Terorisme dan Perbudakan

 310 total views,  2 views today

Oleh Imron Supriyadi

Dua kalimat ; teroris dan perbudakan, memang agak sulit menghubungkan. Sebab keduanya memiliki kutub yang berbeda. Di satu sisi, teroris selalu berhubungan dengan isu internasional, yang kian mengemuka sejak runtuhnya gedung World Trade Centre (WTC) 11 September 2001. Sejak itu, aroma kebencian terhadap teroris yang disimbolkan Osama Bin Ladin, kemudian menyeruak ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia. Anehnya, pemerintahan Megawati Soekarno Putri ketika itu juga ikut meloloskan Undang-Undang Terorisme, dengan dalih demi menjaga stabilitas nasional.

Isu terorisme kemudian menguatkan tuduhan Islam yang bertanggungjawab dalam setiap aksi brutal. Dengan dalih jihad, sejumlah orang yang mengaku pelaku pengeboman, kemudian siap mati (menjadi pengantin) demi Islam. Kita tak tahu jelasnya, kalau sebenarnya kelompok itu (pera pelaku pengeboman) juga bagian dari skenario besar negara adidaya, yang sejak awal sudah diciptakan. Ada grand desain yang sedanag bermain di baik bendera negeri Paman Sam itu. Perang Salib yang teoah menyejarah, sudah pasti menjadi dendam bagi negara adidaya itu. Perang Salib versi modern sampai kapanpun akan terus dikumandangkan oleh Amerika, terlebih sejak jatuhnya Uni Soviet dengan komunisnya. Musuh utama setelah komunis adalah islam. Dengan memosisikan Indonesia  sebagai “budak” Amerika, maka isu teroris mengfuat di negeri ini.

Dan kalimat perbudakan, memang sudah agak usang dan jarang disebut oleh orang-orag di abad modern.

Tetapi kasus perbudakan di Tangerang yang pekan lalu terbongkar, kian menguatkan adanya hubungan antara terorisme dan dunia perbudakan. Memang tidak secara langsung. Tetapi, antara perbudakan dan terorisme, keduanya dapat menjadi pembenaran (justifikasi) terhadap sebuah negara, yang sengaja atau tidak sengaja, tengah membuka diri untuk bersiap menjadi “budak bagi pencipta teroris” dan budak bagi negara lain untuk kemudian siap mengirim budak ke negara orang. Dan setelah itu, para budak itu disebut pahlawan devisa, setelah sebelumnya diperas dengan segala bentuk penindasan tanpa perlindungan di negeri orang.

Tragis memang. Isu teroris telah membuat Indonesia menjadi “budak” bagi negara adidaya Amerika. Indonesia menjadi sawah ladang “penciptaan teroris”. Dengan kekuatannya, negara Paman Sam itu juga telah demikian banyak melakukan intervensi di negeri ini dengan berbagai cara, termasuk melalui pembuatan undang-undang. Praktiknya melalui berbagai program studi di sejumlah perguruan tinggi, membuat agen-agen di lembaga negara dan lainnya.

Sementara perbudakan di negeri ini, meski sudah jauh dari zaman Yunani kuno, tetapi praktik perbudakan masih terus berlangsung. Sejumlah kasus buruh yang tetap berada dalam kubangan outsourching (kerja kontrak waktu tertentu), upah murah bagi buruh, persentase anggaran pendidikan 20 persen yang diakali-akali, sampai pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tanpa perlindungan yang jelas, menjadi wajah buram bagi negeri serpihan surga sekelas Indonesia ini.

Dengan kasus teroris dan kasus perbudakan di Tangerang, sebagian rakyat di negeri ini kian menangis pilu. Melihat negeri sendiri yang demikian runyam, kisruh tak kunjung usai. Negeri ini seolah tanpa daya. Sementara kasus lainnya, seperti Bank Century, dugaan korupsi Hambalang sampai impor daging sapi, hingga kini kasusnya masih terselip diantara meja pengadilan. Dan didalamnya tak ada melibatkan orang miskin, melainkan orang berduit yang bermain. Apapun perilaku mereka, rakyat tetap menunggu keputusan akhir, di tengah upaya pengalihan isu sejumlah kasus itu dengan aksi terorisme.

Deretan kasus di negeri ini datang dan pergi tanpa henti, dengan penyelesaian yang juga tidak jelas. Kasus satu belum selesai, kasus lain menyusul. Begitu dan begitu seterusnya. Aparat hukum, pemegang kebijakan negara di negeri ini telah menjadi teroris bagi rakyatnya. Sebab mereka lebih memilih menjadi “budak” dari kepentingan pribadi-nya, ketimbang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Dan hingga kini rakyat masih ditakuti teroris sejati, yaitu para koruptor, ancaman kemiskinan, ketidakadilan pada rakyat kecil dan penindasan terhadap kaum papa. Mestikah negeri budak dari bangsa lain ini akan terus berlanjut dan terbiar begitu saja? Saatnya kita mengumandangkan kembali petuah Bung Karno : tunduk tertindas atau bangkit melawan!!!!





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster