Kapolda Sumsel : Kejahatan Terosisme Jaringan yang Extraordinary

 211 total views,  2 views today

foto-teroris-di-griya

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Drs Saud Nasution dalam paparannya terkait penanggulangan teroris dan upaya antisipasi di Di Griya Agung, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, Selasa (21/5), pagi. | Foto : Bagus KS

Palembang,- KS-Indonesia sejak tahun 2000 hingga saat ini kerap mengalami serangkaian serangan terorisme.

Hal tersebut diungkapkan Kapolda Sumsel, Irjen Pol Drs Saud Nasution dalam paparannya terkait penanggulangan teroris dan upaya antisipasi di Di Griya Agung, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, Selasa (21/5), pagi.

“Kejahatan teroris itu banyak mengakibatkan kerugian diantaranya jatuhnya korban jiwa, korban cacat seumur hidup, kerugian harta benda. Selain itu menurunkan wibawa pemerintah dan citra bangsa, mempengaruhi investasi dan ekonomi di dalam negeri, mempengaruhi hubungan luar negeri serta menimbulkan efek trauma psikologis (rasa takut) yang meluas kepada masyarakat,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjutnya, harus ada pihak yang mendukung bukan hanya dari dalam negeri, namun juga dari  luar Negeri.

“Ya, karena kejahatan terorisme saling berhubungan antara negara yang satu dengan negara lainnya. Keterkaitan antar tersangka yang berbeda kewarganegaraan, dukungan pendanaan antar negara, pasokan senjata dan bahan peledak via perbatasan, lokasi pelatihan paramiliter lintas negara, radikalisasi global lewat internet, semuanya itu mengisyaratkan bahwa kejahatan terorisme adalah bagian dari permasalahan global, ujarnya

Ia menambahkan, sejak Bom Bali satu pada  tahun 2002 lalu, Polri telah banyak bekerjasama dengan negara-negara lain khususnya kerjasama P to P (Police to Police). “Kerjasama ini telah berkembang dan berjalan sampai dengan hari ini,” ujarnya.

 Lanjut Irjen Pol Drs Saud Nasution, ada strategi penanggulangan teror.  Menurutnya, strategi penanggulangan saat ini belum mampu menyentuh akar masalah dan belum memperhatikan posisi masyarakat yang memiliki 2 (dua) potensi antagonis.

Potensi pertama, publik yang umumnya moderat dapat menjadi simpatisan jaringan radikal akibat penegakan hukum yang tidak profesional atau sebaliknya.  Potensi kedua, publik bersimpati dan menjadi mitra Polri dengan penegakan hukum yang profesional.  Strategi tersebut tentu saja berskala besar, cakupannya luas dan jangkauannya jauh ke depan,” tuturnya.

Kejahatan terorisme, masih katanya, merupakan bagian dari kejahatan jaringan yang extraordinary, tidak dapat ditangani secara sektoral dan parsial oleh Polri saja apalagi hanya Densus 88 AT Polri. Menurutnya, permasalahan bangsa ini memerlukan partisipasi aktif, kerjasama dan koordinasi serta pemberdayaan seluruh komponen negara baik Polri, masyarakat dan instansi lintas sektoral lainnya.

“Harus ada dukungan aturan hukum, dukungan yang kuat dari Pemerintah, kemitraan Polri dengan masyarakat dalam pencegahan, penegakan hukum yang profesional serta program deradikalisasi yang tepat dengan improvisasi.

Lanjutnya, kebijakan Polri dalam penanggulangan teror mempunyai program revalita, seperti pengungkapan dan penyelesaian kasus-kasus menonjol, meningkatkan pemberantasan preman, kejahatan jalanan, perjudian, narkoba, illegal logging, illegal fishing.

“Selain itu illegal mining, human trafficking dan korupsi, penguatan kemampuan densus 88 anti terror, pembenahan kinerja reserse dengan melanjutkan program “keroyok reserse”, implementasi struktur organisasi POLRI yang baru, dan sebagainya,” tutupnya.

Acara tersebut dihadiri oleh Wagup Sumsel, Edy Yusuf, Umar Said, tokoh masyarakat, seluruh jajaran pemprov, Pemkot, dan masyarakat.

Teks      : Siti Hawa

Editor  : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster