Survey : strategi politik atau pengkhianatan intelektual

Oleh Dr Tarech Rasyid, M.Si, aktfitis dan Akademisi Universitas IBA Palembang

DI MASA menjelang pemilihan suara (pilkada). Lembaga survey bagai “bajing luncat”. Di satu sisi, ia menggunakan pengetahuan statistik sebagai strategi pemenangan dengan mengabaikan axiologi atau mencampakkan nilai kebenaran ke tong sampah.

Tujuannya, mengacaukan opini publik dan menarik swing voters kepada calon yang membayar lembaga survey (atau dengan pertimbangan uang masuk ke kantong mereka) atas nama sebagai strategi pemenangan. Lembaga survey seperti ini adalah lembaga survey yang bermoral machiavelis.

Jika ini yang dilakukan lembaga survey, maka orang-orang di balik lembaga survey telah melakukan pengkhianatan intelektual. Di lain sisi, lembaga survey dengan kemahiran ilmu statistik, ia dapat mengotak-atik angka sesuai dengan tujuannya apakah angka itu dinaikkan atau diturunkan dengan membuka ruang pada swing voters untuk bermain dalam logika “uler-mengkerut” yang tergantung pada hasil akhir.

Apakah angka tersebut masuk ke “ponjen lawan” atau ke “kantung yang bayar” sebagai legitimasi hasil surveynya. Lembaga survey yang melakukan “tehnik2 pesulap angka” ini, pada hakekatnya, tetap melakukan pengkhianatan intelektual. Dari sini, kita menjadi mahfum dengan filsuf Inggris, Bertand Russel yang pernah mengatakan: “knowledge is power”. Pengetahuan itu adalah kekuasaan.

Melalui kekuasaan itulah lembaga survey melakukan proses pembodohan kepada publik. Lalu, masih layakah kita mempercayai lembaga survey atau orang2 yang berada dibalik lembaga survey atas nama strategi pemenangan? Atau, mereka bersembunyi dibalik jas kebesaran filsuf pragmatisme, seperti Charles Sansers Peirce, William James, dan John Dewey. Prilaku “pengkhianatan intelektual” (baca: lonte intelektual) inilah yang menggiring krisis kepercayaan publik terhadap lembaga survey.

Celakanya “lonte-lonte intelektual” ini bersenggama dengan media massa dan medsos. Lalu, apakah semua lembaga survey dan orang2 dibalik lembaga survey itu “lonte intelektual” semua? Tentu tidak! Kita harus percaya ada lembaga survey dan orang2 dibalik lembaga itu bersikap seperti Socrates yang menyakini kebenaran dan atas nama kebenaran, filsuf Yunani itu menenggak racun, lalu tewas.

Kematian Socrates adalah “nisan” kebenaran itu sendiri. Sebetulnya, lembaga survey atau orang2 dibalik lembaga survey, tak ubahnya seperti Galileo dihadapan pengadilan Inkwisisi pada tanggal 22 Juni 1633, dengan terpaksa menyangkal kebenaran yang diyakininya.

Bedanya, lembaga survey dan orang2 dibaliknya menyangkal kebenaran angka-angka dengan memanipulasinya karena tunduk dengan uang. Lalu, apakah kita masih menghormati mereka yang telah menggadaikan nuraninya hanya untuk rupiah? Saya kira, kita harus mencari lembaga survey dan orang2 dibalik lembaga survey seperti keteguhan Socrates!**




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *