Jelang Idul Fitri, Gepeng di Pagaralam Kian Marak

PAGARALAM    I  KSOL — Menjelang perayaan hari Raya  Idul Fitri 1439H, keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) kian marak  berkeliaran disejumlah pusat keramaian hingga mulai mengganggu kenyamanan para pengunjung.
Pantauan di sejumlah lokasi, mulai dari Pasar Dempo Permai, seputaran Pagaralam Square, kawasan Masjid Raya hingga Pasar Induk Terminal Nendagung kerap dijumpai para gepeng yang kerjanya meminta-minta kepada pengunjung pasar.
Menurut Joko (51), salah seorang pedagang es keliling di Pagaralam ini mengakui mulai terganggu disaat melihat ada gepeng yang meminta-minta dengan cara memanfaatkan para penyandang tuna netra dan tuna daksa. “Jika diperhatikan, mereka itu bukan orang dari  Pagaralam, karena baru kali ini  terlihat,” ujarnya, kemarin (10/6/2018).
Senada dikatakan Hengki, pedagang sembako di kawasan eks Pasar Seghepat Seghendi. Dirinya menduga ada semacam koordinator yang mengatur keberadaan para gepeng ini. Ia mengatakan adanya pengakuan sejumlah pedagang pasar pagi, dimana sering terlihat para gepeng ini  turun serentak dari sebuah mobil seperti angkutan di seputaran Pagaralam Square.
Selanjutnya para pengemis ada yang mangkal di samping Pagaralam Square dan ada pula yang berkeliling untuk meminta-minta. “Ya, para pengemis itu tampaknya sudah ada  yang mengkoordinir dengan baik  hingga sampai ke Pagaralam,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Pagaralam, Sukman ST mengakui ada fenomena seperti itu. Ia mengatakan bentuk dan kelakuan para pengemis untuk meminta-minta seperti itu beragam. Bahkan ada yang memang murni berpakaian pengemis Dan ada pula yang berkeliling mengedarkan kotak amal dan blanko sumbangan dari Yayasan atau Masjid tertentu di luar kota.
“Sebelumnya kami pernah menginterogasi salah seorang yang mengatasnamakan salan satu Yayasan tertentu. Ketika dicek keberadaan  yayasan tersebut ternyata tidak ada. Kalaupun ada, ternyata tidak ada perintah atau utusan dari yayasan tersebut yang memberi izin atau melaksanakan kegiatan untuk meminta-minta,” paparnya.
Meski begitu kata Sukman, sejauh ini pihaknya terkendala belum memilki semacam rumah singgah untuk dijadikan tempat penampungan sementara para gepeng tersebut. Karena mereka hanya didata seadanya dan dilacak asal usulnya.
“Tahun ini sedikitnya ada puluhan kasus penyakit sosial yang terjadi di masyarakat berhasil ditangani, seperti orang gila, terlantar, tunarungu dan tunawicara,” sambungnya seraya mengatakan para penyandang penyakit sosial ini nantinya akan ditempatkan di panti rehabilitasi sosial melalui pernyataan persetujuan dari keluarga bersangkutan, untuk dititipkan ke tempat rehabilitasi  yang berada di Kota Palembang.
TEKS : ANTONI STEFEN   I EDITOR  : TIM KSOL    I  FOTO  : NET



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *