Penumpang Sepi, Beralih Cari Pasir Di Sungai

 507 total views,  2 views today

lantaran-penumpang-ojek-sepi,-beberapa-warga-beralih-profesi-menjadi-pencari-pasir-di-sungai

Lantaran penumpang ojek sepi, beberapa warga beralih profesi menjadi pencari pasir disungai. / Foto : Siswanto/KS

MUARAENIM KS – Penghasilan sebagai tukang ojek tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membuat Supriadi (35), dan beberapa rekannya yang lain beralih profesi menjadi pencari pasir di Sungai Enim.

“Sekarang ini, penumpang ojek sepi. Kalo kito masih tetap ngojek bisa tidak makan. Jadi, aku sama kawan yang lain beralih profesi sementara cari pasir dan batu koral di sungai. Apalagi sekarang ini, sungai lagi surut, jadi enak cari pasir,” tutur Supriadi disela-sela aktifitasnya mencari pasir di Sungai Enim Desa Lingga, Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muaraenim, kepada Kabar Sumatera, kemarin.

Supriadi mengaku, dirinya mencari pasir baru sekitar tujuh bulan. Pekerjaan ini dilakukannya, karena tidak ada pekerjaan lain lagi yang bisa ia kerjakan, karena dirinya hanya  tamatan Sekolah Dasar.

Profesi tukang ojek, kata dia, sebelumnya begitu menjanjikan, tukang ojek masih sepi. Namun, sekarang ini hampir disetiap tempat dan sudut di Pasar Tanjung Enim terdapat tukang ojek. Sehingga, membuat penghasilannya semakin berkurang. Bahkan tidak mencukupi lagi untuk menghidupi keluarga.

“Kalo dulu ngojek enak, karno yang ngojek masih sepi. Jadi penghasilan kito lumayan tinggi. Tapi, sekarang jingoklah bae, dimano-mano ado tukang ojek. Karno itulah, aku berenti dulu ngojek,” terang Supriadi.

Senada dituturkan Halim (45), rekan Supriadi mengojek yang juga beralih profesi menjadi pencari pasir mengatakan, dahulunya dirinya berprofesi sebagai tukang ojek. Setelah  tukang ojek semakin ramai, penghasilan sehari-harinya semakin berkurang. Uang yang didapat tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan keluarga.Maka, dirinya bersama rekannya yang lain mencoba mengambil pasir dan batu di dalam sungai enim.

“Sehari sekitar 6-7 kubik pasir dan batu koral kito dapatkan. Untuk hargo  sekitar Rp25.000/ kubik, penjualannyo sendiri tidak tentu. Kadang laku, kadang jugo idak laku samo sekali,” beber Halim.

 

Teks : SISWANTO

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster