Tangkiang dan Dangau, Bangunan Adat Suku Semende yang Tahan Gempa

PALEMBANG   I   KSOL — Ada dua bangunan yang selalu bersanding, berbentuk rumah panggung dan berdiri di sawah yang digarap masyarakat Suku Semende, di bentang Bukit Barisan di bagian selatan, Kabupaten Muara Enim.

Bangunan tersebut terbuat dari papan dan kayu yang sudah menghitam legam karena dimakan umur. Pada atapnya berbentuk meruncing bagai tanduk kerbau, selintas mirip Rumah Adat Minang yang dicampur Rumah Adat Toraja. Tapi desain rumah suku Semende ini berbeda pada atapnya yang sedikit melandai dan tidak terlalu meruncing.

Nama dua bangunan itu adalah Tangkiang dan Dangau. Tangkiang digunakan sebagai tempat menyimpan padi, sedang dangau sebagai tempat peristirahatan petani di sawah. Yang membuat bangunan ini beda dari daerah lain, yakni ada ukiran khas dan dibuat dengan kontruksi anti gempa. Setidaknya demikian menurut sumber di suku Semende.


BACO TULISAN LAINNYO : Adat Semende, jalin silaturahmi melalui Berburu Babi


Bangunan tersebut adalah peninggalan puyang (nenek moyang) mereka sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. “Kami yang merawat peninggalan puyang kami,” kata Fadli, ketika ditemui di sawah Desa Pelakat, Kecamatan Semende Darat Ulu, Jum’at 26 Oktober 2018.

Menurut petani yang berumur 60 tahun itu, ukiran pada kedua bangunan itu menggambarkan kekayaan Semende yang hidup di perbukitan.

Dia juga menjelaskan, kontruksi bangunan tangkiang dan dangau itu menggunakan pasak yang menghubungkan bagian rangka. Maka, jadilah tidak ada satu pun paku di bangunan itu. Walau demikian, Fadli menjamin tangkiang dan dangau karya nenek moyang mereka ini anti gempa.

Fadli menjelaskan, tiang tangkiang dan dangau mereka tidak ditanam dalam tanah, tapi berdiri diatas batu yang lebar, besar dan kuat. Kayu untuk tiang pun bukan sembarangan, karena mereka hanya memilih kayu kuat mulai dari meranti, kayu berbau bahkan kayu ulin yang sering disebut kayu besi.

Dengan dengan demikian, apabila terjadi gempa, bangunan itu hanya bergoyang saja tanpa ada ketakutan patah tiang. “Kami ini hidup di atas bukit, jadi bangunan kami harus tahan gempa,” kata Fadli.

Mereka juga mendesain tangkiang anti tikus, dengan cara membuat dinding di bagian dalam. “Pada bangunan rumah panggung biasa, papan akan dibuat di bagian luar dan sento yang dipasang melintang berada di dalam, tapi kami sebaliknya,” kata Fadli.

Menurut Fadli hal itu dilakukan supaya tikus tidak bisa masuk ke dalam tangkiang. Dia menjelaskan, biasanya tikus itu berjalan di rumah panggung melalui tiang sento yang melintang. “itulah sebab kami meletakkan tiang sento yang melintang di bagian luar.”

TEKS/FOTO : TEMPO.CO/AHMAD SUPARDI (Palembang)




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com