Mungkinkah JK-AHY bakal melawan Petahana? Median: Ini Bahaya buat Jokowi

JAKARTA   I  KSOL — Berbagai prediksi soal pasangan Jusuf Kalla-Agus Harimurti Yudhoyono (JK-AHY) di Pilpres 2019 bermunculan. Sementara sebelumnya dianggap akan gagal, duet JK-AHY dinilai bisa berbahaya untuk petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Yang agak membahayakan juga dari pasangan JK-AHY ini, JK bisa menggembosi kekuatan resources yang dimiliki oleh Jokowi,” ujar Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun dalam perbincangan, Senin (2/7/2018).

Duet JK-AHY diwacanakan oleh Partai Demokrat. Untuk memungkinkan duet ini terwujud, JK disebut harus mampu merayu Golkar untuk mengalihkan dukungannya dari Jokowi. Hanya, hingga saat ini, Golkar belum memberi sinyal siap mendukung eks ketumnya itu maju sebagai capres bersama AHY.

“Namun JK harus mampu juga menarik Golkar dari Jokowi,” kata Rico.

Dia pun menilai pasangan JK-AHY cukup klop lantaran bisa saling melengkapi. Faktor latar belakang kedua calon itu turut disoroti Rico.

“Pasangan ini saling komplemen atau melengkapi secara representasi, tua-muda, luar Jawa dengan Jawa, berpengalaman-semangat. Secara angka elektabilitas, baik JK maupun AHY, selalu ada dalam 10 besar kandidat,” sebutnya.

Pasangan JK-AHY dianggap punya kesempatan yang baik. Hanya, duet ini masih terhambat dukungan dari partai politik. Hal tersebut mengingat adanya ambang batas atau presidential threshold (PT) di UU Pemilu. Partai politik atau gabungan parpol harus memiliki minimal 20% kursi di DPR atau 25% suara hasil Pemilu 2014.

“Pasangan ini punya kans yang cukup baik. Kalau koalisi 2 partai ini sebenarnya sudah cukup 20% (Demokrat dan Golkar). Dan dari pasangan ini, mereka tetap butuh partai yang merupakan representasi nasionalis-religius,” sebut Rico.

Demokrat masih harus mencari koalisi bila benar-benar ingin mengusung JK-AHY. Rico menilai pasangan tersebut punya kans besar bila koalisi seperti Pilgub DKI terbentuk. Pada Pilgub DKI 2017, ada dua koalisi penantang petahana gubernur, Basuki T Purnama (Ahok).

Saat itu Demokrat bersama PKB, PAN, dan PPP mengusung AHY-Sylviana Murni. Kemudian Gerindra-PKS mengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Sedangkan Ahok-Djarot Saiful Hidayat diusung PDIP, Golkar, Hanura, dan NasDem. Setelah AHY-Sylvi gagal di putaran pertama, parpol pendukungnya berpencar. PAN memilih bergabung dengan Anies-Sandi, yang akhirnya memenangi Pilgub DKI.

“Ya kalau bicara koalisi seperti pilgub. PAN, PKS, dan PKB pilihan tepat,” sebut Rico.

TEKS/ILUSTRASI : DETIK.COM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *