Perdagangan Satwa Dilindungi Marak

 259 total views,  2 views today

PALEMBANG, KS– Beragam jenis satwa di Sumatera Selatan (Sumsel), terancam punah. Hal itu, tidak hanya disebabkan jumlahnya yang semakin berkurang tetapi juga habitatnya terganggu dan kian maraknya perdagangan satwa di Sumsel.

PP No 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, ada 294 jenis tumbuhan dan satwa dilindungi diantaranya harimau, trenggiling, siamang, orang hutan, elang, kasuari dan berbagai jenis satwa lainnya.  Hasil penelitian ProFauna Indonesiadengan dukungan International Primate Protection League (IPPL) di Palembang tahun lalu, menunjukkan perdagangan primata dilindungi di Sumsel, marak.

Perdagangan satwa itu dilakukan di dua pasar yakni Pasar Burung 16 Ilir dan Pasar Burung Cinde.  Di Pasar burung Cinde,  Pro Fauna menemukan perdagangan primata mulai dari unggas sampai burung berkicau seperti bayan, nuri kepala hitam, perkici, pelangi dan kesturi ternate. Sedangkan di Pasar Burung 16 Ilir, sangat mudah ditemukan kukang , monyet ekor panjang siamang, Ungko dan lutung. Selain itu juga diperdagangkan jenis mamalia lainnya seperti kancil, trenggiling, dan musang luwak.

“Mereka disinyalir, melakukan perdagangan satwa liar langka yang dilindungi secara terbuka. Kami menemukan 6 ekor satwa liar dilindungi, terdiri dari 4 ekor kukang dan 2 ekor burung elang hitam,” jelas koordinator Centre for Orangutan Protection Hardi Baktiantoro dalam siaran persnya, beberapa waktu lalu.

Hardi menyebut, satwa dilindungi itu dijual dengan sangat murah. “Harga untuk satu ekor kukang yang ditawarkan Rp 250 ribu dan satu ekor elang hitam Rp150 ribu. Pedagang juga sanggup untuk mencarikan satwa jenis tertentu jika dipesan meskipun mereka tahu bahwa satwa tersebut dilindungi Undang-Undang,” sebutnya seperti dikutip profauna.net.

Padahal kedua satwa itu, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, adalah satwa dilindungi. Pelakunya diancam dengan hukuman penjara maksimum 5 tahun atau denda 100 juta rupiah.

Pantauan Kabar Sumatera, satwa dilindungi ini tidak secara terang-terangan di jual oleh pedagang. Tidak semua orang juga, yang bisa memesan hewan dilindungi tersebut.

Di Pasar Burung 16 Ilir, berbagai jenis primata dilindungi bisa dipesan kepada pedagang. Di pasar itu juga, ada pedagang yang menjadi pengepul satwa untuk ke kirim ke Jawa. Sementara untuk harga, bervariasi tergantung jenis satwa, umur, tingkat kesulitan mencarinya. “Semakin langka satwa itu, maka semakin mahal harganya,” sebut salah satu pedagang yang tidak mau menyebutkan namanya.

Sementara itu Kepala Urusan (Kaur) Hutan Lindung Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) Eddy Sofyan mengatakan, lembaga-lembaga internasional menyebut Sumsel menjadi salah satu daerah yang perdagangan satwa dilindungi meningkat tajam.

“Perdagangan satwa dilindungi itu, tidak dilakukan secara terang-terangan namun dilakukan diam-diam. “Hewan yang dilindungi itu, tidak secara terang-terangan di pajang untuk di jual belikan oleh pedagang. Mereka melakukannya secara diam-diam, jika ada yang memesan baru baru akan diburu oleh pedagang,” kata Eddy.

Umumnya kata Eddy, satwa yang diperdagangkan itu banyak dipasok dari beberapa kabupaten dan kota di Sumsel seperti Banyuasin, Musi Banyuasin (Muba), Lubuk Linggau dan Ogan Komering Ulu (OKU).

Ada beberapa satwa, yang sering diperdagangan di Sumsel diantaranya elang, siamang, kera ekor panjang, jenis burung yang paruhnya bengkok dan lainnya. “Kita mensinyalir, Pasar 16 Ilir menjadi tempat transaksi perdagangan satwa secara ilegal,” tukasnya.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster