Ironisme Bencana Aceh

 169 total views,  2 views today

sarono

OLEH SARONO P SASMITO

HINGGA hari ini pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Provinsi Aceh, sembilan desa masih terisolasi. Akibatnya, tim gabungan penanggulangan bencana sulit mencapai desa-desa tersebut, sehingga sampai  Senin (8/7) hari ini, ribuan warga belum tersentuh bantuan.

Daerah yang masih terisolasi yaitu Kecamatan Ketol, Kabupaten Bener Meriah. Beberapa desa menjadi terisolasi akibat rusaknya jalan dan infrastruktur penghubung menuju desa-desa tersebut. Kini, dua kampung di Kecamatan Ketol, yakni Kampung Serempan dan Kampung Beh, belum bisa diakses sama sekali. Karena itu, warga dua kampung tersebut belum mendapatkan bantuan makanan.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Jumat (6/7) mendata 39 orang meninggal akibat gempa di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, menyebutkan, dari 39 orang meninggal tersebut, 8 orang ditemukan di Bener Meriah dan 31 orang di Aceh Tengah. Selain tercatat 39 orang meninggal dunia, 7 warga dinyatakan hilang dan 275 orang luka-luka. BNPB juga mendata 4.292 rumah rusak parah dan 83 bangunan fasilitas umum rusak.

Kemudian dalam rapat koordinasi di Posko Bener Meriah yang dipimpin Kepala BNPB Syamsul Maarif, Kamis malam, Bupati Bener Meriah melaporkan, tiga warga Aceh Tengah saat kejadian gempa meninggal di Bener Meriah. Itu membuat mereka terdata dua kali, yakni di Bener Meriah dan Aceh Tengah. Tim evakuasi gabungan, Jumat petang, menghentikan pencarian korban gempa karena cuaca tidak memungkinkan. Sabtu (6/7)  kemarin  dilanjutkan evakuasi bagi korban yang belum ditemukan.

Sutopo menambahkan, untuk mempercepat penanganan korban dan pengungsi gempa Aceh, maka BNPB mengirimkan bantuan logistik dan peralatan. Bantuan itu dikirimkan melalui beberapa tempat. Jumat siang, dari Medan dengan menggunakan pesawat terbang Hercules TNI-AU dikirim 13 ton logistik berupa mi instan, sarden, biskuit, kecap, kopi, gula, teh, pembalut, bubur bayi, air mineral, popok bayi/pampers, dan sebagainya, sedangkan dari jalur darat dikirim 3 ton bantuan logistik, termasuk bantuan dari Bank BRI berupa selimut, pakaian sekolah, air mineral, susu, teh, kopi, dan sebagainya. Sebelumnya, Rabu (3/7), BNPB juga mengirimkan tiga truk bantuan melalui jalur darat berupa logpal tenda pengungsi 50 unit, tenda keluarga 50 unit, velbet 100 unit, HT 10 unit, peralatan dapur 400 paket, sandang 300 paket, dan tenda gulung 200 paket.

Melalui Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta, BNPB juga mengirimkan bantuan melalui pesawat kargo sebanyak 24 ton logistik dan peralatan bantuan dari BNPB, Kemsos, dan Bank Mandiri. Bantuan yang dikirimkan dari BNPB berupa tenda keluarga 100 unit, velbet 200 unit, genset 20 unit, tambahan gizi 2.400 paket, sandang 1.000 paket, tenda gulung 1.000 unit, kids ware 1.000 paket, family kit 2.000 paket, kelambu 1.000 lembar, selimut 2.000 lembar, kantong mayat 100 lembar, makanan siap saji 270 dus, dan kasur lipat 600 unit. Dari Kemsos berupa selimut 500 lembar, kurma 2 ton, tenda keluarga 22 unit, tenda pengungsi 4 unit, tenda payung 4 unit, dan sebagainya.

Kita mengharapkan kondisi itu benar-benar bisa  diatasi dengan baik oleh pemerintah. Kemudian mereka yang terisolir dan belum mendapatkan bantuan makanan secepatnya mendapatkan bantuan itu. Sebab jika kelaparan berkepanjangan bukan tak mungkin korban jiwa akan bertambah. Dalam kondisi demikian, maka sikap empati lebih penting dibandingkan tetap kaku pada prosedur. Sebab prosedur yang kaku mendatangkan keterlamban demi keterlambatan yang menambah sakit saudara kita korban gempa.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster