Pertumbuhan pasar data center di Indonesia meningkat dua kali lipat sejak 2015

· Lonjakan big data dan konsumsi energi akan semakin besar dan dibutuhkan strategi pengelolaan yang tepat sasaran dan berdampak langsung pada efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas.

· Hybrid Cloud memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan data yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas dan anggaran perusahaan.

· EcoStruxure IT memungkinkan konsolidasi data dari berbagai aset infrastruktur data center dan memberikan analisa prediktif dan proaktif secara real time.

JAKARTA I KSOL — Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi, mengajak para pelaku industri dan ahli Teknologi Informasi untuk lebih mengenali kebutuhan manajemen data perusahaannya.

Terkiat dengan hal itu, lembaga ini mengambil langkah strategis dalam pengelolaan data center. Tujuannya, untuk meraih peluang ekonomi digital.

Hal tersebut terungkap pada Schneider Electric Innovation Day 2019 dengan tema “Powering and Digitizing the Economy” di Fairmont Hotel, Jakarta, (04-05/4/2019).

Xavier Denoly, Country President Schneider Electric Indonesia mengatakan saat ini industri tengah menghadapi gelombang internet berikutnya atau Internet of Things. 

Menurut Xavier, gelombnag internet ini tidak hanya menghubungkan antar manusia namun juga manusia dengan perangkat atau mesin dan perangkat dengan perangkat. Diperkirakan 5 miliar orang akan terkoneksi dengan 30-50 miliar benda dan mesin,

Dengan kata lain, secara tidak langsung 10 kali lebih banyak perangkat yang terhubung secara bertahap daripada orang yang terhubung pada tahun 2020.

Xavier menegaskan, lonjakan big data dan konsumsi energi akan semakin besar dan dibutuhkan strategi pengelolaan yang dapat mengubah data menjadi informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat sasaran. “Melalui strategi pengelolaan energi yang berdampak langsung pada efisiensi biaya operasional dan peningkatan produktivitas,” tambahnya. 

Lebih lanjut, Xavier mengatakan, pertumbuhan pasar data center di Indonesia meningkat dua kali lipat sejak 2015 hingga 2018. Kondisi ini, menurut Xavier akan terus bertumbuh.

Apalagi saat ini sudah diperkenalkan solusi hybrid cloud yang akan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan data yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas dan anggaran perusahaan.

Nantinya menurut Xavier, berbagai pilihan data center telah tersedia di pasaran yang memungkinkan manajemen perusahaan dan staf TI mengombinasikan pengelolaan datanya, baik dengan centralized data center on premise, cloud, maupun local edge data center.

Oleh sebab itu menurut Xavier, pada kondisi seperti ini perusahaan perlu mengenali kebutuhan pengelolaan data yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik bisnisnya.

Perusahaan yang tidak memiliki banyak cabang, bisa saja cukup dengan data center on premise yang tersentralisasi di kantor pusat dan cloud.

Namun perusahaan seperti retail, perbankan maupun institusi pemerintahan yang memiliki banyak kantor di daerah, perlu mengombinasikan antara centralized data center on premise, local edge data center dan cloud untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas data dan menghindari latensi data.

“Tantangan selanjutnya bagi perusahaan setelah mengenali kebutuhan pengelolaan datanya adalah memastikan ketahanan dan keberlangsungan operasional di dalam ekosistem data center yang semakin kompleks dengan strategi pengelolaan energi yang lebih andal dan efisien dalam satu platform,” ungkap Yana Achmad Haikal, Vice President of Secure Power Division, Schneider Electric Indonesia.

Kegiatan operasional data center membutuhkan pemantauan 24/7 mulai dari pasokan listrik, pengaturan suhu dan kelembaban udara, hingga identifikasi potensi kerusakan perangkat.

Dengan Eco Struxure IT dari Schneider Electric, arsitektur terbuka berbasis IoT untuk manajemen data center, perusahaan dapat mengoptimalkan kinerja infrastruktur dan mengurangi risiko.

Platform Eco Struxure IT dari Schneider Electric memanfaatkan teknologi artificial intelligence dan machine learning yang memungkinkan konsolidasi data dari berbagai aset infrastruktur data center di pusat cloud dan memberikan analisa prediktif dan proaktif untuk pengambilan keputusan secara real time.

Informasi dapat diakses dari jarak jauh melalui telepon genggam maupun PC sehingga dapat dilakukan pengambilan keputusan secara real time dan meningkatkan produktivitas staf TI.

Menurut Yana, sektor data center merupakan salah satu dari empat sektor yang menjadi fokus Schneider Electric di Indonesia selain sektor bangunan, industri dan infrastruktur.

Yana menyebutkan, 80% pelanggan korporasi yang telah menjadi koleganya, di segmen data center telah memanfaatkan Eco Struxure IT.

Di sektor perbankan, Bank Exim dan Bank BRI merupakan salah satu contoh pelanggannya yang menerapkan Eco Struxure IT untuk pengelolaan data centernya.

“Dengan Eco Struxure IT, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi energi hingga 30%, meningkatkan pengelolaan infrastruktur dan mengurangi risiko kendala listrik hingga 30%, serta menurunkan biaya operasional hingga 20%,” punkasnya, sembari menambahkan, untuk informasi lebih lanjut tentang Innovation Day Schneider Electric, pada kolega dapat bekunjung di www.se.com/id.

TEKS / FOTO : marief@proximity-pr.com   I  EDITOR : IMRON SUPIRYADI




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com