mempersiapkannya.

Keluhan tersebut ternyata disampaikan juga oleh Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo, pemerhati pendidikan yang juga aktivis Yayasan Taman Siswa Jakarta Darmaningtyas, dan sejumlah guru di daerah lain.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh secara resmi meluncurkan kurikulum 2013 pada hari pertama tahun ajaran baru di SMA Negeri 1 Bantul, Yogyakarta, Senin (15/7) lalu. Kurikulum 2013 ini memang tidak diterapkan secara serentak, tetapi baru di 6.326 sekolah yang tersebar di 295 kabupaten/kota.

Mendikbud optimistis guru mampu mengajarkan materi pembelajaran dengan konsep sesuai dengan kurikulum 2013. Alasan dia selain sudah mendapat pelatihan, guru juga mendapat buku pegangan. Siswa juga punya buku sendiri. Jadi, tidak ada alasan bagi guru untuk tidak berani mengajar dengan kurikulum baru.

Ia menambahkan, guru yang mengajarkan materi kurikulum baru akan terus dipantau selama satu tahun. Mereka juga akan menerima pendampingan dari guru inti agar bisa cepat beradaptasi dengan kurikulum 2013.

Melihat kondisi itu kita menilai penerapan kurikulum 2013 tergesa-gesa karena pelatihan guru baru selesai pada Sabtu (13/7) lalu. Artinya waktunya sangat pendek bagi guru untuk memahami kemudian menerapkannya.

Kita mengharapkan  untuk menghilangkan kesenjangan pemahaman itu maka  pelaksanaan pelatihan kurikulum 2013 untuk guru  yang terdapat sesi bedah buku dan pelatihan mengajar dalam situasi yang kecil (micro teaching) yang dilakukan oleh guru terus digalakkan.

Kita mengharapkan agar pemerintah betul-betul melakukan pemantauan dan pendampingan kepada guru agar kurikulum berjalan sesuai tujuan.  Hal itu harus dilakukan  secara serius, sesuai semangatnya. Bukan sekadar formalitas.

Meski guru menjadi ujung tombak penerapan kurikulum 2013, dalam hal ini pemerintah jangan sampai menyalahkan guru apabila belum terjadi perubahan secara signifikan. Kalau guru tidak berhasil, maka harus dievaluasi baik jangka pendek maupun jangka panjang, untuk melihat perkembangannya. Sebab waktu yang sangat pendek dan idealnya kurikulum itu baru diterapkan tahun depan membuat para guru belum bias menyerap kurikulum tersebut dengan sempurna. Di sisi lain kita juga mengharapkan jangan sampai peserta didik juga dibuat bingung dengan kurikulum yang selalu berganti dalam jangka waktu yang pendek. Belum lagi orangtua murid yang kebingungan ketika harus membeli buku-buku baru bagi anak-anaknya. Moga hal ini menjadi evaluasi semua pihak yang berkaitan dengan bidang pendidikan ini.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster