Transaksi Pegadaian Rp 300 M Per Bulan

 275 total views,  2 views today

PALEMBANG | KS- Rata-rata transaksi Pegadaian Kantor Wilayah III (Kanwil III) Palembang menembus angka Rp 300 miliar per bulan. Tahun 2013 ditargetkan angka transaksi sebanyak Rp 400 miliar.

Asmar, Humas Pegadaian Kantor Wilayah III (Kanwil III) Palembang menyampaikan, transaksi Pegadaian ini berlangsung sejak Januari 2013 lalu yang angka transaksi sebanyak Rp 300 miliar per bulan.

Dengan rincian, Januari Rp 388 miliar mengalami sedikit penurunan pada Februari sebesar Rp 2 miliar yang hanya mencapai Rp 386 miliar, kemudian kembali meningkat pada Maret sampai dengan April sebesar Rp 10 miliar atau tembus diangka Rp 396 miliar.

“Pada bulan Mei ini kami berharap mampu lebih dari bulan sebelumnya,” ungkap Asmar di ruang kerjanya.

Kata Asmar, pada 2013 ini pihaknya menargetkan angka transaksi sebanyak Rp 400 miliar.

“Datanya kami belum tahu, sebab kami belum melakukan rekapitulasi. Kami optimistis target yang dipasang ini mampu terealisasi. Melihat hasil-hasil bulan sebelumnya yang selalu hampir mencapai angka Rp 400 miliar. Tanggal 10 Mei ini  data baru akan direkap. Apabila target tercapai bulan depan target terus kami naikkan,” jelas Asmar.

Ucap Asmar, angka transaksi ini dihitung dari 272 outlet yang tersebar di beberapa provinsi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) yaitu Kota Palembang, Jambi, Lampung, Bengkulu, dan Bangka Belitung.

Pegadaian, kata Asmar, mampu menyalurkan uang kepada nasabah berkisar 90 – 93 persen dari harga yang berlaku saat dilakukan transaksi. Dan, yang diterima  pihaknya hanya barang bergerak atau barang kantong dan non kantong istilah pegadaian.

“Jenis barang kantong seperti jenis emas atau perhiasan lainnya. Sedangkan non kantong seperti, mobil, motor, dan barang electronik. Namun, tak semua barang electroni bisa diterima karena harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan  pegadaian. Kondisinya minimal 95 persen lengkap, dan sesuai dengan pertimbangan kami,” sebutnya.

Ditambahkannya,  untuk konsumen yang mengadaikan barang akan diberikan tenggang waktu selama empat bulan. Apabila tiba waktu tempo konsumen tak ada konfirmasi, maka pihaknya akan melelangkan barang tersebut.

“Sebelum dua minggu jatuh tempo, kami akan menghubungi nasabah yang bersangkutan terlebih dahulu. apabila tetap tak datang, maka ya kita lelang,” bebernya.

Menurutnya, lelang merupakan solusi pahit terakhir yang akan diambil. Karena nasabah yang mengadaikan barangnya sudah habis tempo yang telah disepakati. Hal ini mencegah terjadinya lelang pihaknya memberikan toleransi kepada nasabah.

“Apabila habis tempo, namun nasabah tersebut datang ke kantor dan membawa pernyataan belum mampu. Maka, akan kami berikan tempo lagi selama dua minggu,” ucapnya.

Bukan itu saja, waktu jatuh tempo nasabah dapat juga diperpanjang dengan cara membayar sewa modal atau dengan cara mengangsur pembayaran.

“Nasabah dapat meminta tambah pinjaman, apabila dengan ketentuan  pinjaman yang sebelumnya belum maksimal dengan harga barang yang digadaikan,” tutupnya.

 

TEKS:JADID ULUL ALBAB

EDITOR:RINALDI SYAHRIL

 

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster