Prof Suwardi : Maksimalisasi kesadaran literasi, penuhilah rumahmu dengan “batu”

JAKARTA  I  KSOL — Batu adalah benda mati yang memiliki makna terhadap upaya maksimalisasi dalam peningkatan dan penguatan kesadaran literasi di masyarakat. Pada masa anak-anak, sebagian orang pernah kenal dengan mainan, yang memiliki unsur batu. Salah satu diantaranya, ketika anak-anak di suku Jawa bermain dakon, salah satu pernaiman tradisional yang menggunakan media kerikil (batu kecil-kecil).

Ibu-ibu yang akan memasak pun tidak lepas dari batu. Setiap kali hendak memasak, saat menumbuk  bumbu, selalu memilih cobek, yang terbuat dari batu dari pada kayu. Bahkan saat makan pun, tanpa sengaja kita ketemu nasi yang terselip batu.

“Beberapa obyek wisata juga terdiri dari batu. Misalnya, seni patung, obyek wisata Malin Kundang. Beberapa candi di Indonesia, juga dari batu.  Bahkan ketika saya, melakukan ibadah di Makkah sekalipun, saat itu juga mengelilingi Makkah yang terbuat dari batu. Maka penuhilah rumahmu dengan batu,” ujar Prof. Dr Suwardi Endraswara, M. Hum, pada acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Tenaga Literasi se-Indonesia, yang digelar Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa (10/7/2018).

Prof. Dr Suwardi Endraswara, M. Hum, pada acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Tenaga Literasi se-Indonesia, yang digelar Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa (10/7/2018).

Lebih lanjut, Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menjelaskan melihat kenyataan itu, batu menyimpan nilai estetika. Batu bisa menjadi wahana yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Sebab, diakui atau tidak, anak-anak selalu tertarik dengan hal-hal estetik (seni). “Oleh sebab itu, jadikanlah batu sebagai alat yang menyenangkan bagi anak-anak, terutama untuk memaksimalkan kesadaran berliterasi di masyarakat,” ujarnya.

Batu yang disebut Suwardi bukanlah batu sebenarnya, melainkan BA-TU akronim dari : baca dan tulis. Tujuan memenuhi “batu” di rumah menurut Suwardi untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman literasi bagi anak sejak dini, sehingga kelak dewasa akan membangkitkan kesadaran ruang dalam berperilaku di masyarakat.

Suwardi menambahkan, paling tidak ada kunci penting dalam meningkatkan kesadaran literasi dalam diri anak. (1) Memberi spirit atau semangat. (2). Memberi motivasi kepada anak untuk selalu bermain dengan batu (baca dan tulis). Selain itu, Suwardi juga menegaskan terhadap 3 unsur penting dalam memotivasi anak dalam literasi, yaitu ; 3K (kemauan, kepedulian dan kemapuan (skill).

Keluarga kunci pembuka

Pada materi berikutnya, Prof Dr Dadang Suhendar, M. Hum menjelaskan tentang peran penting tiga lembaga dalam memaksimalkan literasi di Indonesia, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. “Tiga lembaga ini memiliki peran penting dalam  ikut serta memaksimalkan dan peningkatan kesadaran literasi di negeri ini,” ujarnya.

Prof Dr Dadang Suhendar, M. Hum (kanan) menjelaskan tentang peran penting tiga lembaga dalam memaksimalkan literasi di Indonesia, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

Keluarga, sebagai lembaga yang pertama mendidik putra-putri, akan sangat berdampak pada proses perkembangan dan pertumbuhan bagaimana tradisi dalam keluarga. Keluarga disebut Dadang sebagai pintu pembuka bagaimana kesadaran literasi ini dimulai. “Bila dari keluarga sudah terbiasa, pintunya sudah dibuka dengan tradisi membaca dan menulis, maka kelak anak tersebut di luar keluarga, misalnya di sekolah dan di masyarakat juga akan terbentuk, atau minimal memiliki kebiasaan membaca dan menulis, tanpa diperintah,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Dadang menegaskan, keluarga bisa dikatakan sebagai pintu awal untuk membangkitkan kesadaran literasi. Kemudian, tradisi membaca dan menulis dari keluarga ini, akan terbawa ke sekolah, hingga di masyarakat.

TEKS : IMRON SUPRIYADI – JAKARTA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *