Harga Minyak Melonjak, Pakai Biodiesel Kenapa Tidak?

 203 total views,  2 views today

Oleh : Didiek Hadjar Goenadi

Bagi negara-negara penghasil minyak sawit, BMS menjadi satu pilihan yang sangat prospektif. Apalagi produksi  lahan kelapa sawit yang sudah di atas empat juta hektar saat ini akan segera panen dengan menghasilkan sekitar  11 juta ton CPO per tahun. Per 100.000 ton CPO dapat dihasilkan 100.000 ton BMS dan 12.000 ton gliserol  sebagai produk  samping per tahun. Tentu kita tak perlu menggunakan seluruh produksi tersebut menjadi BMS,  tetapi sebagai strategi outlet ketika harga CPO meloro t hingga di bawah Rp 3.000 per kg dan atau harga petrodiesel sudah tidak disubsidi lagi.

Teknologi produksi BMS

Teknologi yang umum digunakan pada skala komersial berupa transesterifikasi antara minyak/lemak nabati dan  metanol menggunakan katalis basa NaOH atau KOH (Gambar). Sebaiknya digunakan minyak nabati yang kadar  asam lemak bebas (ALB)-nya rendah ($< 1 persen). Jika lebih, perlu diberi perlakuan pendahuluan karena bisa  berakibat pada rendahnya efisiensi kinerja BMS. Repotnya, standar perdagangan dunia mengizinkan kadar ALB  hingga 5 persen. Jadi, untuk yang kadarnya $> 1 persen , perlu dilakukan  deasidifikasi, bisa dengan reaksi  metanolisis atau dengan gliserol kasar seperti yang  dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan.  Dengan menggunakan katalis basa 0,75 persen dengan dua  tahapan transesterifikasi, pemurnian BMS tak perlu dilakukan dengan pencucian, tetapi cukup dengan mendiamkannya selama 2-4 hari. Melalui teknik ini, produk  samping yang bernilai ekonomi cukup tinggi beru pa gliserol dapat diperoleh secara efisien.

Biaya produksi BMS saat ini masih tergolong mahal, yaitu sekitar Rp 4.000 per liter. Namun, jika harga  petrodiesel diserahkan pada mekanisme pasar sesuai dengan Undang-Undang Migas kita, harga tersebut  tergolong masih kompetitif. Artinya, BMS akan mampu bersaing dengan minyak diesel tanpa subsidi. Oleh  karena itu, dalam masa transisi sebelum mekanisme pasar diterapkan, produksi BMS diarahkan sebagai substitusi  sebagian dari petrodiesel.  Caranya, BMS dicampur dengan minyak diesel pada perbandingan tertentu (Tabel 1) sehingga diperoleh tingkat  harga yang masih kompetitif dengan harga minyak diesel  yang berlaku saat ini. Dengan investasi sebesar 20 juta  dollar AS dapat dibangun pabrik BMS berkapasitas 100.000 ton per tahun (Tabel 2). Pada tingkat keuntungan 15  persen, harga jualnya harus Rp 4.000 per liter. Dengan skenario campuran BMS 5 persen dengan petrodiesel 95 persen (Rp 1.700 per liter) diperoleh harga jual yang ekonomis Rp 1.815 per liter dengan menyerap 1,15 juta ton  CPO (12,5 persen produksi nasional saat ini).

Asumsi tersebut tentu akan makin baik ketika harga CPO menurun dan harga petrodiesel makin mahal.  Penggunaan BMS untuk kendaraan bermotor secara rutin  telah dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit,  Medan, sejak tahun 2000, di antaranya untuk traktor di kebun dan kendaraan dinas. Terbukti semuanya berjalan  mulus tanpa masalah, baik mesinnya maupun kinerjanya.  Kebijakan yang dibutuhkan Penyerapan pasokan CPO untuk BMS dapat ditingkatkan  lagi, tetapi membutuhkan subsidi agar harga jualnya kompetitif. Sebagai contoh, pada skenario 20 persen BMS (Rp 4.000 per liter) dan 80 persen petrodiesel (Rp 1.700 per liter) akan diperoleh harga jual Rp 2.160 per liter. Volume CPO yang terserap bisa mencapai 4,6 juta ton dengan subsidi mencapai Rp 460 per liter (27 persen) guna menjaga harga jual di tingkat Rp 1.700 per liter atau sekitar Rp 1,9 triliun.

Pada kondisi seperti ini tentu saja para investor men unggu uluran tangan pemerintah dalam bentuk kebijakan  subsidi langsung guna mengembangkan industri biodiesel di Tanah Air. Dari sisi anggaran tampaknya tak terlalu  sulit jika sebagian dari subsidi BBM yang diperkirakan mencapai Rp 66 triliun dapat dialokasikan untuk program  ini.

Pilihan terhadap skenario ini tampaknya makin urgen jika dikaitkan dengan upaya pemerintah untuk secara nyata  mengurangi ketergantungan pada produk impor. Dan yang lebih penting lagi, jangan sampai sumber daya alam  yang melimpah dan ketersediaan teknologi yang sudah cukup ini kehilangan momentum akibat intervensi  kepentingan pihak asing. Jadi jika tidak sekarang, kapan lagi?

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster