Pasar Tradisional, Nasibmu Kini

 319 total views,  2 views today

pasar-traditional

Ilustrasi Pasar Tradutional | Foto : Dok KS

PALEMBANG,KS- Ditengah serbuan pasar modern, kondisi pasar tradisional di Palembang kian memprihatinkan. Kondisi pasar-pasar tradisional di kota empek-empek ini banyak yang tak layak lagi.

Pantauan Kabar Sumatera, Minggu (12/5), kondisi pasar tradisional tersebut sangat tidak representatif untuk pertemuan antara antara pembeli dan pedagang. Kondisinya yang kotor, bau, sumpek dan sembrawut menjadi pemandangan biasa di sejumlah pasar tradisional di kota empek-empek ini.

Di Pasar 16 Ilir misalnya, pasar terbesar di Sumatera Selatan (Sumsel) ini menjadi salah perhatian Pemerintah Kota (pemkot) Palembang untuk menatanya. Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) pun, berulang kali harus “kucing-kucingan” dengan pedagang kaki lima (PKL).

Namun tetap saja pasar tersebut terkesan sembrawut, dan kotor. Jika pasca hujan turun, dipastikan beberapa bagian pasar tersebut kotor dan becek misalnya di kawasan Lr Basah dan beberapa titik lainnya.

Sementara di Pasar Cinde, nasibnya sedikit lebih baik dibandingkan Pasar 16 Ilir. Pasar yang berada di jantung Kota Palembang ini dari luar sedikit lebih rapi. Namun saat masuk ke dalam, maka kondisi yang pengap, kotor dan bau akan menyambut. Areal yang sempit, tak memungkinkan terjadi perluasan. Pedagang tidak jarang memilih berdagang dipinggiran pasar itu.

Hal yang sama terlihat di Pasar Sekip Ujung. Walau sempat di rehab dengan memasang kramik lantai namun luas pasar yang sempit membuat pedagang banyak menggelar daganganya di luar areal pasar. Kondisi ini, belum ditambah dengan areal parkir yang memakan badan jalan sehingga menambah kesan sembrawut.

Direktur Perusahaan Daerah (PD) Pasar Palembang Jaya, Syaifuddin Azhar, mengaku itu. Ia menyebut dari 33 unit pasar tradisional di Palembang, 31 unitnya menurut Direktur Perusahaan Daerah (PD) Pasar Palembang Jaya, Syaifuddin Azhar, tak representatif. “Hanya tiga unit pasar tradisional saja, yang masih layak. Selebihnya, tidak lagi dan perlu di rehabilitasi,” kata Syaifuddin, beberapa waktu lalu.

Beragam persoalan terjadi di pasar tradisional, sehingga dikatakan tidak layak lagi. Umumnya, karena kondisi bangunan yang sudah tua membuat banyak kerusakan di pasar tradisional.

Misalnya, atap yang bocor, lantai yang masih tanah sehingga saat hujan becek, dan saluran air yang rusak. Selain itu, luas areal pasar juga tidak memungkinkan lagi untuk menampung pedagang sehingga banyak pedagang yang memilih menggelar dagangannya di luar pasar.

Kondisi inilah yang membuat terjadinya kesembrawutan. “Belum lagi, areal parkir di sekitar pasar yang memakan badan jalan sehingga membuat kemacetan. Untuk perluasannya, kita kesulitan karena tata ruangnya yang dekat dengan pemukiman penduduk seperti di Pasar Sekip Ujung,” tukasnya.

 Teks       : alam trie putera

Editor    : dicky wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster