Awas, Gang Motor

 446 total views,  4 views today

geng-motor

Ilustrasi Geng Motor | Foto : net

PALEMBANG, KS- Dalam satu pekan terakhir, masyarakat Indonesia dipertontonkan dengan aksi kepolisian yang terus memburu gang motor di sejumlah kota besar Indonesia. Kamis (16/5) lalu, Polresta Pekanbaru, Riau berhasil pentolan geng motor di Riau, Klewang.

Pria yang dijuluki panglima besar oleh sekitar 500 anak buahnya di Geng Motor XTC dan 6 gang motor binaannya tersebut, kerap berulang melakukan tindakan kejahatan mulai penyerangan, pemerkosaan, pencurian dan lainnnya.

Belumlah usai pengusutan gang motor di Pekanbaru, Riau ini. Giliran Polresta Makassar yang menahan 19 anggota geng motor dari empat kelompok yakni Mappakoe, Tetta, Halilintar, dan Freedom.

Sementara di Jakarta, aksi gang motor juga kerap terjadi. 31 Maret lalu, anggota TNI AL tewas dikeroyok anggota geng motor di Jalan Benyamin Sueb. Pada 7 April, giliran empat pengendara sepeda motor di SPBU di Jalan Danau Sunter Utara, Jakarta dikeroyok kelompok geng motor yang mengakibatkan 1 tewas dan 3 luka. Esoknya, 8 April sekitar 30 anggota kelompok geng motor menyerang kawasan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Mereka membakar dua unit sepeda motor dan melarikan satu sepeda motor.

Bagaimana di Palembang, adakah aksi geng motor ?. Penelusuran Kabar Sumatera, di kota empek-empek juga banyak berdiri kelompok-kelompok bermotor. Di Jalan Residen Abdul Rozak, Sabtu (17/5) malam, seorang remaja berdiri diapit dua sepeda motor jenis bebek. Tak lama kemudian remaja pria itu, memberikan abah-abah sebagai tanda start bagi dua sepeda motor di sampingnya untuk melaju.

Dalam hitungan ketiga, dua remaja yang menunggangi sepeda motor tersebut menarik gas sekencang-kencangnya. Mereka berpacu, untuk saling mendahulu agar bisa masuk ke garis finish yang sudah ditentukan pada urutan pertama.

Kondisi tersebut, adalah salah satu gambaran aksi balapan liar yang terjadi di Kota Palembang. Tidak hanya di Jalan Residen Abdul Rozak, aksi itu dilakukan sekelompok remaja namun di sejumlah kawasan lain seperti di kawasan Jakabaring, Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Tanjung Api-Api (TAA).

Namun mereka tak mau disebut sebagai geng motor. “Tidak ada geng motor di Palembang. Kalau ada komunitas motor, bukan untuk kegiatan yang mengarah kriminal namun sekedar berbagi pengetahuan dan sesekali balapan di jalan,” kata kata Ade, anggota komunitas sepeda motor Boynic Sumsel ketika dibincangi beberapa waktu lalu.

“Kami bukan geng motor, kami tidak pernah melakukan aksi-aksi kriminal seperi geng motor di kota lain. Sesekali memang kebut-kebutan, tetapi untuk hanya adu gengsi bukan judi,”jelas mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Palembang ini.

Pendapat senada disampaikan Herdani, anggota Inderalaya Motor Club (IMC). Menurutnya, aksi komunitas sepeda motor di Sumsel tidak bisa disamakan dengan geng motor.

Aksi kriminalitas atau pun kekerasan sebutnya, tidak pernah dilakukan. Kongkow-kongkow yang dilakukan kelompoknya sebut Herdani, sekedar untuk bersilaturahmi dan berbagai pengetahuan.

“Sesekali sering balapan, biasanya di tempat sepi dan sore hari hari di halaman Kampus Universitas Sriwijaya (Unsri), Indralaya. Tetapi, jika ada kelompok-kelompok lain yang saling panas-panasi terpaksa kami adu gengsi di jalan raya. Sebenarnya bahaya sih, tapi namanya juga hobi jadi tidak bisa dilawan,” ungkap Herdani.

Sementara itu Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumsel, Syaidina Ali yang dibincangi beberapa waktu lalu di ruang kerjanya juga mengatakan hal yang sama. Ia yakin, tidak ada geng motor di Sumsel.

Namun ia tak menampik, adanya aksi balapan liar yang dilakukan sejumlah komunitas sepeda motor di Sumsel. “Tak jarang mereka, sering melanggar aturan lalu lintas. Kita juga sudah menghimbau kepada komunitas-komunitas tersebut, untuk tidak melakukan aksi balapan liar,” ujarnya.

“Ada beberapa titik, yang sering digunakan untuk balapan liar misalnya di kawasan Jakabaring, Tanjung Api-Api ke arah Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Jalan Soekarno-Hatta, dan beberapa kawasan lain. Sudah banyak warga yang melapor dan resah, dengan aksi mereka,” kata Syaidina.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Sumsel HA Djauhari ketika dihubungi, kemarin mengatakan walau belum ada geng motor di Sumsel namun pemerintah dan pihak berwajib harus tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan komunitas sepeda motor di Sumsel.

“Pemerintah harus memberikan perhatian, jangan sampai mereka justru menjadi geng motor. Balapan liar, juga harus diatasi karena sudah meresahkan masyarakat.  Harusnya ada tindakan kongkrit, bukan sekedar penertiban. Karena percuma saja dilakukan penertiban, sebab setelah itu pasti akan terjadi lagi aksi balapan liar,” tukasnya.

Teks       : Dicky Wahyudi

Editor   : Imron Supriyadi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster