Gerilya Wajah Petani di Halaman Rumah

PALEMBANG, HS – Sekelompok anggota masyarakat mengembangkan aneka produk rumahan. Kerja keras untuk memberdayakan kaum pinggiran.

Nyonya Soedjati nampak agak sibuk menghidangkan cendera mata—produk olahan persis di teras rumahnya. Kali itu, ia tak sendirian, ditemani Nurhidayah, Sukaesih, Ika Ariani, Sri Rusdawati, Zubaedah Soha, Harti Kristin, dan Firna Sansaria, mereka saling bergotong royong menderetkan sejumlah produk.


Sekelompok anggota masyarakat mengembangkan aneka produk rumahan. Kerja keras untuk memberdayakan kaum pinggiran.

Berbekal bahan baku yang hidup diseputaran pemukiman, para ibu-ibu ini pun bergerak menciptakan beragam produk. Ada abon lele, manisan kolang-kaling, dodol cabai, tempoyak, bandrek jahe merah, bubur merah, minuman terbuat dari minyak kelapa, dan banyak lagi yang lainnya.

Tepat di bagian sisi kanan teras, terpampang jelas sebuah nama ; KWT SEJATI. Tak banyak yang mengetahui bahwa di atas banner yang berukuran 2 x 3 meter tersyirat lika-liku perjalanan kelompok yang didominasi kaum wanita.

Maka tercetuslah Kelompok Wanita Tani (KWT) Sejati. Kendati pamor kelompok ini boleh dibilang masih kelas teri, namun kegigihan, semangat, tenaga, dan kerja keras anggota selalu melambung tinggi yang tiada pernah surut.

Walhasil, meski berdiri sekitar dua tahun lalu, produk olahan Ibu-ibu KWT ini bahkan sudah merambah ke luar kota, Jakarta misalnya. Kita, khalayak, bisa saja ‘menerjemahkan’, produk olahan itu adalah ide kreatif yang akan selalu diusung.


KWT Sejati yang bermarkas di Jalan Macan Lindungan, Perumahan Griya Cipta Sejahtera, RT  10 RW 05, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, itu terus fokus demi memerbaiki kualitas produk. Selain juga meningkatkan partisipasi warga.

KWT Sejati yang bermarkas di Jalan Macan Lindungan, Perumahan Griya Cipta Sejahtera, RT 10 RW 05, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, itu terus fokus demi memerbaiki kualitas produk. Selain juga meningkatkan partisipasi warga.

Nurhidayah SH, Ketua KWT SEJATI mengemukakan, awalnya tentu tidak mudah, apalagi membesarkan kelompok yang anggotanya kaum wanita. Jadilah, tahun pertama, para anggota coba “menjebol” kantong pribadi masing-masing untuk dapat memodali serta membiayai karya produk.

Kesulitan lainnya yang segera menyergap adalah kurangnya tenaga ahli. Tetapi, kesulitan teknis semacam itu tidak berarti dibandingkan dengan rumitnya mengubah pola pikir warga pinggiran yang berorientasi uang.

Memang tantangan itu tidak membuat para wanita tani Sejati menyerah dan angkat kaki. Perlahan-lahan upaya bantuan mulai terkabulkan. Hasilnya, lewat pemikiran Ir Wasista Bambang Utoyo (WBU) melalui WBU Solution Centre, kini KWT Sejati mendapatkan bantuan langsung berupa sarana dan prasarana.

“Dulunya alat-alat sering pinjam sama Ibu RT. Dikit-dikit pinjam tetangga. Gas habis, ya terpaksa minjam. Kualipun tak punya. Dan, Alhamdulillah sekarang ini lumayan tersedia. Yang membanggakan kami lagi Pak Wasista bahkan turut memberikan bantuan mesin jahit untuk anggota tani ini” cetus Nurhidayah.

Gagasan wanita tani Sejati ini ternyata bukan semata bergelut di produk hasil olahan. Jauh dari itu, bagaimanapun wanita tani pastinya bagian penting dalam menggapai kesejahteraan anggotanya melalui pemanfaatan pekarangan rumah. Nah, mereka diharapkan mampu jadi pilar suksesnya program diversifikasi pangan melalui pelbagai jenis tanaman berumur pendek.

“Saya lihat di sini, anggota wanita taninya kompak. Apalagi di sini telah dicanangkan sebagai Kampung Cabai, makanya kita coba membagikan benih unggul seperti selada, pakcay, bayam, kangkung, dan cabai,” demikian diutarakan Ir Sayuti Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kota Palembang melalui Ir Eni Suprihatin MM, Kepala Seksi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palembang disela-sela Sosialiasi Ketahanan Pangan 2019 di KWT Sejati, pekan ke I April 2019.

Eni barangkali optimistis bila KWT Sejati memungkinkan dalam memberdayakan ragam jenis tanaman hortikultura di pekarangan yang sempit.

“Yang terpenting saya kira untuk kebutuhan sehari-hari tercukupi,” kata Eni yang didamping Ir Lisdiana, SP MSi, Koordinator Penyuluh Gandus Novia Dara Puspita, serta Petugas Penyuluh Lapangan Wilayah Binaan Bukit Baru Hidayatullah.

Selepas penyerahan simbolis benih unggul, tim sosialisasi Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kota Palembang berkesempatan meninjau langsung lokasi demplot penyemaian dan pembibitan yang diprakarsai oleh Kelompok Tani Sehati.

istirahat sejenak di kebon cabai

Jelajahi Tani Sehati

Pagi di penghujung Ramadan, dua tahun lalu. Setelah bergegas, tiga pemuda yang berdomisili di Perumahan Griya Cipta Sejatera sedang bersiap untuk membersihkan got di sekeliling permukiman. Seakan tak kapok bau yang tak sedap. Alhasil, timbul naluri wacana merancang sebuah kelompok kecil.

“Daripada kita kerja sendiri-sendiri lebih baik berkelompok,” kalimat itu pun disepakati.

Apa boleh buat, karena kelompok dadakan tak mencantumkan anggaran akhirnya secara ‘kreatif’ pula kelompok dilahirkan dengan menghimpun dana seadanya. Ide-ide cemerlang bahkan mulai berdatangan agar kelompok tersebut bisa eksis. Satu di antaranya adalah ingin menjadikan wilayah perumahan laiknya sebagai ‘Kampung Cabai’.

“Tadinya, bagaimana kalau di atas got sepanjang rumah-rumah warga ditanami tanaman cabai keriting. Kan, kelihatannya lebih bagus…!. Cabai datang, rumput pun hilang,” disampaikan Arwen Wijaya, Ketua Kelompok Tani Sehati

Dilahirkan dalam keadaan tak sempurna, Kelompok Tani Sehati tak mau kalah. Berkat dorongan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Ir Wasista Bambang Utoyo, anggota tani Sehati diberikan bekal yang cukup. Bukan cuma itu, kepedulian WBU dalam membesarkan Poktan Sehati begitu tinggi.

“Berkat bimbingan Pak WBU dan PPL kita Pak Hidayatullah, kini baik KWT Sejati maupun Poktan Sehati jauh lebih baik,” Arwen setengah bangga.

Faktanya. Hampir 50 persen kondisi kawasan pertanaman di kota Palembang ini nyaris hilang. Kata sepakat, itu pun agaknya beralasan. Lihatlah, tak banyak pegiat kelompok tani yang mampu bertahan menyajikan buah karya nyata di tengah-tengah hiruk pikuk perkotaan. Boleh dikata hitungan jari.

“Apa yang dilakukan KWT Sejati dan Poktan Sehati ini sudah benar. Ini namanya pertanian yang sifatnya agribisnis. Bertani dalam polybag,” Ir Yuli Feri, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan berpendapat.

Salah satu titik perhatian Yuli Feri saat ini adalah ia berkeinginan menyaksikan langsung aktivitas para anggota kelompok yang ada di wilahan binaannya. Pertimbangnya, toh, siapapun ingin membuktikan apakah kelompok yang ada masih bertahan atau sebaliknya.

Bukan sekadar dicerminkan dengan adanya 9 buku di setiap kelompok, namun juga perlu dipertontonkan dengan konsep aksi anggota di lapangan.

“Dan, yang pasti saya tentunya perlu tahu apakah penyuluh kita memang betul-betul membina petani di kelompok ini,” sambung Yuli Feri didampingi Adi Suryadi, Kepala UPTD BPP Gandus.

Roda aksi nyata yang sedang dijalankan KWT Sejati maupun Poktan Sehati bagi kebanyakan orang pastilah sungguh melelahkan. Namun begitu, dua kelompok ini seolah ingin memberikan sinyal bahwa tak semua benda harus memiliki warna. Tersebab kelompok ialah negosiasi antara motif kerja dan makna yang mungkin dilakukan.

TEKS : Rinaldi Syahril Djafar/Haluan Sumatera




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com