Dokter Forensik : Meninggalnya santri di Ogan Ilir akibat pukulan di kepala

PALEMBANG  I  KSOL  — Dokter Forensik Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palembang, dr Indra mengatakan, meninggalnya Finanda Juni Harta (14), salah santu santri di Ogan Ilir Sumatera Selatan diduga akibat terkena pukulan benda di kepala.

Hasil otopsi menunjukkan bebeberapa luka lebam lain di tangan, kaki hingga kepala. “Dugaan meninggal karena pukulan benda tumpul di kepala yang menyebabakan korban tewas,” ungkap Indra.

Dilansir kompas.com Indra menyatakan, yang menjadi penyebab Finanda merenggang nyawa, akibat pukulan keras pada titik vital. Dari visum luar, Indra melihat jika ada bekas pukulan benda tumpul di bagian belakang kepala. Begitu juga dengan kaki dan tangan korban.

“Akibat pukulan di titik vital (belakang kepala) diduga membuat korban tewas,” kata dr. Indra.

BACO JUGO BERITA SEBELUMNYO :

Diungkapkan dr Indra, pukulan benda tumpul di kepala dan tubuh korban pun disinyalir baru berlangsung kurang dari 1×24 jam.

“Kalau dilihat itu sepertinya masih baru dan sebelum korban tewas, bukan luka lebam lama,” ujarnya.

Diinformasikan sebelumnya, Finanda adalah salah satu santri di pesantren di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, ditemukan tewas lantaran diduga menjadi korban penganiayaan.

Korban yang diketahui bernama Finanda Juni Harta (14), mulanya dikabarkan oleh pihak pondok pesantren mengalami sakit sekitar pukul 24.00WIB, Senin (23/10/2018) malam kemarin.

Namun, pukul 01.00 WIB dini hari, Selasa (23/10/2018), keluarga kembali dikabarkan bahwa Finanda sudah meninggal. Mereka pun akhirnya membawa jenazah Finanda ke Desa Muara Kunjung, Kecamatan Babat Toman Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), untuk dimakamkan.

Namun saat memandikan jenazah, pihak keluarga curiga Finanda meninggal tak wajar. Sebab, di tubuh korban ditemukan ada bekas luka lebam di belakang kepala.

Temuan tersebut akhirnya mengurungkan niat untuk memakamkan jenazah Finanda. Pihak keluarga pun memutuskan membuat surat permintaan otopsi ke Polda Sumsel.

“Ada luka lebam pada bagian punggung, lengan dan ada luka bekas benturan pada kepala bagian belakang. Kondisi ini sangat tidak wajar. Kata pihak ponpes keponakan saya ini meninggal dunia karena sakit, tapi malah ada luka lebam,” kata Senen (36), paman korban usai otopsi di ruang jenazah Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palembang.

Senen melanjutkan, Finanda telah masuk pondok pesantren sejak 1,5 tahun dan tinggal di asarama. Satu pekan terakhir saat pulang ke rumah, menurutnya, korban sempat mengeluhkan ingin pindah ke sekolah lain. “Dia tidak mau lagi masuk pondok, tidak cerita alasannya apa. Yang jelas kematiannya janggal,” ujarnya.

TEKS : TIM KSOL   I   FOTO   : KOMPAS.COM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *