Krisis Air Bersih Hantui Sumsel

 253 total views,  2 views today

hl

Ils Dok KS

PALEMBANG, KS-Selain nama Bumi Sriwijaya, Sumatera Selatan (Sumsel) juga dikenal dikenal dengan sebutan Batang Hari Sembilan. Itu karena, ada sembilan sungai besar yang mengalir di Sumsel dan bermuara ke Sungai Musi. Ke sembilan sungai itu yakni Sungai Musi, Ogan, Lematang, Kelingi, Lakitan, Semangus Rawas dan Batang Hari Leko.

Walau pun ada sembilan sungai besar dan ratusan sungai kecil, ternyata air bersih masih menjadi barang bahal bagi masyarakat Sumsel terutama di daerah pedalaman. Sampai saat ini, Sumsel masih krisis air bersih.

Banyak sungai terutama di daerah hulu sebut Eddy, yang menyempit bahkan tertutup. Sehingga saat musim kemarau warga kesulitan air,  namun di musim hujan justru menjadi banjir. Banjirnya pun jelas dia, sampai ke Palembang.

“Krisis air ini, ancaman serius bagi umat manusia termasuk bagi masyarakat Sumsel. Saya yakin, bisa mengatasi ini. Karena selama dua periode memimpin Kota Palembang, dari 2 juta penduduk Kota Palembang, 90 persennya sudah bisa menikmati air bersih,” jelas Eddy beberapa waktu lalu.

“Jangan heran, jika kita menemukan masyarakat yang hidup di tepian sungai, khusunya di Sungai Musi masih ada yang harus membeli air bersih yang harganya lebih tinggi dari Kota Palembang. Ini akibat air sungai, tidak layak untuk dikonsumsi. Selain itu tidak ada teknologi, yang mengelola air sungai agar layak di konsumsi,” sambungnya.

Harusnya kata Eddy, itu tidak terjadi. Dengan sembilan sungai besar yang mengaliri Sumsel, seharusnya menjadi sumber air yang berlimpah untuk bisa diolah sebagai air bersih.

“Karena kesalahan pengelolaan air, Sumsel krisis air bersih. Masih banyak masyarakat, terpaksa membeli air bersih dengan harga yang cukup tinggi. Bahkan harganya lebih mahal dibandingkan harga bahan bakar minyak (BBM),”ungkapnya.

Untuk mengatasinya menurut Ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel ini, bisa dilakukan dengan memperbaiki atau menyediakan perusahaan air bersih di daerah. Ia melihat banyak daerah yang belum melakukan itu, padahal perusahaan air bersih di daerah memegang peranan yang sangat mendasar.

 “Krisis air ini dapat diatasi. Pertama sekali dalam jangka pendek yang harus dilakukan adalah memperbaiki atau menyediakan perusahaan air bersih di daerah. Hingga kini masih banyak sekali daerah di Sumsel yang belum belum memiliki perusahaan pengelolaan air bersih, kalaupun ada belum berjalan secara baik,” sarannya.

Teks     : Alam Trie Putera

Editor : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster