Rakyat melarat Golput menguat

 203 total views,  4 views today

golput

KAYU AGUNG, KS -Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumsel 6 Juni mendatang, akan beriring dengan Pemilukada di sejumlah kabupaten lainnya, (Kabupaten Empat Lawang, Banyuasin, OKI dan Lahat). Dari data perjalanan Pemilukada, selalu ada ancaman golongan putih (Golput). Sebagian menyebutkan, persoalan ekonomi menjadi alasan golput.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), seperti juga 4 kabupaten lainnya, yang akan menggelar Pemilukada Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) pada 6 Juni mendatang. Seperti pada pesta demokrasi sebelumnya, baik Empat Lawang, Lahat, Banyuasin dan OKI, ancaman golongan putih alias golput (rakyat yang tidak memilih) selalu muncul. Bahkan, Pemilukada di OKI diperkirakan bakal meningkat sekitar 25%. Di Palembang, saat Pemilihan Wali Kota beberapa waktu lalu, angka golput hampir mencapai 40%. Perkiraan ini, menurut beberapa sumber di OKI yang berhasil dihimpun Kabar Sumatera, mengalami peningkatan, dibandingkan pada Pemilukada 2008 yang mencapai hanya 21,30 %.

Namun, sikap golput di OKI di tahun 2008, menurut sumber Kabar Sumatera, sebagian warga bukan disebabkan enggan memilih, tetapi disebabkan cuaca. Seperti diketahui, pada tahun 2008, ketika pesta demokrasi berlangsung, cuaca di OKI sebagian desa diguyur hujan. Akibatnya hamir separo warga memilih diam di rumah, dari pada mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Namun menurut Bambang, salah satu warga di Pedamaran menyebutkan, golput di OKI pada Pemilukada tahun ini diperkirakan bukan karena cuaca, melainkan faktor ekonomi. Dengan kondisi warga yang sedang mengejar kebutuhan keseharian, menurut Bambang, dipastikan sebagian warga memilih mencari nafkah dari pada datang ke TPS.  “Perekonomian warga, terutama kalangan bawah masih belum stabil menjelang Pemilukada. Ditambah lagi naiknya harga kebutuhan sehari-hari, bisa juga membuat warga malas memikirkan Pemilukada. Mereka lebih baik mencari makan. Kalau warga melarat atau miskin, golput akan bisa semakin besar,” ujarnya.

Pantauan Kabar Sumatera di lapangan, ketidakstabilan faktor ekonomi ini terjadi pada harga karet, sembako, BBM dan lain-lain.  Jika sampai pelaksanaan Pemilukada kondisi ini belum stabil, menurut sejumlah sumber di OKI, diperkirakan warga OKI bakal mencari nafkah dengan mengadu nasib ke luar daerah, seperti Lahat, Pendopo bahkan keluar Sumsel, seperti Jambi, Pekanbaru dan lain-lain.

“Terpaksa kami berdagang ikan asin keluar OKI seperti ke Pendopo untuk menutupi kebutuhan hidup. Jika dapat hasil, kami pulang dan ikut Pemilukada. Tapi sebaliknya, jika tanggung mungkin tidak pulang, apalagi sebentar lagi bakal masuk Bulan Ramadhan dan lebaran, kondisi kami suasananya makin terpuruk,” ujarnya.

Begitupun dengan Anton salah seorang warga Teluk Gelam OKI menyatakan, jika saat ini harga karet masih belum stabil. Menurut Anton, harga karet sampai saat ini tidak stabil. Harganya hanya berkisar Rp.7000. “Saya ini paroan dengan menyadapkan kebun orang lain. Jadi hanya Rp.3500 per-kilo, terpaksa saya sering keluar daerah untuk saat ini, dengan bekerja menjadi tukang bangunan, ya, lumayan dari menyadap karet,” ucapnya.

Atas dasar itu, Anton mengatakan, tidak bisa memastikan apakah dirinya dapat ikut Pemilukada atau tidak. Sebab kebutuhan ekonomi lebih penting dari Pemilukada. “Ya, jika sedang berada di desa saya nyoblos akan tetapi jika sedang di luar terpaksa golput,” katanya.

Sementara itu, Idam Khalik kemarin (28/5) mengatakan, jika saat ini pihaknya belum dapat memastikan berapa suara yang bakal golput dalam Pemilukada serentak OKI. “Kami sudah semaksimal mungkin dalam melakukan sosialisasi pentingnya Pemilukada kepada bagi masyarakat. “Karena pesta rakyat, bukan hanya memilih pemimpin sekarang, tetapi ini juga akan menentukan nasib lima  tahun ke depan, jadi sangat disayangkan jika masyarakat golput dalam Pemilukada tahun ini,” tegasnya.

Pihaknya menghimbau bagi masyarakat untuk turut serta dalam menentukan pemimpin ke depan dengan cara tidak golput. Walau demikian, KPUD OKI optimis masyarakat akan mengikuti Pemilukada serentak, meski tetap diakui bahwa pihaknya cukup khawatir atas kemungkinan adanya kenaikan golput untuk Pemilukada OKI yang mencapai 25 %.

Terpisah, Syaiful Islam, mengharapkan proses jalannya Pemilukada di Sumsel dan di sejumlah Kabupaten lainnya berjalan aman dan nyaman serta kondusif, hingga menghasilkan produk demokrasi yang menjadi harapan bersama. “Dengan menjaga kenyamanan dan keamanan, diharapkan, proses demokrasi ini bisa berjalan dengan baik sesuai dengan harapan kita bersama, tanpa ada ke-khawatiran golut atau tidak golput. Kita melihat warga sudah cerdas, sehingga hal yang menganggu jalannya Pemilukada, insya Allah tidak terjadi,” tegasnya.**

TEKS       : EMIL HIDAYAT

EDITOR : MUTAQIEM ESKA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster