Wisata Sumsel, Antara Ada dan Tiada

 226 total views,  4 views today

ampera

Ilustrasi Jembatan Ampera Palembang / net

PALEMBANG, KS -Matahari masih sedikit malu-malu menampakkan dirinya di langit Palembang,  Jumat (5/7).  Namun kawasan Pasar 16 Ilir, sudah sesak dengan beragam aktivitas. Dua tower diatas Jembatan Ampera berdiri tegak dengan sombongnya, seakan terus memperhatikan aktivitas warga kota empek-empek tersebut di pagi hari.

Di Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB), beberapa pengemudi ketek (sebutan perahu di Palembang) mencoba menawarkan jasanya  kepada calon penumpang yang hendak menyeberang ke kawasan Seberang Ulu.

Sementara dibagian lain, beberapa remaja masih asyik bercengkerama entah apa yang dibicarakan. Semilir angin di Sungai Musi meniup pelan, seakan memanggil setiap orang diajak mengarungi sungai yang menjadi saksi pergantian berbagai peradaban yang pernah lahir di Palembang.

Sebagai kota tua, Palembang banyak menyimpan objek wisata sejarah. Tak hanya wisata sejarah, objek wisata lainya pun tak kalah menariknya. Susurilah Sungai Musi, sungai yang menjadi pusat sembilan sungai lainnya di Sumsel. Sungai dengan panjang 750 kilometer itu, tak kalah eksotiknya dengan Sungai Chao Phraya di Thailand atau Sungai Mekong di Vietnam.

“Sungai Musi tak kalah indahnya, dengan Sungai Chao Phraya di Bangkok, Thailand. Bedanya disana, lebih tertata rapi,” kata Marleni (35), warga Kota Padang, Sumbar yang mengaku dibesarkan di Palembang ketika dibincangi Kabar Sumatera, kemarin.

Pujian  yang sama dilontarkan Wili, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. “Alam di sini masih indah, udaranya sangat sejuk selain itu kicau-kicau burung yang menemani kami rafting terdengar sangat teduh,” ucap Wili.

Bukan hanya Sungai Musi yang bisa ‘dijual’ ke wisatawan. Laman wikipedia mencatat di sepanjang Sungai Musi saja ada Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II,  Kampung Kapiten, Pulau Kemaro dan lainnya.

Sementara di kabupaten dan kota, ada Gunung Dempo, air terjun Lematang, Cughub Mangkok, Cughub Embun, kompleks Megalit di Tegur Wangi di Pagaralam. Kemudian Candi Bumi Ayu dan Bedegung di Muara Enim, Danau Ranau dan Gunung Seminung di OKU Selatan, Teluk Gelam di OKI dan banyak potensi wisata lainnya.

Namun sayang walau kaya akan potensi wisata, tetapi potensi itu belumlah menjadi andalan bagi pemerintah kabupaten dan kota untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Buktinya Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel merelease, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung di Sumsel melalui pintu masuk Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, pada Oktober 2012 hanya 644 orang.

Jumlah wisman ini, mengalami penurunan sebesar 26,06 persen dibanding pada September 2012. Bahkan jika dibandingkan dengan bulan yang sama di 2011, jumlah wisman yang datang juga mengalami penurunan sebesar 12,74 persen, yaitu dari 738 orang menjadi menjadi 644 orang.

“Sementara tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Sumsel, pada Oktober 2012 rata-rata 47,18 persen atau turun 2,25 poin dibanding TPK hotel di September 2012 sebesar 49,43 persen. Rata-rata lama mereka menginap pada hotel berbintang di Oktober 2012 mencapai 1,57 hari, mengalami penurunan sebesar 0,15 hari dibandingkan rata-rata lama menginap tamu pada September 2012,” jelas Kepala BPS Sumsel, Haslani Haris.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel juga, tidak menampik minimnya wisatawan ke Sumsel itu. Kepala Disbudpar Sumsel, Toni Panggarbesi menyebut tahun 2012 lalu, jumlah wisatawan yang datang ke Bumi Sriwijaya ini masih terbilang minim.

“2012, wisatawan yang berkunjung ke Sumsel sekitar 42 ribu. Tahun ini, kita targetkan kunjungan wisatawan mencapai 120 wisatawan,” kata Toni ketika dibincangi beberapa waktu lalu.

Sepinya wisatawan ke Sumsel menurut masyarakat, dikarenakan banyak objek wisata yang belum tergarap maksimal. “Banyak aset wisata Sumsel, belum tergarap maksimal. Di Palembang saja, Bukit Siguntang kurang terawat, sementara Kawah Tengkurep fasilitas minim dan banyak rusak. Sedangkan Sungai Musi, belum tertata dan kotor,” kritik Nhova Yunita Oesman, mahasiswa FKIP Unsri.

Teks    : Dicky Wahyudi
Editor  : Imron Supriyadi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster