Lapter Atung Bungsu Kembali Dikuasai Warga

 289 total views,  4 views today

Suasana Lapangan terbang Atung Bungsu Pagaralam yang Di Kuasai warga Setempat / Dok K

PAGARALAM, KS—Warga pemilik lahan yang terkena pembangunan jalan menuju Lapangan Terbang (Lapter) Atungbungsu, Dusun Sukacinta, Kelurahan Atungbungsu, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, menuntut ganti rugi kepada Pemerintah Kota Pagaralam.

Aksi  ini ditandai dengan pemagaran jalan masuk menuju kawasan tersebut dengan menggunakan  tumpukan batu kali berdiameter sekitar 1 meter  yang dibentuk memanjang layaknya seperti pagar pekarangan.

Sehingga hal itu sangat menghambat kendaraan yang hendak keluar masuk dari kedua arah. Namun proses pemblokiran jalan ini tidak mendapat pengawalan dari anggota Kepolisian setempat.

“Kami sudah ditipu pihak Pemerintah Kota Pagaralam, kerena ada permainan dibalik ganti rugi lahan untuk pembangun jalan menuju Lapter. Sebelumnya sudah ada kesepakatan antara pemilik lahan untuk tidak diberikan ganti rugi,  tetapi dihibahkan,” kata Nando beserta Aleksander berikut  warga lainnya,  kemarin (7/7).

Menurut Nando, pihaknya sudah membatalkan hibah tersebut karena surat perjanjian hibah telah ditarik kembali. Mengingat hal ini tidak ada dasar hukum atau kekuatan Pemkot Pagaralam untuk melakukan pembebasan lahan.

Sementara itu, sambungnya,  jika dihitung secara keseluruhan, ada sekitar 3 kilometer dengan lebar antara 4 hingga 18 meter  lahan warga  yang telah digusur untuk pembangunan jalan tersebut mulai dari pintu masuk hingga ke lokasi peternakan.

“Pemkot Pagaralam telah membohongi kami. Pastinya, tidak ada lagi tawar menawar, karena kami telah menempuh jalur hukum. Kami akan terus melakukan pemagaran pada semua lahan kami yang telah dibangun untuk jalan Lapter,” kata Nando.

Ia menambahkan, jika diperhatikan proses ganti rugi tersebut sudah dibuat suatu permainan terselubung alias ‘kong kali kong’, karena semua lahan milik kelurganya tidak satupun dilakukan ganti rugi. Namun bagi warga pemilik lahan lainnya justru sudah mendapatkan ganti rugi.

“Pihak Pemkot Pagaralam sebelumnya telah berjanji tidak akan memberikan ganti rugi terhadap  seluruh lahan warga yang sudah terkena pembangunan jalan. Namun ada beberapa lahan milik warga yang dilakukan ganti rugi, seperti milik Evi,” sebutnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Pagaralam, H Iskandar Banusin SE mengatakan lahan disekitar lokasi pembangunan jalan menuju lapter sepajang 4,8 kilometer,  diduga ada  milik pribadi pejabat setempat. Tentunya lahan mereka diyakini tidak akan mungkin mau menghibahkan begitu saja. Sementara ada beberapa lahan milik keluarga pejabat setempat, mendapatkan ganti rugi.

“Sudah pasti pemilik lahan yang terkena penggusuran merasa keberatan jika lahan yang telah terkena pembangunan  tidak diberikan ganti rugi. Sedangkan lahan milik warga lainnya sudah dilakukan pergantian pembebasan. Wajar saja jika  mereka akan pertahankan lahan yang ada dengan cara menutup akses tersebut dengan cara memasang palang pagar yang terbuat batu kali yang disusun berjejer dipintu masuk yang sudah dibuat jalan dua jalur tersebut hingga lokasi perkantoran Lapter,” ujarnya.

Ditambahkan Iskandar, pihaknya sangat menyayangkan jika memang ada beberapa warga pemilik lahan yang terkena pembangunan dilakukan ganti rugi, sementara pemilik lainnya tidak dilakukan ganti rugi.

“Kalau memang sudah dihibahkan, semestinya tidak menerima ganti rugi. Karena hal sangat berpotensi terjadinya ketidakadilan. Wajar jika sejumlah warga kembali menguasai lahan yang ada dengan cara menumpuk batu kali hingga menggangu keluar masuk kendaraan,” kata dia.

Sebelumnya, Camat Dempo Selatan yang kini menjabat Asisten I Setda Kota Pagaralam,   Drs Rahmad Madro didampingi Kabid Bina Marga Dinas PU Kota Pagaralam Tedy ST mengatakan, guna membahas permasalahan ini tentunya akan  dilakukan pertemuan berikutnya dengan melibatkan semua pihak yang terkait agar persoalan ini dapat diselesaikan secepat mungkin.

“Kita tengah melakukan pendekatan secara persuasif dengan pemilik lahan guna melakukan pembahasan persoalan lahan mereka yang terkena pembangunan jalan Lapter dengan melibatkan Dinas PU, pelaksana proyek, guna mencari solusi terbaik,” terangnya.

Ia mengatakan, berdasarkan kesepakatan, ttidak ada ganti rugi lahan yang terkena pembangunan akses menuju lapangan terbang Atungbungsu termasuk milik Nando,  Aleksander  dan warga lainnya yang menuntut ganti rugi. Pasalnya, seluruh pemilik lahan  sudah menghibahkan.

Terpisah Kapolresta Kota Pagaralam AKBP Raden Hendrawan SIK melalui Kasat Reskrim sebelumnya mengatakan, bahwa pihaknya telah memeriksa dua pejabat Pemkot terkait pengusutan pembebasan lahan Lapter Atung Bungsu. Sejauh ini kedua pejabat dimaksud diperiksa sebagai saksi terkait dugaan penyimpangan dalam pembelian dan pembebasan lahan.

“Pemeriksaan dilakukan terkait adanya laporan Edy Wijaya warga Perumnas Nendagung, Kecamatan Pagaralam Selatan. Berdasarkan laporan yang ada bahwa lahan milik pelapor telah mengalami penyerobotan untuk pembangunan fasilitas Lapter Atungbungsu, yakni jalan menuju bandara tersebut,” terangnya.

Pantauan Kabar Sumatera dilapangan, sejumlah warga tak hanya melakukan pemagaran terhadap akses menuju Lapter Atung Bungsu yang sudah menjadi jalur dua arah. Tetapi pemagaran juga dilakukan dilokasi perkantoran Lapter dengan cara memasang pagar yang terbuat dari bambu.

Selain itu kondisi lingkungan perkantoran hingga ruang lobi, jika diamati sepertinya terbengkalai. Karena lokasi yang ada banyak dijumpai tumpukan sampah dan tanah. Sementara landasan pacu banyak dijumpai anak-anak muda sedang melakukan balapan motor.

Teks : Antoni stefen

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster