PERADABAN COSPLAY

Oleh : Lukman Hakim

“Setiap pakaian memberimu peran badut yang berbeda bagi jiwamu.”

Nasruddin Hoja bermaksud menghadiri perjamuan. Beberapa hari sebelumnya, Sultan memang mengundang secara khusus, di samping tetamu yang lain, yang umumnya terdiri dari para pembesar istana.

Ini tentu bukan kali pertama ajakan sultan. Dan meski demikian, beberapa punggawa penjaga pintu melihatnya sebagai sosok yang asing, yang karenanya mesti dihalau. Malam itu, Nasruddin memang datang dengan hanya dilengkapi kostum tua nan kumal, pakaiannya sehari-hari. Barangkali tak keliru kalau penjaga lalu berpikir, “bagaimana mungkin kami meloloskan seorang gembel memasuki pesta para para pejabat?”

Tak lama, Nasrudin kembali. Kali ini ia mengenakan bebajuan serba wah. Terompahnya klimis dan jubahnya sutra (yang entah dia pinjam dari mana). Melihat itu, para penjaga mempersilahkan Nasruddin masuk. Tetapi belum sempat bertemu pengundangnya, sang Sultan, ia tiba-tiba berdiri di atas meja jamuan. Dilepaskannya seluruh pakaian yang melekat ditubuh. Kepada sepatu, kepada baju, yang mendadak disumpalinya dengan makanan, ia berteriak:

“Nah, sekarang kalian boleh makan sepuasnya!”

Setengah telanjang, Nasruddin ngeloyor pergi. Saat ditanya kenapa ia melakukan itu, ia menjawab:

“Tadi, saat aku masih mengenakan pakaian kusam, kalian melarangku masuk dan ikut perjamuan. Sekarang, sewaktu pakaianku sudah kuganti dengan yang baru, kalian mempersilahkan aku masuk. Jadi perjamuan itu sebetulnya bukan untukku, tapi buat kostumku. Maka pakaianku-lah yang memiliki hak untuk makan di tempat itu, bukan aku!”

Nasruddin Hoja memang sebuah anomali. Atraksinya di aula istana itu memang ekstrim, meski bukan dengan kejujuran yang dibuat-buat. Dan seketika, Nasruddin menohok relung-relung kesadaran peradaban kita yang serba Cosplay.

Cosplay adalah kependekan dari Costume Play. Lazim diterjemakan sebagai “Permainan Kostum”, apa yang di Jepang dikenal dengan sebutan Kosupure ini tak lain sebuah permainan di mana pelakunya (Cosplayer atau kadang juga diakronimkan dengan Coser) menyaru menjadi tokoh tertentu yang lazim ditemukan dalam kebudayaan populer macam drama, manga, anime, dan sebagainya. Caranya: ambil kostum ala Son Goku, tokoh utama manga/anime Dragon Ball, misalnya, lalu berteriaklak dengan kencang, “Kamehameha!” Supaya lebih meyakinkan, Anda juga bisa mengecat rambut dengan warna kuning sedemikian rupa, setelah sebelumnya meriasnya dengan jel, dan lalu mendaku diri sebagai seorang Super Saiyan.

Menurut penyelidikan Robin S. Rosenberg, dalam The Journal of Cult Media, orang mengikuti ajang permainan kostum karena berbagai alasan. Dari yang remeh temeh laik alasan sekedar mencari hiburan. Sampai yang cukup serius, seperti sebagai bentuk ekspresi diri, menunjukkan karya, keinginan untuk menjadi pesohor dalam waktu singkat, atau bahkan demi proses identifikasi dengan cara memirip-miripkan diri dengan sang idola.

Demikianlah Cosplay. Dan di dunia nyata, kostum memiliki peranannya tersendiri.

Dulu, cara paling mudah untuk melihat sejauh mana kostum dianggap amat penting adalah dengan merangsek masuk ke sekolah-sekolah. Tanpa seragam, Anda akan diusir satpam. Itulah mengapa sampai Ranchoddas Shamaldas Chanchad, tokoh utama dalam film 3 Idiots, berkata, “Untuk sekolah, kau tak butuh uang, kau hanya perlu seragam.”

Orang jawa bilang, “Ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana”. Nilai diri terletak di mulut, nilai fisik terletak pada pakaian. Kostum adalah penanda sosial dan kultural. Dan hari-hari ini, untuk menjadi “Aji”, atau agar kita dapat naik kelas (baik secara sosial maupun kultural), kita mau tak mau mesti berjabat tangan dengan industri. Hari-hari ini, apa yang tak dapat dijual? Apa yang tak bisa di-komoditas-kan?

Jilbab Syar’i? Jambul Syahrini? Baju koko Ustadz Jefri? Topi tauhid? Kaos bola? Sulam alis? Operasi payudara? Surjan jawa? Gamis mesir? Surban Imam Bonjol? Tank Top Black Pink?

Hari-hari ini, untuk sekedar memperoleh label relijius, kita cukup membeli peci, atau tasbih, atau kerudung, betapapun pada saat yang sama kita sedang duduk di kursi pesakitan sidang perkara korupsi. Untuk sekedar dicap kafir oleh komunitas kaum muslimin, cukup beli bandul salib, kalungkan di leher, lalu ambillah foto selfie dan pajang gambar tersebut di fesbuk. Untuk sekedar dinilai sebagai muslim pecinta NKRI, cukup beli ikat kepala ala jawa, dan shalatlah dengan mengenakannya sebagai ganti dari peci. Untuk sekedar dituduh PKI, cukup beli oblong palu arit. Untuk sekedar dianggap berkelas, cukup gonta-ganti gadget. Untuk sekedar dielu-elukan sebagai Ustadz, cukup beli gamis dan imamah. Untuk sekedar dianggap sudah berhijrah, cukup beli pakaian muslimah.

Sementara itu, tanpa sadar, sihir kostum memaksa kita menjadi sosok-sosok yang berbeda; pribadi-pribadi yang kehilangan otentisitas; orang-orang yang tak berani jujur pada dirinya sendiri. Seperti kata Shodanco dalam novel “Cantik Itu Luka”: “Setiap pakaian memberimu peran badut yang berbeda bagi jiwamu.”

Maka, di sela-sela hutan gunung Pucangan, Yuk Paejah mendadak tampil percaya diri, naik ke atas panggung organ tunggal dan bernyanyi, setelah pipinya berhasil disedot lemak. Ia merasa sudah Angelina Jolie. Tidak, baginya, ia bahkan Angelina Jolie itu sendiri. Dan, di bawah mimbar, di sebuah masjid, Kang Warimin disodori mikrofon setelah tuntas mengenakan gamis dan imamah. Tak peduli ia hanya baru berhasil melafalkan hamdalah dengan bunyi “Alkamdulillah”, menyebut Kanjeng Nabi dengan “Rasulullah Hulaihi wa Salam”, dan menghapal satu hadits “Kullu bid’ah dholalah”.

Wallahu a’lam bis shawab.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *