Hindarkan Pertentangan Permulaan Ramadhan

 264 total views,  4 views today

sarono

OLEH SARONO P SASMITO

Pemerintah  telah menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Ramadhan 1434 H/2013 M pada hari Senin (8/7) ini pukul 17.00 WIB kemarin. Berkaitan dengan itu Wakil Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar,  mengimbau sebaiknya umat mengikuti kesepakatan pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Nasaruddin menyebutkan, penentuan awal puasa tak bisa dilakukan tanpa ada aturan yang jelas. Kalau tidak melalui hisab, rukyat, atau sains, semua tak bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam perhitungan imkan al-rukyat (kriteria penentuan awal bulan), ketinggian bulan di atas cakrawala minimum 2 derajat pada saat matahari terbenam. Patokan Inilah yang digunakan pemerintah. Ia mengatakan, seperti tahun lalu, sidang tersebut juga dihadiri organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama (NU), dan lain-lain, termasuk Muhammadiyah, yang sudah menentukan awal Ramadhan, juga diundang meski memutuskan tak  hadir.

Pada sidang tersebut diputuskan  awal puasa tahun ini jatuh pada Rabu, tanggal 10 Juli 2013. Meski demikian, pemerintah tetap menggelar sidang isbat untuk memastikan posisi hilal (bulan) pada Senin kemarin.

Dalam sidang isbat  itu juga hadir para ahli astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang mempresentasikan posisi bulan dari seluruh Indonesia.

Ketua Bidang Fatwa MUI KH Ma’ruf Amin mengatakan, ada dua metode yang digunakan untuk menentukan awal puasa dan Lebaran Idul Fitri. Dua metode itu adalah, imkan al-rukyat dan wujud al-hilal. Dia memprediksi, secara imkan al-rukyat bahwa puasa dimulai pada Rabu (10/7), sementara wujud al-hilal pada Selasa (9/7).

Sejumlah ormas Islam yang sudah menetapkan awal Ramadhan yakni, Al-Jam`iyyatul Washliyah (Al-Washliyah), dan Pengurus Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis), yakni Rabu. Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Abdullah Sam, mengatakan, pihaknya belum menetapkan awal Ramadhan karena masih menunggu sidang isbat.

Ulama juga menunggu keputusan pemerintah.  Pemerintah merupakan ulil amri yang harus kita taati sebagaimana termaktub dalam Al-Qur`an,  kata Ketua MUI Prof Umar Shihab.

MUI, tutur Umar, berharap bila terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan agar tak dibesar-besarkan, karena umat Islam Indonesia sudah terbiasa mengalaminya.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada Selasa, 9 Juli 2013. Muhammadiyah juga memastikan tak hadir dalam sidang isbat karena telah menetapkan awal Ramadhan dengan metode hisab.

Dalam maklumat yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin itu ditetapkan, 1 Ramadan1434 H jatuh pada Selasa Wage, 9 Juli 2013 M; 1 Syawal 1434 H jatuh pada Kamis Wage, 8 Agustus 2013 M; 1 Zulhijah 1434 H jatuh pada Minggu Pon 6 Oktober 2013 M; Hari Arafah (9 Zulhijah 1434 H) Senin Legi, 14 oktober 2013 M; Idul Adha (10 Zulhijah 1434 H) Selasa Pahing, 15 Oktober 2013 M.

Kita mengharapkan perbedaan itu tidak menjadikan pertentangan di sana-sini.  Bagi  yang meyakini 1 Ramadhan jatuh hari Selasa (9/7) silahkan melaksanakan dengan khusyuk. Bagi yang mulai Rabu (10/7) juga juga demikian. Moga ibadah puasa ini mendatangkan pahala dan ketentraman luar biasa di hati ummat.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster