Kualitas Kopi Pagaralam Gagal Tembus Pasar Dunia

 1,295 total views,  6 views today

kopi

Ilst Kopi

PAGARALAM | KS-Rendahnya kualitas biji kopi yang ada mengakibatkan biji Kopi Pagaralam sulit untuk mencapai pasar ekspor padahal daerah  ini merupakan salah satu penghasil komoditi Kopi terbesar di Sumatera Selatan.

” Rendahnya kualitas biji kopi disebabkan banyaknya penggunaan bahan kimia di saat melakukan perawatan. Selain itu, sistem pengolahannya pun tergolong kurang baik, sehingga tidak dapat memenuhi persyaratan kualitas ekspor,” ungkap Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kota Pagaralam, Drs H Komli Samsago, kemarin (19/6).

Dikatakanya, kopi asal Pagaralam cukup terkenal di belahan dunia terutama Jerman dan Belanda.  Akan tetapi berkat ketatnya seleksi pengawasan kualitas hingga menjadi penghambat pengiriman komoditi ini ke benua Eropa tersebut.

“Sejauh ini kita sudah pernah melakukan kerjasama dengan pihak Jerman dalam penyediaan kopi asal Pagaralam dengan ukuran satu kontainer atau 25 ton per bulan,” terangnya.

Sementara disaat kontrak kerjasama berjalan,  dari hasil tes kualitas biji kopi asal Pagaralam ternyata cukup banyak mengandung resedu jenis bahan kimia pembasmi rumput. “Sebetulnya mereka sudah pernah melakukan penelitian terhadap biji kopi asal Pagaralam, dan hasilnya sudah banyak tercemar bahan kimia berbahaya bagi kesehatan. Sehingga pihak Jerman batal melakukan kerjasama tersebut,” terangnya lagi.

Selain kandungan zat kimia, lanjut dia, iklim yang buruk juga telah mempengaruhi kualitas biji kopi yang dihasilkan petani setempat. “Memang akibat rendahnya pemahaman masyarakat tentang dampak penggunaan bahan kimia dan pengolahan instansi menjadikan penggunaan racun untuk mengolah lahan yang ada,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Sarana dan Produksi Rudianto mengatakan, sejauh ini pihaknya mengalami kesulitan untuk membatasi para petani khsususnya petani kopi untuk tidak menggunakan bahan kimia dalam merawat tanaman. Sementara disisi lain, mereka juga ingin praktis maupun hasil yang memuaskan walaupun kualitas hasil panen rendah.

“Sebelumnya kita pernah mengekspor biji kopi ke luar negeri tahun 1997, tapi itu tak berlangsung lama. Mengingat hasil produksi yang ada tidak bisa memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh induk perdagangan dunia,” kata Rudi.
TEKS : ANTONI STEFEN

EDITOR : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster