Elpiji ku Sayang, Elpiji ku Malang

 324 total views,  2 views today

PALEMBANG, KSKelangkaan elpiji tabung 3 kilogram di Palembang, berlarut-larut. Sudah satu bulan lebih, warga yang pontang-panting mencari elpiji tabung melon tersebut. Persoalan itu, berlarut-larut. Sampai saat ini, masih terjadi dan belum bisa diatasi oleh Pertamina maupun pemerintah.

Akibatnya, warga yang umumnya masyarakat kelas menengah kebawah yang harus menjadi korbannya.Sejumlah warga yang dibincangi Kabar Sumatera, mengeluhkan kondisi ini. Elpiji 3 Kg, kini menjadi barang berharga karena sulitnya didapatkan.

“Cari elpiji 3 Kg ini, susahnya minta ampun. Kalaupun ada, harganya tinggi yakni dari Rp17 ribu-Rp20 ribu per tabung, tergantung stok elpiji di pengecer,” keluh Maimunah (46), warga Jalan KH Wahid Hasyim, Lr Majapahit, Kecamatan SU I, Palembang ini saat antri mendapatkan extra dropping elpiji 3 Kg di Kantor Camat SU I, beberapa waktu lalu.

Untuk mendapatkannya kata Maimunah, ia harus rela mencarinya sampai ke pengecer yang jauh dari tempat tinggalnya. “Kami tidak tahu apa masalahnya, sehingga elpiji 3 Kg ini susah sekali didapat. Sebagai warga, saya berharap tidak ada kelangkaan,” harapnya.

Sementara Adil Akbar, salah satu pengecer elpiji di kawasan Kertapati mengaku, jatah elpiji yang dikirim dari agen dikurangi. Ini sebutnya, yang menyebabkan ia kesulitan memenuhi kebutuhan elpiji 3 Kg bagi pelanggannya.

“Banyak warga yang sering bertanya, ada elpiji 3 Kg atau tidak. Kadang ada, namun sering lah kosong stoknya dibandingkan ada. Sebenarnya kita kasihan juga, namun bagaimana lagi. Jatah saya saja, dari agen dikurangi,”sebutnya.

Kemana larinya elpiji 3 Kg, hingga terjadi kelangkaan ?. Kepala Bidang (Kabid) Elpiji Himpunan pada Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Kota Palembang, Didik Tjahyono memastikan, kelangkaan elpji saat ini bukan disebabkan oleh penimbunan.

Sebab jelansya, pengawasan di tingkat agen sampai pangkalan sudah dilakukan secara ketat agar tidak terjadi penyimpangan.  “Dengan pengawasan ketat, tidak mungkin terjadi penimbunan. Bahkan kami sudah memberikan sanksi kepada tiga agen, yang menjual elpiji 3 Kg kepada pengelola rumah makan,” jelasnya.

Sementara Kabid elpiji pada Hiswana Migas Sumsel, Alpis Pardin mengatakan, salah satu penyebab terjadinya kelangkaan karena dikuranginya suplai elpiji bersubsidi untuk Palembang itu sebanyak 10 persen.

Pengurangan subsidi ini, sebagai sanksi dari Pertamina kepada agen elpiji di Palembang yang menjual elpiji tabung melon itu ke pengusaha rumah makan. “Ada delapan agen, yang mendapatkan sanksi mengurangai suplai. Itu dilakukan, karena mereka menjual elpiji 3 Kg ke pengusaha rumah makan padahal itu dilarang. Sebab rumah makan, hanya boleh menggunakan elpiji tabung 12 Kg,” bebernya.

Sementara itu  Kabid Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindagkop) Kota Palembang Yustianus mengatakan, kelangkaan elpiji selain disebabkan tingginya konsumsi elpiji juga ada penyimpangan dalam distribusi elpiji.

“Konsumsi elpiji di Palembang cukup tinggi, untuk pedagang gorengan saja setiap hari mereka menghabiskan 2-3 tabung. Belum lagi, ada rumah makan, hotel dan restoran yang menggunakan elpiji 3 Kg. Ini yang membuat elpiji 3 Kg, cepat habis di pangkalan maupun pengecer,” tukasnya.

Teks: Alam Trie Putera

Editor : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster