ISLAM BUKAN TERORIS

Umar Said

Umar Said

Setelah beberapa saat hilang, isu teroris muncul kembali. Penyergapan terhadap oknum yang diduga pelaku teroris, kembali terjadi. Sedikitnya 7 orang dinyatakan tewas dan 13 lainnya dalam tawanan aparat. Pertanyaannya, mengapa isu teroris ini muncul berirIng dengan kasus penyelesaian kasus perbudakan, kasus Susno, hambalang yang belum juga tuntas? Apakah ada upaya pengalihan isu terhadap kasus itu?

————————————————-

 

Kasus perbudakan di Tangerang baru saja terbongkar. Hingga pekan ini kasusnya masih diusut aparat polisi. Seiring dengan itu, kasus Susno Duaji juga kembai mencuat ke permukaan. Belum juga reda, kasus terorisme kembali menyeruak. Aksi penyergapan terhadap oknum yang diduga pelaku teroris di Kebumen Jawa Tengah, Bandung dan Banten dalam dua hari terakhir, Rabu (8/5), kemudian menyedot perhatian publik. Kasus Bank Century, Hambalang yang belum juga tuntas, disusul kasus perbudakan di negeri sendiri belum jugaselesai, kini kasus teroris mengemuka. Nyaris kasus yang juga penting  menjadi bahasan serius perlahan akan lenyap bersama pemberitaan terorisme.

 

Eksistensi kelompok teroris di Indonesia menurut sejumlah sumber akan terus bertahan meski pemerintah telah melakukan tindakan represif. Pengamat teroris Al Chaidar menilai, jaringan teroris di Indonesia akan terus melahirkan sel baru.  Sel baru ini, menurut Chaidar tumbuh dari jaringan yang lama. Bahkan, proses rekrutmkennya sangat cepat, sehingga diperlukan tindakan nyata untuk mengantisipasinya.

 

Menanggapi hal ini, Mahmud Jamhur, Ketua Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) Sumsel menilai, kasus terorisme yang muncul dalam tiga hari terakhir, seperti petir di siang bolong. Menurutnya, jauh sebelum ini, Jamhur memastikan kalau negara sudah sangat mengetahui rencana penyergapan ini. Bagi Jamhur, proses penyergapan ini menjadi aneh, sebab Densus 88 seketika melakukan penembakan yang langsung membunuh pelaku tanpa proses. “Kalau professional seharusnya tidak begitu. Menurut saya, ini ada rekayasa, terutama terhadap upaya memojokkan Islam,” tegasnya.

 

Sejak ada penyergapan itu, hampir semua mata warga di negeri ini, dalam tiga hari terakhir perhatiannya tersedot oleh kasus terorisme. Seolah masalah di Indonesia hanya persoalan teroris. Padahal, menurut Drs Umar Said, Ketua Forum Umat Islam Sumsel, kasus yang patut diselesaikan bukan kasus teroris-nya tetapi lebih pada persoalan mengapa aksi teroris itu muncul. Kasus perbudakan di Tangerang yang baru saja terungkap, menurut Umar menjadi bukti di negeri ini bukan hanya mengirim budak, tetapi di negeri sendiri juga terjadi perbudakan. “Dengan kasus ini, sangat terbuka kalau ada sejumlah aparat di negeri ini yang juga menjadi agen teroris dan budak kapitalis,” tegasnya.

Menurut alumnus IAIN Walisongo Semarang ini, dalam kasus teroris di Indonesia tidak akan selesai oleh sejumlah penyergapan saja, jika tidak pernah dikaji dan diselesaikan akar persoalannya. Menurut Umar, dalam kondisi seperti sekarang, sangat besar peluangnya muncul sejumlah oknum pengangguran intelektual, yang dibahasakan Umar sebagai sosok frustator (orang yang frustasi akibat tekanan ekonomi) kemudian melakukan doktrin terhadap beberapa orang awam, dengan mengatasnamakan agama.

“Bukan tidak mungkin dalam persaingan hidup yang ketat ini, ada saja aktor intelektual yang sengaja mengimingi janji manis, apalagi dengan dalih agama. Misalnya dari pada kamu susah di dunia, lebih bagus bahagia di akhirat, lalu mengajari mereka dengan jihad degan makna yang salah. Padahal agama tidak mengajarkan seperti itu. Kalau ini dibiarkan, isu teroris ini cenderung disengaja untuk memperburuk citra Islam di mata publik,” tegasnya.

Oleh sebab itu, menurut Umar mengatasi aksi teroris ini, ulama dan umaro seharusnya melakukan personal approach (pendekatan personal), dengan cara melakukan dialog dengan warga di setiap kampung. Tujuannya, baik umaro dan ulama menjelaskan kepada warga masyarakat tentang pemaknaan jihad yang sebenarnya, sehingga jihad tidak disalahartikan. “Apa memang seperti itu makna jihad itu. Apa Jiha membenarkan untuk merampok? Selama saya belajar Islam, tidak ada ajaran yang membenarkan perampokan untuk kebaikan. Makna ini yang perlu diluruskan, sehingga isu teroris ini tidak memperburuk citra islam.

Selebihnya, dengan pendekatan ini, umaro dan ulama bisa terlibat langsung dalam satu kesatuan untuk ikut serta mengatasi akar persoalan, mengapa terorisme ini muncul.  Menurutnya, faktor ekonomi, juga menjadi salah satu faktor mengapa teroris ini muncul. Sebab dengan himpitan ekonomi, sementara kebutuhan hidup kian mendera, bukan tidak mungkin kemudian orang mengambil jalan pintas, dengan jalan apa saja, termasuk ikut serta dalam aksi teroris dengan mengatasnamakan agama dan jaminan surga.

“Pemikiran yang seperti ini yang seharunsya dicuci oleh ulama dan umaro ke setiap kampung. Dan negara wajib membiayai upaya ini, sehingga pencerahan di tingkat warga terhadap kesalah pamahaman terhadap jihad ini bisa diluruskan, dan islam tidak selalu pihak yang dipojokkan” tegasnya.**




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com