Kapolda Sumsel : Milenial paling mudah terkena hoax. Ciri Hoak “dapat dari grup sebelah”

PALEMBANG  I  KSOL — Berita hoax saat ini sangat banyak bertebaran di media. Baik  media massa maupun media sosial (medsos), seperti email, blog, facebook, twitter dan lain sebagainya. Generasi yang paling mudah terkena hoax adalah generasi millenial, karena generasi millenial selalu menggunakan medsos.

“Dalam hukum, generasi muda harus hati-hati menggunakan medsos. Kalau seseorang ketahuan mengirim berita bohong atau men-share hoax, maka orang tersebut bisa terkena sanksi dari undang-undang,” ujar Kapolda Sumsel, Irjen. Pol. Drs. Zulkarnain Adinegara pada diskusi publik dengan tema “Antisipasi Pemilu Dari Ancaman Perpecahan Bangsa”, di Auditorium Bina Praja Palembang, Sabtu (30/3/2019).


Kapolda Sumsel, Irjen. Pol. Drs. Zulkarnain Adinegara pada diskusi publik dengan tema “Antisipasi Pemilu Dari Ancaman Perpecahan Bangsa”, di Auditorium Bina Praja Palembang, Sabtu (30/3/2019).

Terkiat dengan hal itu, Kapolda mengingatkan pada peserta seminar, agar waspada terhadap hoax. Menurutnya, Hoax mempunyai ciri-ciri tertentu. Seperti huruf yang diperbesar dan ditebalkan (bold). Selain itu, beritanya selalu bertuliskan “dapat dari grup sebelah”.

Kapolda Sumsel mengatakan, informasi hoax adalah dusta atau kehobongan yang sangat berbahaya. Menurutnya, informasi hoax adalah berita bohong. Sementara orang yang membuat hoax sebenarnya mengetahui informasi yang dibuatnya kebohongan. Tujuan seseorang membuat hoax, agar pembacanya tertipu dengan informasi yang disebarkan.

Hoax Racun Demokrasi

Pada kesempatan yang sama, Fitriana, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesatuan Bangsa Politik (Kesbangpol) Sumsel, mengatakan hoax atau berita bohong merupakan racun demokrasi.

Menurut Fitriana, hoax dapat menyebabkan perpecahan bangsa, karena hoax berisi tentang ujaran kebencian. Sebagai generasi muda, millenial harus cerdas menganalisis berita, agar tidak terjerat informasi hoax.

Ciri-ciri hoax mudah diketahui. Seperti hurufnya yang kapital, judulnya bombastis, ditulis oleh media yang tidak jelas, informasinya bersifat mengancam dan foto yang ada di berita biasanya dimanipulasi. “Biasanya sumbernya tidak jelas,” katanya.

Ia menambahkan, selain hoax, ada beberapa masalah  yang dapat menyebabkan perpecahan bangsa di pemilu 2019. Diantaranya fanatisme yang berlebihan, radikalisme, terorisme, ujaran kebencian, money politik dan politik identitas.

Beiring dengan itu, Hefriyadi, SH,.MH, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumsel,  mengatakan, dasar yang paling nyata dari hoax, ketika media tersebut memberikan informasi tanpa menyertakan sumber.

“Ketika media memberikan informasi tanpa menyertakan siapa yang mengatakan, maka itu adalah hoax,” katanya.

Menurut Hefriyadi, untuk mengatur masyarakat agar terhindar dari perpecahan bangsa, maka pemilu 17 April nanti harus diatur secara serius. Untuk mencegah perpecahan, KPU bekerja sama dengan kepolisian aktif melakukan gerakan anti hoax.

TEKS / FOTO : MUHAMMAD RIDHO I EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com