Masuk Rumah Hantu, Ongkos Rp 5.000

 1,701 total views,  2 views today

istana-hantu

Foto : Dok IST

PALEMBANG | KS-Anak-anak dan remaja antre memasuki stand Istana Keramat berwujud rumah hantu saat Festival Sriwijaya ke-XXI di Benteng Kuto Besak (BKB) berlangsung. Dengan ongkos Rp 5.000, tiap pengunjung bisa sepuasnya beradu nyali dengan penunggu rumah hantu.

Hari Jumat, 5 Juli 2013, cuaca sedikit berawan di tepian Musi persisnya di BKB. Namun, belasan anak-anak dan anak baru gede masih saja tampak berdiri di depan pintu Istana Keramat. Kata mereka, itu rumah hantu. Pun saat jam menunjuk pukul 16.00 WIB, pengunjung silih berganti memasuki rumah hantu.

“Tadi, aku keliling dalam rumah hantu ini. Ruangannya gelap nian. Ya, sambil adu nyali juga. He..he..he..,” Ani (14), seorang bocah yang baru saja keluar dari rumah hantu.

Uji nyali di rumah hantu rupanya baru kali ini dialami Ani. Siswi salahsatu sekolah negeri di kota ini pun sepertinya memeroleh pengalaman baru saat hari liburan tahun ajaran baru.

“Aku ke sini untuk ngisi waktu liburan,” cetusnya.

Stand rumah hantu yang dikunjungi Ani ini ukurannya tak lebih dari seukuran 3 x 4 meter. Rumah ini bertutup kain bewarna hitam. Di saat pengunjung berada di dalamnya, otomatis mereka akan bertemu aneka ‘hantu-hantu’ sejenis pocong, tuyul, suster ngesot, dan kuntilanak.

“Waktu aku di dalam rumah hantu ini, yang paling seram gundorowo. Aduh, ngeri sekali lihatnya,” ucap Ani.

Ada yang penasaran, tapi ada pula yang ketagihan. Namun, hebatnya lagi pengunjung yang singgah ke stand rumah hantu agaknya tak pernah bosan-bosannya ber-uji nyali ria.

“Kalau Anda tak percaya, ya silakan masuk. Dijamin, bulu kuduk pun bisa merinding,” Doni, penjaga stand rumah hantu menawarkan.

Walaupun rumah hantu ini sebuah permainan untuk uji nyali di badan, namun tutur Doni, pengunjung yang masuk ke rumah itu ada syaratnya. Anak yang berusia di bawah 3 tahun, Ibu hamil, dan mengidap sakit jantung dilarang untuk berkunjung ke dalam rumah hantu.

“Syarat lainnya ya kalau mau masuk bayar dulu Rp 5.000. Nanti uang itu yang ambilnya tuyul…Ha..ha..ha..,” sebut Doni sambil tertawa.

Bertualang di rumah hantu menjadi kesan tersendiri bagi pengunjungnya. Ervi, misalnya. Gadis 19 tahun ini pun cukup tertarik memasuki rumah hantu yang misterinya gila nian. Selain harga masuknya terjangkau, Ervi bahkan menikmati betul apa yang disuguhkan stand satu ini.

“Stand di festival ini bagus-bagus. Tapi, saya lebih suka berkunjung ke rumah hantu ini. Juga saya lihat standnya tak pernah sepi,” Ervi memuji.

Bila petang menjelang malam, lanjut Ervi, stand Istana Keramat pun selalu diserbu warga baik anak-anak maupun orang dewasa.

“Ya, semoga tahun depan ada lagi Istana Keramat ini,” pinta Ervi.

Nyonya Resti (29), seorang petugas jaga stand Badan Arsip Daerah Provinsi Sumatera Selatan kepada Harian Umum Kabar Sumatera berkata, Festival Sriwijaya yang digelar rutin setiap tahun ini diharapkan dapat menyajiikan hiburan merakyat. Tak kalah pentingnya adalah gambaran peristiwa zaman Tempoe Doelo pun sengaja dipajang di stand Badan Arsip Daerah ini.

“Lihatlah, itu ada urutan foto gubernur KDH TK I Sumsel mulai tahun 1945-1946 Dr AK Gani hingga Gubernur Sumsel H Alex Noerdin. Lalu, banyak lagi foto-foto Palemabang Tempoe Doloe. Ada pembangunan jembatan  Kertapati tahun 1930 hingga Jembatan Ampera tahun 1970-an,” Resti menyampaikan.

Berkayuh-kayuh di stand Arsip ini ada yang menarik. Cerita Resti, ada pengunjung yang lanjut usia sedikit ‘terpangah’ setelah melihat foto-foto Palembang tempoe Doelo di dinding stand.

“Tadi, ada Ibu lanjut usia itu masih menyimpan gambarnya dengan salah satu gubernur yaitu H Rosihan Arsyad. Dia senang sekali melihat foto tersebut,” ucapnya.

TEKS/FOTO:HAIRUNNISA.EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster