Gerakan Radikal Seni ‘Rupa Bule’

Oleh Jajang R kawentar, Penulis di Art Critique Forum, Yogyakarta

ANTARA EKSPRESI SENI yang brutal menggigit leher ayam hingga urat nadinya putus, darahnya muncrat dan ekspresi koruptor mengganyang uang rakyat, semua itu layak sebagai pelajaran hidup.

Prilaku radikal dalam hidup diaplikasikan pada proses berkarya seni lukis; sebuah tata cara dan ritual yang menyeleweng dari ranah umum yang terdidik, jauh dari tata kesopanan, namun hal itu menunjukkan adanya keberagaman pengetahuan dan wawasan seni budaya.

Perupa Agung Nashrullah lebih akrab dipanggil Rupa Bule seniman muda yang masih tercatat sebagai mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Seni Murni studi Lukis mengasingkan diri dari hiruk pikuk hari raya seni rupa yang biasa digelar pada bulan Mei dan Juni. Rupanya Rupa Bule mempersiapkan hajatan pameran tunggal pada akhir bulan Juni 2018.

Pada Sabtu. 30 Juni 2018 malam pukul 20.00 wib sampai selesai pemutaran film dokumentasi proses berkarya 20 lukisan Rupa Bule di bawah icon pantai Parangtritis di lokasi pasar seni, dan Minggu, 1 Juli 2018 pameran digelar sehari mulai pukul 09.00-18.00 wib berlokasi 300 meter dari lepas pantai di depan Kantor SAR didisplay memanjang menghadap pantai.

rupabule melakukan preformance di plaza Campus Innstitut Seni Indonesia Yogyakarta

Sebuah proses yang sangat mengasikkan, menyenangkan dalam mempersiapkan prosesi melukisnya dan memiliki arti tersendiri baginya. Seperti sebuah upacara atau ritual tradisi hajatan dalam kepercayaan agama.

Prosesi ini cukup rumit dan ribet bagi seniman generasi instan saat ini. Rupa Bule justru membangun ulang prosesi ritual tersebut meskipun instrumen prosesi ritualnya diganti dengan caranya sendiri.

Mulai dari mempersiapkan alat-alat musik dan pemainnya, menyelaraskan musiknya,  melalukam survey lokasi untuk prosesinya, membuat surat ijin keramaian, dan hal-kal non teknis berkaryanya.

Dalam berkarya Rupa Bule mengeksplorasi unsur bunyi dari beberapa warna musik tertentu, secara intuitif dia meresponsnya dengan gerak tubuh spontan membentuk tarian ekspresif. Dia  juga menyelaraskan medium-medium ekspresi tersebut kemudian dibahasakan ke dalam bentuk rupa dan menjadikan metode melukisnya. Rupa Bule menunjukkan bahwa berkarya seni rupa itu merupakan kompleksitas peristiwa dari seni pertunjukan.

Struktur Ritual Lukis Rupa Bule

Dalam melukis Rupa Bule memiliki struktur sendiri. Dalam hal ini dia mempersiapkan segala sesuatu diawali dengan ritual. Tidak hanya mempersiapkan peralatan melukis seperti cat, kuas, valet, dan kanvas. Tapi dia mempersiapkan alat musik apa yang akan digunakan, aliran musik apa yang akan dimainkan, siapa saja yang akan memainkan alat musiknya dan di mana tempat berkaryanya. Selanjutnya menentukan cat apa yang akan digunakan, warna apa yang akan dipakai, berapa lebar kanvas sebagai media ekspresinya dan bagaimana kemungkinan tempatnya.

Bukan berarti Rupa Bule tidak bisa berkarya pada suatu tempat studio dengan menetap, tanpa berisik nun jauh di sana dan sendiri. Kebiasaan baru yang dibangunnya ini juga membangunkan berbagai elemen seni lain terlibat termasuk masyarakat sekitar yang menonton di lokasi ketika berkarya. Ritual berkaryanya ini sering disebutnya sebagai performance.

Dalam persiapan pameran tunggalnya Rupa Bule melakukan performance di Gardu Action, Sabtu, 5 Mei 2018 tepi Pantai dekat pengelolaan sampah warga Parangkusumo Parangtritis, Bantul ditonton warga sekitar menghasilkan 8 karya lukis. Sebelumnya pertunjukkan digelar di Plaza Kampus ISI, Sewon, Yogyakarta, Kamis, 26 April 2018 menghasilkan 4 karya. Selanjutnya Sabtu, 12 Mei 2018 di Gumuk Pasir, Cemoro Sewu, Parangtritis menghasilkan 8 karya lukis.

Karya-karya lukis yang dipamerkan merupakan hasil dari respons intuisinya terhadap suasana lingkungan, bunyi dan gerak spontannya. Tidak hanya karya sebagai hasil akhir dari olah eksspresinya, namun proses dalam menghasilkan karya itu memiliki nilai yang sama dengan kedudukan karyanya.

Terdapat 20 karya yang akan dipamerkan dengan berbagai ukuran. Setiap karya memiliki peristiwanya sendiri-sendiri, terkadang dalam satu peristiwa bisa menghasilkan beberapa karya tergantung kekuatan emosi dan moodnya.

Radikalisasi Melukis Rupa Bule

Menurut kamus wikipedia, Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akar. Melukis secara radikal tidak hanya proses menuangkan warna di atas kanvas atau media lainnya, namun bagaimana akar permasalahan diciptakan sehingga mendorong emosi atau mood dalam berkarya dan unsur-unsur lain  hingga terciptanya sebuah karya.

Akar permasalahan itu tidak sekedar hadir dalam imajinasi dan perasaan seniman, berbagai instrumen pendukungnya pun dihadirkan dalam proses berkaryanya dan terjadi komunikasi intens dengan berbagai unsur pendukungnya tersebut. Sehingga menemukan tujuan akhir mengapa karya tersebut ada, lukisannya itulah jawaban mutlak yang absolut atas sebuah peristiwa.

rupabule melakukan preformance di plaza Campus Innstitut Seni Indonesia Yogyakarta

Rupa Bule berusaha menampilkan apa yang menjadi akar permasalahan muncul dan terlibat dalam proses penciptaan karya yang dianggap sebagai solusi.

Setiap permasalahan menemukan solusinya yaitu sebuah karya lukis. Apakah karya tersebut memenuhi solusi atau tidak, dia akan melakukan performance terus berulang sehingga menemukan kepuasan atau kelelahannya.

Kepuasan atau kelelahan merupakan solusi imaterial dan karya lukis merupakan hasil dari solusi materialnya.

Mengatakan Rupa Bule radikal dalam melukis bukanlah sensasional, tapi tidak salah kalau ada yang mengatakan itu sensasi. Namun dia menemukan keasyikan atau mungkin kenyamanan dan kepuasannya dalam berkarya. Dia menata dirinya dan tim pendukung, serta berbagai unsur pendukungnya. Sebab tanpa koordinasi dan penataan yang baik, sulit terjadi pristiwa ritualnya, yang notabene membutuhkan keselarasan dan kesesuaian kebutuhannya.

Keselarasan dan kesesuaian kompleks dalam melukis itu tidak cukup berhenti pada imajinasi visual, media dan bahan yang akan dilukis, namun didukung oleh unsur-unsur musik yang mengiringi, alat-alat musik yang digunakan, para pemain alat musik, emosi pemain alat musik, gerakan ritmis tubuh, kostum, make up, tempat performance, penonton di sekitar lokasi, cuaca dan suasana tempat, suasana hati, jarak lokasi performance, surat ijin keramaian, dokumentasi, dan publikasi, bahkan sampai pada merangcang bagaimana bentuk pamerannya. Perihal inilah keradikalannya Rupa Bule.**




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *