“Saya tidak mau Ngemis pada Pemerintah”

 104 total views,  3 views today

*Parmi, Penjual Dogan di Perumnas

dagan-ok

Parmi Penjual Dogan di Perumnas Palembang. / Foto : TUTY HENDRIYANI (Mg)

“Saya masih punya harga diri. Saya tidak mau ngemis-ngemis kepada pemerintah. Cukuplah Tuhan yang tahu bagaimana ketidakadilan pemerintah,” Parmi, Penjual Dogan di Perumnas Palembang

Ketika Kabar Sumatera menyambangi Parmi (48), tak satupun pembeli yang terlihat di warung miliknya. Parni adalah salah satu pemilik warung yang hingga kini menjual dogan di Perumnas Palembang. Sembari membakari kulit dogan (batok kelapa muda) di sudut jalan, Parmi mulai berkisah tentang perjalanannya hingga bisa menjadi penjual dogan. Sejak sepuluh tahun lalu, hingga kini hari-hari Parmi waktunya dihabiskan dengan menjual dogan. “Aku berdagang disini sejak jam sembilan pagi sampai jam lima sore,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, mungkin menjual dogan dipandang sebagai pekerjaan yang tidak bergengsi. Tapi bagi Parmi dan Muktar, menjual dogan bukan pekerjaan yang membuatnya malu. “mengapa harus malu?  Daripada maling. Aku tidak malu sama sekali. Disyukuri saja karena sampai sekarangpun masih bisa makan. Kenapa harus malu?” ujarnya.

Menjadi penjual dogan bukan cita-cita Parmi. Tapi putaran nasib berkata lain.  Sepuluh tahun sudah Parmi menjadi penjual dogan, tepatnya sejak ia menikah dengan Muktar. “Selepas menikah, aku dan suami punya kebun dogan sendiri. Biasanya suamiku yang memanjatnya dan menjual ke tukang dogan. Lama kelamaan akhirnya kami memutuskan untuk berjualan sendiri,” ujarnya kepada Tuty Hendriyani dari Kabar Sumatera, kemarin, Selasa (2/7).

Ibu dari dari 5  anak ini ini menuturkan, meski menjual dogan, tetapi sepasang suami isteri ini telah mengantarkan putra putrinya sampai bangku Sekolah Menengah Pertama  (SMP) dan Skeolah Menengah Atas (SMA). Menurutnya, anak tertuanya, sekarang telah bekerja di Bangka Belitung.  Sedangkan anak keduanya telah lulus SMA dan sekarang sedang mencari kerja. “Anak saya yang ketiga dan keempat sudah di bangku SMA. Dan yang kelima masih duduk di bangku SMP,” ujar Parmi yang hanya sempat lulus di bangku SMEA.

Sebagai pendamping, Muktar hingga sekarang menjadi buruh lepas di sejumlah pabrik. Jenis pekerjaan yang dijalani suami Parmi ini, banyak orang menyebutnya sebagai pekerja serabutan. Tetapi begitulah cara Parmi dan suaminya untuk bertahan hidup dengan uang halal.

Untuk menambah penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup, Parmi tak bisa sendirian. Hadirnya seorang suami yang membantu perjalanan hidupnya menjadi kerinduan yang selalu dinantikan. “Tidak bisa bekerja yang lain, karena jualan sendirian, makanya suami saya kerja serabutan untuk menambah penghasilan. Yang penting cukup untuk kehidupan sehari-hari,” ujranya.

Di tengah kesibukannya sebagai pekerja serabutan, Muktar tetap menyempatkan diri membantu Parmi untuk menjual dogan.  Namun Muktar tidak menunggu warung yang ia miliki, melainkan setiap harinya, Muktar harus memanjat pohon kelapa untuk mengambil dogan. Baik utnuk dijual oleh isterinya, atau untuk dijual kembali ke padagang lainnya.

Meski dengan cucuran keringat dan jerih payah yang lelah, Parmi mengaku tak mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Meskipun, niat hati dan cita-cita Parmi dan suaminya tetap menggantung tinggi diatas langit, agar anak-anaknya bisa menyesaikan sekolah di perguruan tinggi. Tapi, Parmi dan suaminya ibarat pepatah, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan sampai.

Ketika disinggung mengenai BBM yang sudah seminggu terakhir naik, Parmi mengaku tidak mendapatkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).  Dengan pembagian BLSM yang tidak sampai di keluarganya, Parmi menilai pamerintah tidak adil. “Pemerintah sangat tidak adil. Saya tidak dapat jatah BLSM.  Apa saya ini orang kaya sehingga tidak dapat jatah BLSM? Sejak dulu, dari mulai raskin sampai BLSM saya tidak pernah dapat. Sakit sekali rasonya,” tuturnya sambil terisak yang tak dapat menahan gejolak amarah yang ada dihatinya.

Namun begitu, Parmi tetap terus bersyukur. Sebab dengan berjualan dogan, Parmi, suami dan anak-anaknya hingga kini tetap bisa bertahan hidup.“Harus banyak-banyak bersyukur, walaupun hanya berjualan dogan. Tapi saya masih punya harga diri. Saya tidak mau ngemis-ngemis kepada pemerintah. Cukuplah Tuhan yang tahu bagaimana ketidakadilan pemerintah. Tanah yang kami tempati untuk berjualan inipun nyewa. Kok pemerintah tidak juga bisa menilai, mana yang layak  dapat BLSM dan mana yang tidak. Tapi sudahlah. Semoga nanti kehidupan saya berubah,” ujar Parmi menerawang, setengah protes terhadap kebijakan pemerintah yang tidak adil.

Ketika ditanya mengenai harapannya ke depan, Parmi cuku lama terdiam. Dengan mata yang berkaca-kaca ada satu keinginan agar hidup dia dan keluarganya berubah. “Semoga kehidupan saya berubah. Berkecukupan. Dan tidak seperti ini terus. Anak-anak saya harus sukses dan tidak seperti saya yang hanya berjualan dogan,” ujarnya di akhir percakapan.

 

 

TEKS : TUTY HENDRIYANI (Mg)

EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster