Ikut Pusat, MUI Sumsel : ajak warga memaafkan Pembakaran “bendera tauhid”

Prof. Aflatun Mochtar, MA, Ketua MUI Sumsel

PALEMBANG  I KSOL —  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel, mengamini MUI Pusat yang mengajak warga agar memaafkan aksi pembakaran “bendera tauhid” yang mirip bendera HTI.  Hal didasarkan pada pertemuan sejumlah ormas Islam pada Selasa, (30/10/2018).

“Sikap MUI Sumsel sama dengan MUI Pusat, yang mengajak publik memaafkan para pelaku pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Hal itu di dikatakan Prof. Aflatun Mochtar, MA, Ketua MUI Sumsel kepada kabarsumatra.com, Palembang, Jumat (01/11/2018).

Menurut Aflatun persoalan pembakaran bendera itu tidak perlu diperpanjang lagi, karena pelau sudah menyadarai kesalahannya. Hal itu beriring dengan Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi seperti yang dikutip kompas.com.

“Pelaku sudah menyadari kesalahannya, karena telah membakar bendera yang mereka kira sebagai bendera ormas HTI yang sudah dilarang oleh pemerintah,” ujar Zainut.

Lebih lanjut, Aflatun mengatakan masalah pembakaran bendera ini sudah selesai. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. “MUI Sumsel sudah melaksanakan diskusi dengan pemerintah dan seluruh ormas Islam di Sumsel. Jadi masalah ini sudah selesai,” ujar Prof. Aflatun kepada kabarsumatra.com, Palembang, Jumat (01/11/2018).

Simbol kecintaan Banser dan NU

Ketua Tanfidziyah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Sumsel, Heri Candra

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Sumsel, Heri Candra mengatakan, aksi pembakaran bendera berlambang kalimat tauhid yang identik dengan bendera ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) hal itu murni bagian dari kecintaan NU dan Banser terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pembakaran bendera berlambang HTI di Garut, Jawa Barat adalah bagian dari rasa cinta NU dan Banser kepada NKRI,” tegas Heri kepada kabarsumatera,com yang sekarang, Jumat (01/11/2018).

Pembakaran bendera itu, sebagai bentuk dukungan Banser dan NU terjadap pemerintah yang telah membubarkan HTI. “Siapa yang tidak marah jika perayaan Hari Santri Nasional 2018 di Garut, Jawa Barat di warnai dengan munculnya bendera HTI yang jelas-jelas terlarang! Hal itu dapat menodai dan menciderai nilai-nilai kebangsaan yang selama ini dijaga NU,” ujarnya ketika ditemui di kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumsel.

Pernyataan Heri Candra diamini Wawan Triatno, Komandan Banser Palembang. Menurut Wawan, pembakaran bendera HTI di Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu merupakan bentuk kecintaan Banser terhadap bangsa Indonesia.


“Komentar saya sama seperti Kiai Heri Candra. Pembakaran bendera HTI spontan dilakukan, sebab kita tahu HTI kan sudah dibubarkan, tapi kenapa bisa muncul di acara Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat,” kata Wawan kepada kabarsumatera.com di kantor DPW PKB Sumsel, Jumat (01/11/2018).

Kurangnya pengetahuan

Lan halnya dengan Arman Darmawan, Ketua Majelis Sinergi Kalam (MASIKA) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Sumsel periode 2017-2018. Menurut Arman, pembakaran bendera berlambang tauhid itu dilakukan, didasarkan kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki salahs atu oknum orrmas tersebut.

“Terjadinya pembakaran bendera tauhid tersebut, didasarkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh salah satu kelompok organisasi Islam,” ujar Arman kepada kabarsumatra.com, Palembang, Jumat (01/11/2018).

Namun demikian, Arman menyebutkan pembakaran bendera itu, diyakini sebagai ekspresi dukungan Banser terhadap pemerintah yang telah membubarkan HTI sebagai organisasi yang dilarang di negeri ini.

“Mereka (Banser) menganggap bendera tersebut adalah bendera HTI. Karena HTI sudah dibubarkan, jadi simbol-simbolnya juga harus tidak boleh muncul, apalagi di hari santri nasional,” tambah Arman.

Terpisah, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumsel, Prof. Dr. Romli S.A, M. Ag, apapun alasannya pembakaran bendera ormas Islam itu tidak etis.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumsel, Prof. Dr. Romli S.A, M. Ag

Menurutnya, pembakaran bendera atau spanduk yang bertuliskan kalimat tauhid, darimana pun asalnya apakah dimiliki salah satu organisasi tertentu, terlarang atau tidak, menurut tetap tidak etis. Bahkan akademisi UIN Raden Fatah Palembang ini menegaskan hal itu dapat dikategorikan sebagai pelecehan atau penistaan Islam.

“Pembakaran bendera bertuliskan “La Ila Ha Illallah Muhammad Rasulullah” yang dituduhkan kepada HTI, tetap dianggap pelecehan terhadap Islam,” ,” ujarnya lanjut Prof. kepada kabarsumatra.com, Jumat (01/11/2018).

Pernyataaan Romli itu berdasar pada kenyataan, saat pembakaran, para peserta aksi membaca shalawat dengan emosi, dan meluapkan kemarahannya. Saat itu langsung melakukan pembakaran bendera berwarna hitam itu. “Persoalannya sekarang bukan siapa yang memiliki dan menyebarkannya, tetapi bendera itu ada tulisan kalimat tauhid,” sambung Romli.

Sejumlah pernyataan itu, terkait dengan aksi pembakaran bendera yang betuliskan kalimat tauhid oleh (Barisan Ansor Serbaguna) Nahdlatul Ulama (NU) pada Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober 2018 di lapangan Alun-Alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut jawa Barat.**

TEKS : MUHAMMAD RIDHO  I  FOTO : GOOGLE IMAGE




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *