Komitmen Pemerintah Selalu Lemah

 272 total views,  2 views today

OLEH SARONO P SASMITOsarono

HARI-hari ini dan dalam sepekan terakhir harga kebutuhan pokok terus naik. Di berbagai pasar tradisional Kota Palembang, misalnya, harga cabai merah naik dari Rp30.000 menjadi Rp48.000 per kg. Harga kol gepeng juga naik dari Rp5.000 menjadi Rp5.500 per kg, buncis dari Rp5.500 menjadi Rp 6.000 per kg, terong panjang dari Rp7.000 menjadi Rp 8.000 per kg, dan wortel tanpa daun dari Rp4.000 menjadi Rp 5.000 per kg.

Kondisi ini tentu amat menyulitkan bagi umat muslim yang tengah menunaikan ibadah puasa saat ini. Di mana kita mesti memenuhi kebutuhan sembako untuk sahur dan berbuka.

Melihat kondisi seperti itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa geram atas kinerja kementerian yang lelet, sehingga harga komoditas pangan belakangan ini bergejolak melampaui kewajaran. “Sudah tiga bulan yang lalu saya bilang tambah stok, tambah stok. Kok masih lelet juga,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Hatta menginginkan kementerian yang ditunjuk tidak menunda-nunda pengadaan dan penambahan stok beberapa bahan pokok yang bergejolak melalui impor. Menunda-nunda pengadaan dan peningkatan pasokan stok, menurutnya, membuat harga kebutuhan pokok menjelang Ramadhan dan Lebaran sekarang ini makin bergerak liar.

Di pasar, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok memang makin bergejolak seiring dengan tibanya Ramadhan. Harga daging ayam, misalnya, kini sudah menyentuh Rp35.000 per kg. Sedangkan bawang merah kembali meroket ke level Rp60.000 per kg, cabai merah keriting Rp34.000 per kg. Sementara daging sapi sudah tembus Rp90.000 per kg.
Kita menyayangkan sejak awal Kementerian Pertanian sebagai institusi yang mengurusi soal pengadaan pangan tidak bisa dipegang oleh sosok yang punya afiliasi kepada berbagai kelompok. Tidak hanya afiliasi politik, afiliasi usaha pun sepatutnya tidak terjadi karena afiliasi itu terbawa kepada kebijakan-kebijakan yang dilahirkan.
Kalau sudah begini, kita bisa lihat sendiri hasilnya. Kondisi pangan tidak terurus baik. Harga daging tidak pernah lagi turun. Harga cabai juga tetap tinggi.

Padahal sejatinya, krisis harga bahan pangan tidak masuk akal karena Indonesia merupakan negara agraris. Krisis itu menunjukkan bahwa Indonesia tidak berbuat apa-apa untuk menghasilkan sendiri bahan pangan sesuai kebutuhan. Saat ini tidak bias tidak, gejolak harga sejumlah bahan pangan harus diatasi dengan impor. Jika suplai daging atau komoditas pangan kurang, inflasi bisa tak terkendali.

Untuk itu lemahnya koordinasi– antara Kemtan dan Kemdag–sangat mengganggu ekonomi nasional mesti diakhiri
Apalagi pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, harga bahan kebutuhan pokok membubung. Kita menilai pemerintah terkesan lepas tangan setelah membagi-bagikan dana bantuan langsung sementara kepada rakyat miskin. Padahal, bantuan itu menjadi tidak banyak membantu karena harga kebutuhan pokok meroket sangat tinggi.
Kita selalu menyayangkan kenapa komitmen pemerintah terhadap rakyatnya selalu lemah. Mereka baru bertindak dan antisipatif setelah rakyat tak berdaya dicekik kesulitan demi kesulitan. Sungguh pola sikap dan tindak yang amat kita sesalkan.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster