Media Bermartabat, harus mendinginkan Pemilu 2019

PALEMBANG  I KSOL  — Media dan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 memiliki hubungan erat. Untuk mewujudkan pemilu yang berkualitas harus dengan media. Sebab media merupakan tempat menciptakan suasana sejuk di Pemilu 2019.

“Pemilu yang di Indonesia termasuk pemilu terbesar, rumit dan kompleks. Agar Pemilu 2019 berjalan kondusif, dibutuhkan peran media yang bermartabat, yaitu media yang dapat mendinginkan suasana Pemilu 2019,” ujar Agus Sudibyo, Koordinator Kaukus Media dan Pemilu, Rabu (31/10/2018).

Menurutnya, media harus memberikan ruang yang baik, agar masyarakat dapat bertoleransi dan saling menghargai di Pemilu 2019. Agus juga menegaskan media juga berkewajiban memberikan ruang yang mencerahkan.

“Sehingga masyarakat saling menghargai walau berbeda pilihan di Pemilu 2019,” tambah Agus Sudibyo ketika ditemui kabarsumatra.com, pada Editor’s Forum “Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas”, Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) di Hotel Aston Palembang.

DISKUSI  —  Suasana diskusi pada Editor’s Forum “Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas”, Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) di Hotel Aston Palembang. (Foto.Dok.KSOL/Putra AP)

Mantan jurnalis Jawa Pos Biro Yogyakarta (1998-1999) ini berharap pada Pemilu 2019, pers tidak boleh memprovokasi dan wajib menjaga situasi agar kondusif. Salah satu langkah yang dibuat untuk menjaga kesejukan Pemilu 2019, dengan membuat Kaukus Media dan Pemilu.

“Pers tidak boleh memprovokasi dan harus menjaga situasi Pemilu 2019 agar kondusif. Dan gerakan menciptakan media bermartabat untuk pemilu berkualitas adalah tujuan utama berdirinya Kaukus Media dan Pemilu,” kata Agus.

Hal yang sama disampaikan Bambang Harymurti, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo di tahun 1999 ini mengatakan, media bermartabat adalah media yang menyebarkan berita baik dan media bermartabat pasti menaati kode etik jurnalistik.

“Karena kalau media tersebut dapat dipercaya, walaupun beritanya sudah 10 tahun yang lalu, pasti masih dicari dan dibaca masyarakat,” tambah Harymurti.

Harymurti juga menjelaskan tantangan di kalangan jurnalis saat Pemilu. Menurutnya, godaan terbesar media atau jurnalis senior adalah menjadi tim sukses (Timses).

“Godaan terbesar media atau jurnalis senior dalam pemilu adalah jadi timses. Dalam portal berita, lebih baik media tersebut menjelaskan kalau opininya mendukung pasangan calon tertentu, karena itu lebih kesatria, daripada sembunyi-sembunyi,” kata mantan Wakil Ketua Dewan Pers ini, Rabu (31/10/2018).

Pada kesempatan itu juga, Freddy H. Tulung, Tenaga Ahli Kominfo menyampaikan kewajiban pentingnya media bermartabat yang harus memberikan konten berita yang bersifat edukasi kepada masyarakat.

Menurutnya, media konvensional ataupun media sosial (instagram, facebook dan twitter) harus memberikan konten berita yang edukatif. Kedua jenis media ini, harus memberi pemahaman yang baik kepada khalayak.

“Seperti pada Pemilu 2019 itu, pesan yang harus dimunculkan kemeriahannya, bukan selalu pertentangan.  Pesan utamanya itu,” ujar Freddy.

Terkait dengan Pemilu 2019, Freddy menyebut ada beberapa isu yang berpotensi menghambat pesata demokrasi itu. Diantaranya politisasi isu, konflik antar pendukung dan ketidaknetralan beberapa media.

“Untuk mengantisipasi politisasi isu, konflik antar pendukung dan ketidaknetralan beberapa media di Pemilu 2019, Dibutuhkan peran Kaukus Media dan Pemilu. Karena itulah tujuan awal berdirinya lembaga ini,” tegas Freddy.

Diakhir acara, Komisaris Besar Polisi (Kombes.Pol) Polda Sumsel Bambang Suminto mengatakan, terkait media bermartabat, polisi juga memiliki aturan yang tertuang di pasal 10 dan pasal 21. Isinya membicarakan tentang materi yang diberitakan dan ketertiban media.

“Intinya berbicara tentang kesopanan, bijak, beradab dan mendidik dalam media,” kata Bambang pada acara yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Direktorat Pengelolaan Media.

Selain keempat narasumber, kegiatan ini juga dihadiri Amrullah (Kepala Bidang Informasi Publik Kominfo Sumatera Selatan), Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumsel, para Pemimpin Redaksi Media di Sumsel dan para Jurnalis di Sumsel.**

TEKS : MUHAMMAD RIDHO  I  FOTO  : PUTRA ANWAR PRATAMA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *