Kenaikan BBM Tak Pengaruhi Pasar Otomotif

PALEMBANG | KS- Rencana pemerintah untuk menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kian kencang terlebih Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono sudah menegaskan bahwa BBM dipastikan naik dan saat ini tinggal menunggu keputusan dari DPR. Meski demikian, naiknya harga BBM ini diyakini tidak akan “menggoyang” pasar otomotif.

Sejumlah diler mobil di Palembang bahkan tetap optimistis penjualan bakal mencapai target sesuai yang dicanangkan walaupun dampak kenaikan BBM akan terasa 3 bulan sejak kenaikan BBM.

Andry Ardilla, Sales manager  PT Nusa Sarana Citra Bakti maen diler mobil Suzuki Cabang  Palembang mengatakan, terkait kenaikan harga BBM, masyarakat sudah memahami, sepanjang kenaikannya tidak terlalu signifikan. Sehingga penjualan tidak akan terpengaruh.

“Kenaikan BBM bukanlah kali pertama terjadi. Berkaca pada kenaikan yang lalu dan teryata pasar otomotif baik-baik saja, tidak ada masalah, kalau pun ada dampak nya cuman tiga bulan.,” Ungkap Andry  Ardila, kemarin, (30/4).

Menurutnya, kendaraan, khususnya mobil sudah menjadi kebutuhan. Kalaupun terpengaruh, sifatnya hanya sementara saja kemungkinan hanya 5 persen, dan setelah tiga bulan, pasar akan normal lagi.

Kalaupun pemerintah memutuskan menaikkan BBM, pengaruhnya hanya bersifat sementara yang ditandai dengan adanya perlambatan. Ini berarti tak akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap penjualan.

Sementara itu, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Palembang mengaku, dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap biaya produksi terbilang kecil. Kenaikan harga justru lebih berdampak kepada penjualan mobil. “Imbas penyesuaian harga BBM kepada penjualan mobil dipandang hanya sementara saja,”ungkap Andre, Supervaisor ADM Palembang.

Menurutnya, pihaknya sudah mempelajari dan mengamati, karena kenaikan BBM ini sudah beberapa kali terjadi di Indonesia. “Pada dasarnya kenaikan BBM itu terhadap cost tidak begitu besar.”Ujarnya.

Untuk biaya produksi, lanjutnya, yang paling berpengaruh adalah harga baja dan nilai tukar. “Kalau (kenaikan harga) BBM itu lebih ke arah demand atau customer yang beli mobil cenderung pilih-pilih.”ungkapnya.

Ia memberikan contoh kejadian tahun 2004. Saat itu, pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Ternyata, kebijakan itu berimbas pada penurunan permintaan mobil. Akan tetapi, penurunan pembelian mobil itu tidak berlangsung lama.

“kemungkinan konsumen sudah menyesuaikan gaya hidup mereka terhadap dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi” ungkapnya.

“Pada waktu kami pelajari kasus 2004, kenaikan (harga) BBM itu impact-nya sekitar tiga bulan. Jadi, ada penurunan demand sekitar tiga bulan,”Tutup Andre.

TEKS          : JADID ULUL ALBAB

EDITOR    : ROMI MARADONA




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com