Candi Bumi Ayu, Menanti Kesungguhan Pemerintah

82 total views, 3 views today

candi-tanah-abang

Foto : Indra Setia haris/KS

PALI KS – CandiBumi Ayu secara administratif terletak di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Propinsi Sumatera Selatan.

Sebuah desa dipinggiran Sungai Lematang dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani karet. Untuk menuju lokasi Desa Bumi Ayu sendiri, tidak begitu sulit.

Bila melalui Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), cukup masuk dari Simpang Belimbing. Sekitar 3km dari Simpang Belimbing, kita akan bertemu Jembatan Sungai Lematang.

Desa tersebut berbatasan dengan Desa Tanah Abang Selatan di sebelah Utara, Desa Kemala (Prabumulih Barat) di sebelah Timur, Desa Siku di sebelah Selatan dan Desa Pantadewa di sebelah Barat. Sedangkan secara astronomis, situs 5,5’45” BT.°9,5’59” LS dan 104°tersebut terletak pada 3

Kompleks Percandian Bumiayu memiliki 10 (sepuluh) gundukan tanah yang diduga berisi struktur bata sisa bangunan kuno. Dari 10 (sepuluh) gundukan tanah tersebut 4 (empat) diantaranya berukuran cukup besar, yaitu gundukan Candi 1, Candi 2, Candi 3 dan Candi 8. Kawasan situs dialiri oleh Sungai Lematang di sebelah Timur dan dikelilingi oleh sungai-sungai kecil, yaitu: Sungai Piabung, Sungai Lebak Jambu, Sungai Lebak Tolib, Sungai Lebak Panjang, Sungai Lebak Siku dan Sungai Siku Kecil. Keseluruhan sungai-sungai tersebut saling berhubungan membentuk parit yang mengelilingi kompleks percandian Bumiayu dan melalui Sungai Siku bermuara di Sungai Lematang.

Hanya Dikunjungi Turis Lokal

Meski kurang promosi, tapi keberadaan candi ini sudah menjadi kebanggaan bagi warga lokal. banyak masyarakat menjadikan tempat ini sebagai sarana berlibur yang murah meriah. Sayangnya, minimnya sarana bersantai menyebabkan minimnya minat wisatawan untuk datang.

Pemandangan tidak sedap pun nampak jelas persis didepan candi. Tumpukan karet basah dan kering berhamparan di depan gedung koleksi candi. Warga desa Bumi Ayu dengan leluasa membawa karetnya ketengkulak yang menunggu di lapak. Beberapa warga tampak asyik menimbang karetnya yang masih basah.

Untuk menjadikan komplek candi banyak dikunjungi wisatawan, diperlukan campur tangan pemerintah baik pusat, provinsi hingga daerah untuk memperindah serta memenuhi barbagai macam fasilitas penunjang lainnya.

Adnan (45), juru kunci situs tersebut kepada wartawan mengatakan, situs ini terdiri dari 10 candi. Namun saat ini baru di ekskavasi tiga candi. “Baru tiga yang digali, tapi katanya akan diekskavasi lagi, tapi belum tahu kapan,” ujar Adnan.

Sedangkan Andi, salah satu petugas yang ditemui juga mengakui hal ini. Andi mengatakan areal situs ini seluas 75 hektar dan baru dibebaskan hanya 7,5 hektar.

Andi juga mengungkapkan, situs candi ini sudah dilindungi oleh pemerintah pusat dan dimasukkan dalam cargar budaya yang harus dilindungi. “Bahkan para peneliti dan ahli dari Jakarta sudah menyusun DED (Detail Engineering Design),” ungkap Andi.

Terkait penyusunan DED inilah yang membuat hati Andi miris. Menurutnya, dengan telah disusunnya DED ini, seharusnya pemerintah menggunakan DED ini sebagai panduan dalam membangun. “Jangan semaunya saja. DED ini disusunkan sebagai acuan, agar cagar budaya ini terlindungi,” ujarnya.

Andi mencontohkan pembangunan beberapa fasilitas pendukung seperti WC dan lainnya yang mengabaikan DED tersebut. Hal ini menjadi penting karena tidak menutup kemungkinan dibawah bangunan tersimpan struktur bangunan. “Contohnya didepan sana pak, warga membuat septic-tank, pas menggali ditemukan struktur bangunan. Padahal itu area rumah warga,” urainya.

Kebijakan pemerintahan mendirikan bumi perkemahan di seputar candi pun menurut Andi sudah melanggar aturan. “Jelas melanggar, sebab lokasi untuk kemah ada tempat sendiri, bukan dekat candi. Siapa bisa menjamin candi aman dari tangan jahil kalau ribuan anak-anak berkemah,” jelasnya.

Dibalik kekurangan tersebut, setiap bulan sedikitnya 300 pengunjung mendatangi situs ini. “Yang pasti warga dari kabupaten sini yang sekedar bersantai atau berfoto. Tapi kalau yang datang pakai nanya-nanya kayak gini, gak sampai seratus orang per bulan,” ujar andi yang didampingi Endi Dwi Sarjoko sesama penjaga.

Ditambahkan Andi, butuh perhatian serius pemerintah untuk memelihara candi. “Bukannya pemerintah tidak perhatian, tapi belum sungguh-sungguh. Pembangunan jalan cor ini juga bentuk perhatian pemerintah, tapi kan tidak cukup cuma jalan. Pelaksanaan DED yang sudah disusun ahli itu lebih penting,” pungkasnya.
Tidak ada minat remaja tersebut untuk tahu lebih banyak tentang candi. Seakan mereka tidak hirau dengan sekeliling mereka. “Menghabiskan penat abis ulangan Om” ujar Fitri, yang mengaku berasal dari Desa Banuayu Kec Rambang Dangku Muara Enim.

Para remaja ini berharap, pemerintah dapat menyediakan pondok-pondok untuk beristirahat dan fasilitas pendukung lainnya. “Bagusnya ada pondok berteduh, trus kolamnya ada perahu, jadi bisa main,” tambah Irawan lagi.

Dari pemantauan wartawan terhadap ketiga candi yang ada, nampak bahwa candi-candi tersebut terawat bersih. Meskipun banyak pohon-pohon besar, namun daun kering sangat jarang ditemukan di hamparan rumput disekitar candi. Demikian pula didalam pagar candi. Tampak betul sering dibersihkan petugas.

Ketiga candi itu, hanya tersisa bangunan bagian bawahnya saja. Sementara struktur bangunan atasnya sepertinya sudah hancur. Hal ini bisa dimaklumi, karena struktur candi tidak seperti candi kebanyakan yang terbuat dari batu. Candi Bumi Ayu ini memiliki keunikan karena terbuat dari tanah liat merah.

Meskipun demikian, bangunannya kokoh seperti tumpukan batu bata. Arca, ornamen dan kepingan bata tersimpan rapi didalam gedung koleksi. Sedikitnya delapan arca dalam ukuran besar tersimpan disini. Salah satunya arca Kala. Patung berbentuk manusia tertawa yang biasa ditemukan diatas pintu candi-candi yang ada di pulau jawa. Namun Kala yang ada disini terbuat dari tanah liat.

Teks      : Indra Setia Haris

Editor  : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com