Disperindagkop tak Bisa Berbuat Banyak

 174 total views,  2 views today

PALEMBANG, KS-Kuat dugaan banyak industri menengah ke atas di Palembang, menggunakan elpiji tabung 3 kilogram (kg). Padahal elpiji tersebut, diperuntukkan untuk kalangan rumah tangga dan industri kecil.

Sayangnya, pemerintah kota (pemkot) Palembang tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya. “Pemkot tidak bisa memberikan sanksi, hanya bisa memberikan teguran,”kata Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian dan Perdagangan Dalam Negeri (PDN) pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Desperindagkop) Kota Palembang,Yustianus ketika dibincangi, kemarin.

Disperindagkop sambungnya, kini tengah melakukan langkah persuasif guna mencegah terjadinya penyimpangan distribusi elpiji 3 Kg ini. Salah satu caranya sebut Yustinus, dengan memasang stiker untuk industri menengah besar.

Stiker ini sebutnya, sebagai penanda kalau industri itu tidak diperbolehkan menggunakan elpiji 3 Kg. “ Ini sanksi moral, bagi pelaku usaha menengah keatas yang menggunakan elpiji 3 Kg,” sebutnya.

Memang kata Yustinus, itu bukan sanksi tegas. Tetapi pemasangan stiker tersebut, akan memberikan informasi kepada masyarakat kalau tempat usaha itu dilarang menggunakan elpiji 3 Kg. Jika mereka tetap menggunakannya, maka masyarakat lah sebutnya yang akan menilai.

Desperindagkop sambungnya, telah mencetak sebanyak 600 stiker yang isinya larangan pengunaan elpiji bagi industri menengah keatas. Pemasangan stiker itu bebernya, akan melibatkan Pertamina.

“Dalam waktu dekat, kita mendatangi setiap usaha yang telah kita ketahui mengunakan elpiji ukuran 3 kg untuk operasional mereka. Padahal mereka tidak berhak menggunakan itu,  setiap industri itu akan kita pasang stiker agar masyarkaat tahu kalau selama ini mereka menyimpang,” ujarnya.

Sebelumnya Yustinus menyebut, hasil pantauan Disperindagkokp diketahui elpiji 3 kg banyak dipergunakan unit usaha yang mengaku mikro. Sedikitnya 30% distribusi dinilai sudah menyalahi peruntukan gas elpiji 3 kg tersebut.

Umumnya mereka bergerak di bidang usaha kuliner yang berlokasi di Jalan POM IX dan sebagian rumah makan Padang. “Usaha mikro itu dilihat dari tempat usaha, aset, dan omzetnya yang kecil. Kalau omzetnya mencapai Rp 3 juta per hari, itu bukan termasuk mikro lagi. Apalagi kebutuhan mereka itu sebanyak 4–5 tabung gas 3 kg per hari. Itu artinya mereka memakan jatah 35 tabung bagi rumah tangga sederhana.Tak heran jika banyak kelangkaan,” kata Yustianus.

Seharusnya usaha-usaha kuliner ini sudah menggunakan gas elpiji 12 kg. Pihaknya sudah memberikan edaran wali kota mengenai pelarangan menggunakan gas elpiji 3 kg. Ke depan, pihaknya akan terus melakukan pembinaan dan operasi penertiban. “Mereka akan kita bina dan diharuskan beralih menggunakan gas elpiji 12 kg.

Teks      : Alam Trie Putra

Editor  : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster