Dialog Sampah Pagi itu

Oleh : Imron Supriyadi, Jurnalis dan Pengasuh Ponpes Rumah Tahfidz Rahmat Palembang

Ba’da Shubuh, sekitar pukul 05.30 WIB, saya dan belasan santri Pondok Rumah Tahfidz Rahmat Palembang baru saja mendegarkan kuliah shubuh.

Para santri kemudian melanjutkan tadarus. Sementara saya, keluar dari majelis dan melihat sekitar pondok, termasuk memantau tumpukan sampah kemarin, bekas buka bersama dengan Rumah Zakat Palembang  dan Tabloid Assajidin Palembang.

Malamnya, usai acara saya dan para santri sudah lebihb dulu membersihkan sebagian sampah. Tetapi malam itu, sampah hanya kita kumpulkan di depan gerbang pondok, dan dikemas dengan tas plastik besar. Tujuannya memudahkan santri untuk membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kawasan Jalan Seruni Palembang. Malam itu saya dan para santri tidak bisa langsung buang sampah ke TPA, karena mereka harus siap-siap ke masjid shalat tarawih.

Kunjungan Kesbangpol Sumsel, saat melakukan Verifikasi faktual Ponpes Rumah Tahfidz Rahmat Palembang

Sebegitu banyak sampah sudah kita bersihkan malam itu, tetapi ba’da Shubuh masih saja ada sampah tersisa. Sebagian di dapur, sebagian lagi di belakang mushola dekat kamar mandi. Sudah pasti sampah tadi malam usai tarawih. Saya berpikir, karena sudah ada jadwal, dipastikan ba’da Shubuh akan ada santri yang bertugas membuang sampah ke TPA.

Tapi pikiran saya salah. Saat kami sedang bersama menunaikan shalat dan kuliah shubuh, Ibu saya—yang tinggal satu atap dengan saya dan isteri, tiba-tiba muncul dan membawa sampah ke kotak sampah besar di depan pintu gerbang pondok.

Kali itu, saya hanya berpikir ibu saya hanya akan mengumpulkan dan merapikan sampah ke dalam karung supaya santri mudah membuangnya ke TPA. Sebab, biasanya juga begitu.

Tapi diluar gudaan. Usai kuliah shubuh, saya sudah melihat kilatan api yang hampir membumbung ke sejumlah daun pohon pisang yang secara kebetulan posisinya adag dekat dengan gerbang utama pondok.

Saya intip dari baik jendela ruang tamu. Ternyata, ibu saya sudah membakar sampah lebih dulu, sebelum santri yang membersihkannya.

Pagi itu, saya tidak ingin berdeat dengan ibu saya. Sebab, ibu saya memang  begitu. Meskipun semua sampah di pondok sudah bersih, ada saja kerjaan ibu saya untuk mencari kegiatan lain, yang acapkali membuat saya dan isteri agak kesal. Sebab, hal-hal sederhana seringkali tidak kita duga, tetapi masih juga dikerjakan ibu saya.

Misalnya, ibu saya sering merapikan pakaian santri yang baru saja di jemur, meskipun jemuran itu sudah pada tempatnya. Itu dilakukan, karena sampah, piring kotor di dapur pondok semua sudah selesai. Kami biasa mengerjakan bersama-sama santri sebelum ibu saya masuk dapur.

Gubernur Sumsel, H Herman Deru (sebelum menjabat Gubernur Sumsel thn 2018), saat berkunjung ke Ponpes Rumah Tahfidz Rahmat Palembang. (Foto. Dok.KSOL)

Saya tidak ingin Ibu saya yang sudah berusia hampir 70 tahun masih sibuk mengurusi kami yang masih muda-muda, kecuali saya dan isteri yang sudah berkepala empat. Tapi, banyak orang bilang, begitulah sikap orang tua. Tidak bisa diam. Selalu ingin mkengerjakan sesuatu, sekecil apapun.

“Bu, kenapa sampahnya dibakar?” tanya saya pada ibu yang masih asyik membakar sampah di depan gerbang pondok.

“Biar bersih, dan tidak numpuk di dapur!” ujarnya agak ketus. Ibu saya memang begitu. Selalu tidak suka kalau ditegur dengan pekerjaan yang dilakukan. Meski itu salah, tetapi kami, terutama saya dan isteri yang selalu salah.

“Itu sampah sengaja belum kami buang, Bu. Dalam bekas nasi kotak itu ada gelas-gelas plastik-nya, Bu!” kata saya menjelaskan.

“Ya, sekalian dibakar. Aku ndak tahu kalau di kotak nasi itu ada gelasnya. Untuk apa? Sampah kok disimpan!” jawab ibu makin kesal pada saya pagi itu.

BUKA BERSAMA Hari Kedua Ramadhan di Ponpes Tahfidz Rahmat, bersama Rumah Zakat Palembang dan Tabloid Ass-Sajidin, Selasa 7 Mei 2019

“Bu, kalau dibakar, gelas-gelas itu hancur jadi abu. Yang tadi malam sengaja kami buang di TPA supaya gelas plastik dan kardus kotak nasi bisa jadi sedekah ke pegumpul sampah plastik dan kardus. Kami biarkan,  kerena kami tidak mau  buang sampah, Bu,” jelas saya sudah mulai kesal.

“O, ya sudah, kalau gitu. Ibu memamg salah. Besok-besok aku tidak akan memerbersihkan sampah, kalau aku selalu salah!” ujar ibu dengan suara yang meninggi. Saya paham, dan sangat paham pada ibu saya, Sebab dialah yang melahirkan saya.

Kali itu ibu sudah marah.  Saya tidak mau membuat ibu kian marah, Apalagi Bulan Ramadhan. Tak baik marah-marah. Habislah pahala puasa saya. Pada ibu, saya juga tidak ingin menebar dosa. Ibu, bagi saya dan bagi siappaun tiga kali lebih mulia dibanding  ayah. “Siapa yang wajib kamu taati didunian ini? Kata Nabi : Ibumu! Lalu siapa?  Jawab Nabi : Ibumu. Terus siap lagi? Nabi menegaskan: Ibumu, dan siapa lagi ? ayahmu!” begitu kutipan hadits Nabi yang saya pahami.

Ibu mengandung, melahirkan dan menyusui. Sementara laki-laki macam saya, hanya “sekali” dan mencari nafkah.

“Kenapa, Yah? Kok pagi-lagi sudah debat sama ibu?” tanya isteri saya yang ternyata juga menyingkap hordin ruang tamu ketika saya dan ibu berdebat.

“Maksud  ayah, kita ini ndak bisa ngasih duit sama tukang sampah. Jadilah kita sedekah gelas platik bekas dan bekas tadi malam. Sebab, kita ini sebaiknya memberi walau sedikit, sebab tidak memberi itu lebih sedikit nilainya,” kata saya mengutip pesan sahabat nabi : Ali Bin Abi Thalib.**

Palembang, Ponpes  Rumah Tahfidz Rahmat, 08 Mei 2019

————————————————————-

Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Rahmat Palembang sedang mengembangkan lembaga, baik rencana perluasan area dan kurikulum bagi santri. Membutuhkan bantuan dan empatik dari para donatur, simpatisan yang ingin berjuang menyiapkan generasi penghafal Al-Quran. Donasi dapat dikirim melalui Bank BRI Cabang Poligon : No. Rek. 7017-0100-6430-53-4 atas nama : Rumah Tahfidz Rahmat. Semoga bantuan yang diberikan mendapat limpahan dan keberkahan dari Allah Swt. Amiin.




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com