Booking.com

Farida : Sriwijaya, melangit tapi tidak membumi  

PALEMBANG I KSOL — Sriwijaya selama ini disebut sebagai identitas kebesaran masyarakat Sumsel. Namun pertanyaannya, apakah masyarakat Sumsel memahami Sriwijaya merupakan budayanya sendiri, atau masyarakat Sumsel belum paham dengan sejarah Sriwijaya?

Pertanyaan ini diungkap sejarawan Sumsel, Farida R. Warga Dalem (Farida), dalam Dialog Keberagaman Kalimusi, yang mengusung tema “Jalan Pulang, di Pondok Pesantren Tahfidz Rahmat Palembang, Minggu (17/03/2019).

Menurut Farida, Sriwijaya selama ini diakui atau tidak menjadi simbol kebesaran masyarakat Sumsel. Nama Sriwijaya memang tinggi selangit. Namun faktanya, menurut Farida tidak membumi. Pempek, tim sepakbola, universitas, stadion sampai koran, semuanya memakai nama Sriwijaya.

Namun nama Sriwijaya yang demikian besar ini, menurut Farida warga Sumsel belum sepenuhnya memahami secara detil tentang Sriwijaya. Bahkan peninggalan tentang kebesaran Sriwijaya juga masih menjadi perdebatan.

Kurangnya pemahaman dengan sejarah Sriwijaya, kata Farida disebabkan minimnya literatur dan penggalian sejarah sejarah Sriwijaya. Penyebab kedua, kesan yang muncul di sebagian warga, pembahasan sejarah bagi masyarakat seolah tidak sexy atau tidak menarik.

“Kedua hal ini, merupakan penyebab utama masyarakat Sumsel kurang paham dengan sejarah Sriwijaya,” Farida yang kini menjabat Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumsel.

Senada dengan itu, Samudro salah satu peserta dilaog malam itu menjelaskan, hingga saat ini pusat kerajaan Sriwijaya masih belum terungkap. Samuro juga mengakui, masyarakat Sumsel hingga kini belum mengetahui letak pusat Sriwijaya di Sumsel. “Pusat Kerajaan Sriwijaya itu dimana, tidak ada,” tegas pengacara di Palembang ini.

Samudro melanjutkan, bila melihat fakta yang sulit dibuktikan, memunculkan asumsi pusat Kerajaan Sriwijaya tidak ada. Hal ini berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Misalnya Kerajaan Majapahit. Menurut Samudro, pusat kerajaan Majapahit hingga kini masih ada, terpusat di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Terkait dnegan itu, Samudro menyarankan kepada pemerintah, pengetahuai dan penggalian sejarah itu harus di prioritaskan mulai sekarang. “Jangan anggap sejarah sebagai persoalan nanti, tapi sekarang. Selama ini, pemerintah menganggap kalau sejarah itu persoalan nanti, bukan sekarang, apalagi sejarah Sriwijaya,” tegas Samudro.

Pada kesempatan yang sama, Sumarman, Praktisi Budaya di Palembang mengatakan, yang dimaksud dengan identitas adalah jati diri. Yaitu jati diri Sriwijaya dengan peradaban yang maju, kuat, percaya diri dan besar. Jati diri Sriwijaya yang besar dibuktikan dengan peninggalan prasasti, seperti prasasti yang ada di Thailand, India dan Tibeth.

Masyarakat Sumsel memang disatukan dengan ke-Indonesiaan, namun peradaban melayu dari Sriwijaya sangat terkait dengan Sumsel. “Sriwijaya sangat terkait dengan Sumsel, yang dimulai dari Bukit Siguntang,”. tambah Warman.

Warman juga menyinggung, apakah Laksamana Cheng Ho berhubungan dengan Sriwijaya. Hubungan ini belum jelas dan datanya belum ditemukan.

Replika Kapal Cheng Ho yang dibuat pemerintah juga bukan kapal Cheng Ho, melainkan seperti perahu kajang yang ada di Sumsel.

Seiring denegan itu, Imron Supriyadi, pegiat KaliMUSI berpendapat, untuk memaksimalkan pemahaman sejarah bagi generasi baru, wisata sejarah sangat penting untuk dilakukan. Salah satu caranya melibatkan lembaga pendidikan di Sumsel, untuk menguatkan kesadaran pentingnya sejarah.

Hal ini menjadi penting, untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap identitasnya sendiri, yang dimulai dari dunia pendidikan.

“Pemerintah harus mengenalkan sejarah Sriwijaya mulai dari sekolah. Seperti wisata sejarah Sriwijaya,” kata ujar Imron pengasuh onpes Tahfidz Rahmat ini.

TEKS / FOTO : MUHAMMAD RIDHO




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com