Refleksi Ujian Nasional

 487 total views,  2 views today

Oleh

darwin-effendi]

Darwin Effendi, M.Pd.

Dosen Universitas PGRI Palembang

Ujian Nasional (UN) pun berlalu. Tinggal menunggu hasilnya. Walaupun sudah banyak disuarakan gelombang protes agar dihapuskan bahkan sampai ke Mahkamah Konstitusi, Ujian Nasional masih tetap dilaksanakan. Padahal, Ujian Nasional sampai saat ini belum meningkatkan kualitas pendidikan. Ujian Nasional juga mencetak ketidakjujuran bagi siswa karena perbuatan curang yang dilakukan guru atas perintah atasannya dengan cara memberikan jawaban UN kepada siswa-siswanya agar lulus. Selain itu, pengadaan soal-soal UN pun terindikasi sarat korupsi. Keterlambatan pendistribusian soal pun juga menambah persoalan dalam UN.

UN lebih dituntut pada hasil aspek kognitif. Para siswa lebih banyak digiring ke untuk menghafal dalam belajar. Padahal kegiatan pembelajaran merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Di dalam proses kegiatan pembelajaran, ada tiga aspek yang dinilai yaitu aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Bukan hanya pendalaman materi saja dilakukan oleh siswa hingga membuat mereka mendalami materi tersebut ke lembaga kursus atau bimbingan belajar yang menjamur di kota-kota. Artinya, bukan hanya aspek kognitif saja yang menjadi tolak ukur kelulusan siswa. Masih ada dua aspek lagi. Pemerintah seharusnya sadar akan hal itu. Untuk apa adanya pendidikan karakter bagi siswa. Mengapa kelulusan siswa hanya dinilai dalam beberapa hari saja. Selama tiga tahun mengajar, guru menjadi sia-sia usahanya dalam mencerdaskan anak bangsa, kalau hanya ditentukan oleh standar Ujian Nasional.

Kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran setiap sekolah tidaklah sama. Dalam satu daerah saja berbeda, antara sekolah di kota dan di desa, apalagi di daerah terpencil yang sarana dan prasarananya jauh dari layak. Bagaimana seorang pendidik akan meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya, kalau sarana dan prasarana pendukungnya belum terpenuhi. Di kota besar, fasilitas sekolah yang lengkap, siswanya tidak akan kesulitan untuk menambah dan meningkatkan pengetahuannya, selain yang diajarkan oleh gurunya. Mereka bisa mengunduh bahan-bahan pelajaran dari internet ataupun ikut bimbingan belajar. Namun, siswa di desa apalagi di daerah pedalaman, jangankan membuka internet, listrik saja belum menyala di kampung mereka.

Tidak salah kalau pemerintah beranggapan bahwa bagaimana kita mengetahui standar pendidikan di negeri ini, kalau tidak ada alat ukurnya. Akan tetapi, harus diingat bahwa pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BNSP) menilai mutu pendidikan berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 35 ayat 1, ada delapan kriteria standar pendidikan nasional, yakni standar isi (kurikulum); proses pembelajaran; kompetensi kelulusan; tenaga pendidik; sarana dan prasarana; pengelola pendidikan; pembiayaan pendidikan; dan penilaian pendidikan. Apakah kedelapan kriteria tersebut sudah dipenuhi oleh tiap sekolah di Negeri ini. Sudahkah pemerintah menasionalisasikan standar pendidikan?

Penentuan kelulusan siswa tidak dapat ditentukan secara nasional, akan tetapi seharusnya ditentukan ke sekolah masing-masing. Merekalah yang lebih tahu tingkat kecerdasan siswanya dan kondisi daerah mereka. Ujian Nasional sebagai alat pemantau mutu pendidikan bukan penentu kelulusan siswa karena bertentangan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 3 yang berbunyi ”warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.”

Oleh karena itu, kelulusan melalui Ujian Nasional dirasa kurang adil, sebab layanan pendidikan yang memadai masih belum merata dinikmati siswa di semua daerah, khususnya daerah terpencil. Sarana dan prasarana maupun mutu guru di seluruh penjuru Republik inilah yang lebih diperhatikan dan ditingkatkan lagi. Seharusnya biaya penyelenggaraan Ujian Nasional yang sangat besar tersebut dialokasikan untuk pembiayaan sarana dan prasarana pendidikan yang masih sangat kurang.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster