Antisipasi radikalisasi mahasiswa, Ormawa esktra akan diperketat masuk kampus


PALEMBANG I KSOL —  Mengantisipasi berkembangnya pemikiran radikal di kalangan kampus yang merasuki mahasiswa, diperlukan langkah stragis. Diantaranya perlu ketegasan para rektor di Indonesia, yang memperketat masuknya organisasi mahasiswa (ormawa) ekstra kampus menggelar acara di internal kampus.

“Dalam konteks ini ada proses yang menunjukkan penetrasi kepada mahasiswa seperti rekrutmen baik terbuka maupun tertutup, pendidikan dasar, pelibatan dalam aktivitas organisasi serta keterikatan pada organisasi,” ujar Dr Yenrizal, M.Si, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UINRF) Palembang, saat melaporkan hasil penelitiannya tentang strategi kebijakan deradikalisasi beragama di kalangan mahasiswa (Perspektif Rektor UIN di Indonesia) di ruang rapat Gedung Rektorat UINRF, Jumat (26/10/18).

Pentingnya kebijakan ketat terhadap masuknya ormawa ekstra kampus, menurut Wakil Dekan I FISIP UINRF Palembang ini karena pemikiran radikal di kalangan mahasiswa tidak lepas dampak dari perkembangan isu politik dan kebijakan pemerintah.

LP2M  — Prof. Sirozi, Rektor UINRF Palembang dan Dr. Yenrizal, M.Si, melaporkan hasil penelitiannya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Raden Fatah Palembang. Laporan itu kemudian di-review 2 orang narasumber; Prof. Dr. H. Suardi Asyari, M.A., P.h.D, Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN Jambi, Prof. Dr. Ardiyan Saptawan, M.Si, Pakar Kebijakan Publik Universitas Sriwijaya, dipandu Dr. Tarech Rasyid, M.Si sebagai moderator.

Hal diatas, acapkali menimbulkan kontroversial di kalangan mahasiswa, sehingga mendorong pengetahuan dan pemahaman mahasiswa yang bervariasi. Termasuk didalamnya perkembangan politik luar negeri khususnya berkaitan dengan isu negara Islam.

Berdasar itu, di setiap kampus dibutuhkan penguatan kurikulum yang mengarah pada isu-isu update dan outcome yang ingin dicapai mahasiswa, sehingga pemikiran mahasiswa terhindar dari paham radikal.

Hal lain yang juga penting, menurut alumnus S.2 Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini, perlunya ketegasan para rektor dalam menerapkan kebijakan.

Menurutnya, para rektor semestinya menerapkan kebijakan, seperti pelarangan organisasi ekstra kampus dalam bentuk apapun untuk tidak melakukan aktivitas di dalam kampus, kecuali dijadikan sebagai narasumber pada kegiatan dialog terbuka.

Sebab, diakui atau tidak menurut Yenrizal, potensi radikalisme di kampus ini muncul tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat, mengakibatkan dinamika ormawa yang bersinggungan dengan elemen organisasi ekstra kampus.

Pada paparan kali itu, Yenrizal juga menyebutkan fenomena kemunculan radikalisme di kampus dipengaruhi beberapa faktor. “Diantaranya minimnya wawasan kebangsaan, pengaruh kegalauan, pengaruh sosial, politik dan kebijakan pemeritah,” ujarnya.


Lebih lanjut Wakil Dekan I FISIP UINRF ini menambahkan faktor lain yang menjadi penyebab munculnya pemikian radikal di kampus; pembinaan internal organisasi mahasiswa (ormawa), kurikulum dan metode pembelajaran.

Di masa mendatang, menurut Yenrizal , kebijakan yang dibuat para pimpinan UIN seharusnya bukan hanya bertumpu pada isu radikalisme-nya saja, melainkan pada aspek preventif, bukan tindakan yang dilakukan.

Acara kali itu Prof. Sirozi, Rektor UINRF Palembang dan Dr. Yenrizal, melaporkan hasil penelitiannya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Raden Fatah Palembang. Laporan itu kemudian di-review 2 narasumber; Prof. Dr. H. Suardi Asyari, M.A., P.h.D, Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN Jambi, Prof Dr. Ardiyan Saptawan, M.Si, Pakar Kebijakan Publik Universitas Sriwijaya, dipandu Dr. Tarech Rasyid, M.Si sebagai moderator.

Menurut Sirozi, penelitian yang berjalan selama 3 bulan ini difokuskan pada lima UIN di Indonesia seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Antasari, UIN Alauddin dan UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Menurut Sirozi, penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menjelaskan ada tidaknya keterkaitan perguruan tinggi dengan radikalisme dan potensi ancamannya.

“Meski UIN fokus pada studi agama namun kasus radikalisme minim. Kemudian hasil penelitian ini sendiri akan kita ajukan untuk dijadikan jurnal baik nasional maupun internasional. Selain itu juga bisa menjadi bahan rekomendasi kebijakan bagi Kementerian Agama,” jelasnya.**

TEKS / FOTO : KEMAS ARI/HUMAS UINRF    I  EDITOR  : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *