Asian Games 2018: Uji Klaim Jakabaring Palembang jadi Kota Olahraga

PALEMBANG  I   KSOL  — Selasa terakhir April kemarin, cuaca terik betul. Tapi, itu tak jadi kendala bagi Bambang Supriyanto untuk berkegiatan. Ia harus mengelilingi kompleks Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, untuk menyambut beberapa tamu. Di antaranya perwakilan Telkomsel, salah satu sponsor ajang akbar Asian Games 2018, yang akan berlangsung di kompleks tersebut mulai 18 Agustus mendatang.

Bambang adalah direktur baru Kompleks Olahraga Jakabaring, yang baru dilantik Maret lalu. Seluruh kesiapan Jakabaring, sekitar 40 menit dari Bandara Kota Palembang, berada di bawah pantauannya. Belakangan ia makin sibuk sebab Asian Games makin dekat. Sudah masuk H minus 100 pada 5 Mei. Sementara sejumlah arena masih dalam tahap pengerjaan.

“Masih persiapan, tahu sendirilah, ya. Sampai berlari-lari seperti ini,” kata Bambang. Ia sempat lari-lari mengejar salat duhur setelah menjelaskan beberapa hal kepada rombongan Telkomsel di sebilah jalan depan Gedung Atletik.

Pada saat yang sama, sejumlah tamu dari instansi lain menanti dia di ruang tunggu gedung tersebut.

Mereka termasuk beberapa orang dari Tantasatrina Maju Bersama (Tangkas), perusahaan penyedia jasa sekuriti yang tercatat di LPSE Sumatera Selatan sebagai setidaknya tiga kali pemenang tender “Kegiatan Pemeliharaan Rutin Berkala Area JSC dan Belanja Jasa Tenaga Kerja/Tenaga Lainnya (Jasa Keamanan JSC)”.

Selesai salat, Bambang meluangkan waktu untuk bercerita tentang kesiapan Jakabaring. Meski mengakui sejumlah venue masih dalam tahap pengerjaan, ia mengklaim arena-arena olahraga Jakabaring sudah siap 95 persen.

“Bowling tinggal mempercantik halaman. Sama seperti taman di depan Stadion Gelora Jakabaring, tinggal mempercantik sedikit,” katanya.

Namun, secara kasatmata, Jakabaring masih tampak sama sibuknya seperti Bambang. Sejumlah konstruksi masih berjalan. Lazim belaka Anda melihat para pekerja konstruksi memakai helm dan jaket keselamatan kerja. Beberapa trotoar di bahu jalan masih diperbaiki. Sejumlah tempat, seperti tribun penonton di pinggir Danau Jakabaring, masih dalam proses. Tapi gedung-gedung utamanya memang sudah terlihat mengilap.

Memanfaatkan Ajang Olahraga untuk Menyulap Jakabaring
“Sangat jauh berbeda,” ujar Bambang mengenai perbedaan Jakabaring Sport City sebelum dan sesudah persiapan Asian Games 2018. Sebelum menjabat direktur, ia sudah bekerja sebagai pengelola Wisma Atlet.

Tampilan kompleks olahraga ini berbeda dari rupa semula ketika dibangun sejak 2004. Saat ditunjuk jadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Sumsel masih dipimpin Syahrial Oesman, yang kemudian ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus korupsi Pelabuhan Tanjung Api-api pada 2009.

Jakabaring dipilih karena secara geografis dekat dengan pusat Kota Palembang, sekitar 3-5 kilometer.

Kawasan yang semula rawa-rawa ini dianggap cocok dikembangkan sebagai upaya menyeimbangkan ketimpangan tata Kota Palembang. Di ibu kota Bumi Sriwijaya itu, pembangunan memang berpusat di kawasan Seberang Ilir, tempat pusat pemerintah kota hingga provinsi dibangun. Kontras dengan kawasan Seberang Ulu, yang mencakup Jakabaring. Kawasan ini masih sepi, dan dikenal rawan kejahatan. Kedua daerah ini dipisahkan Sungai Musi, dan disatukan Jembatan Ampera.

“Dulu orang takut lewat sini,” kata Hasan Bastari, sopir ojek online. “Sampai sekarang masih milih-milih supir ojek yang mau lewat sini. Apalagi kalau malam. Takut begal,” tambahnya.

Segala yang kontras itu jelas. Setelah menyeberangi Ampera dari jantung Kota Palembang yang macet dan padat penduduk, sepanjang bahu jalan menuju Jakabaring terlihat sepi dan tandus. Masih tampak bekas-bekas rawa, ditandai sejumlah rumah panggung di tepi jalan. Lalu Anda disambut lanskap tanah gersang yang berdebu dari sebuah kawasan yang ditimbuni tanah, kerikil, aspal, beton, dan segalanya; sebentang areal yang tengah bergerak.

Konsep kota olahraga—alias sport city, yang kini jadi embel-embel di belakang nama Jakabaring—memang mulai dihela sejak PON XVI 2004. Tapi bukan Syahrial Oesman yang mengawali gagasan pengembangan Jakabaring, yang merepresentasikan Palembang sebagai kota olahraga. Ia hanya memanfaatkan perhelatan besar tingkat nasional tersebut untuk mempercepat pembangunan Jakabaring, yang sudah dicanangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palembang 1994-2004 sebagai pusat pengembangan wilayah Seberang Ulu.

Rencana membangun Jakabaring dimulai pada 1990-an. Upaya ini makin terlihat saat ada reklamasi rawa pada 1997. Pada periode yang sama, Jl. Poros Jakabaring dibangun, kini dinamakan Jl. H. Bastari dan Jl. Pangeran Ratu. Sebuah perguruan tinggi, yaitu Universitas Muhammadiyah Palembang, juga dibangun di Jl. Ahmad Yani.

Barulah pada periode 1999 hingga menjelang PON XVI, sejumlah perumahan dibangun di kawasan Seberang Ulu. Dalam jurnal Pembangunan Kawasan Jakabaring sebagai Kota Baru dengan Konsep “Sport City” terbitan Institut Teknologi Bandung, perumahan itu di antaranya: Kompleks Jaka Permai (PT. Mitra), Perumahan OPI, Perumahan Amen Mulia, Perumahan Taman Ogan Permai, Perumahan Cendana I, Perumahan Cendana II (PT Sekawan Kontrindo), dan Kompleks Perumahan Guru dan PNS (1.000 unit).

Kini, di depan Perumahan OPI, sudah dibangun sebuah mal bernama sama. Ia ditargetkan menjadi penarik minat orang Seberang Ilir untuk bertandang ke Jakabaring. Lippo Mall juga membangun sebuah Hypermart, tepat di samping gerbang kompleks olahraga, sebagai upaya lain menggaet warga sekaligus pelengkap syarat Jakabaring sebagai kota baru. Semua ini ide Alex Noerdin, Gubernur Sumsel sejak 2008 hingga sekarang.

Pasca-PON XVI, pengembangan Jakabaring mulai berubah orientasi, dari sekadar pelengkap Palembang menjadi “kota olahraga”. Pemerintah provinsi menyusun program inisiatif Masterplan Gelanggang Olahraga Jakabaring sebagai revisi dari Masterplan Gelanggang Olahraga dan Permukiman. Langkah ini menambah fasilitas olahraga dan wisma atlet.

Palembang: Proyek ‘Kota Olahraga di Indonesia’ Menjadi ‘Kota Olahraga Dunia’
Perhelatan Pekan Olahraga Nasional, yang membawa efek pembangunan di Palembang, agaknya menginspirasi Gubernur Noerdin untuk terus menggelar ajang akbar olahraga lain di Jakabaring.

Pada 2007, Stadion Jakabaring menjadi lokasi pertandingan ketika Indonesia menjadi satu dari empat tuan rumah Piala Asia AFC. Pada tahap ini Alex Noerdin memoles Jakabaring sebagai “kota olahraga” di Indonesia. Itu berlanjut pada SEA Games XXVI pada 2011. Dampaknya, Jakabaring terus dibangun.

Dari sanalah mimpi Noerdin menjadikan Palembang sebagai “kota olahraga di Indonesia” kemudian mekar sebagai “kota olahraga dunia.”

“Kami berpengalaman sejak PON 2004 dan SEA Games 2011,” kata Noerdin dalam diskusi tentang Asian Games 2018 di Jakarta, 2 Mei kemarin. “Sejak 2011 sampai 2017, sudah 42 kali event olahraga internasional diselenggarakan di Jakabaring.”

Dalam sejumlah kesempatan, Noerdin selalu menyebut jumlah ajang olahraga yang dihelat di Jakabaring Sport City sebagai indikator kemajuan, yang ujungnya mendekatkan impian dia menjadikan Palembang sebagai kota olahraga dunia.

“Sport city ini satu-satunya yang terintegrasi di dunia. Luasnya 360 hektare, dengan 20 venue berstandar internasional dan terakreditasi, terletak di tengah kota,” tambahnya.

Hasil analisis sejumlah mahasiswa ITB mengakui pembangunan Jakabaring menumbuhkan ekonomi Palembang. Itu ditandai penambahan kunjungan wisatawan ke Kawasan Jakabaring, terutama saat pelaksanaan Sea Games 2011. Ekonomi lokal di wilayah Jakabaring berkembang, terlihat dari penyediaan lapangan kerja, demikian analisis itu.

“PT Prambanan Dwipaka, perusahaan yang mengerjakan pembangunan stadion atletik, kolam renang, dan lapangan tembak di Jakabaring, mengimpor sekitar 600 tenaga kerja dari Pulau Jawa,” tulis mereka.

Infografik HL Asian Games 2018


Menguji Klaim Pertumbuhan Ekonomi berkat Ajang Olahraga
Namun, dari data yang dihimpun Tirto, angka pertumbuhan itu tak pernah stabil. Menyoroti laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Palembang atas dasar harga konstan, persentasenya baru melonjak ketika ada perhelatan besar macam PON 2004, Piala Asia 2007, dan SEA Games 2011. Hanya pada tahun-tahun itu persentase laju PDRB Palembang berada lebih dari 7 persen.

Menurut Nirwono Joga, yang mengamati pertumbuhan kota-kota olahraga di dunia, konsep pembangunan kota olahraga kerap salah kaprah dan boros. Dalam kasus Jakabaring Sport City, pengelola belum bisa membiayai sendiri. “Masak harus ada event dulu baru pendapatannya tumbuh? Harus ada berapa event terus-menerus, dong.”

Apa 42 ajang dalam 7 tahun tidak cukup?

“Kurang,” jawab Joga. “Bisa dicek. Kegiatannya bisa kita bagi. Mana yang skala lokal, artinya tingkat provinsi. Mana yang skala nasional. Dan mana yang skala internasional, yang masih bisa kita bagi: tingkat ASEAN, Asia, dan dunia.”

Meski jawaban Joga agak spekulatif, kita bisa mengurutkan ambisi Alex Noerdin membangun impian Palembang sebagai “kota olahraga dunia”. Selain SEA Games, Triathlon 2017 tingkat Asia, yang diikuti 36 negara, adalah kompetisi paling besar dalam daftar 42 ajang pada pemerintahan Noerdin.

Pada skala internasional lain ada Islamic Solidarity Games 2013 dan ASEAN University Games 2014. Namun, dalam catatan Tirto, ajang-ajang ini tak bisa menyumbang laju PDRB setinggi PON, Piala Asia, dan SEA Games.

Direktur Jakabaring Sport City, Bambang Supriyanto, mengakui bahwa biaya perawatan kompleks olahraga ini masih ditopang oleh APBD—duit pajak. “Kami ini BUMD, ada penyertaan anggaran modal dari pemerintah daerah. Penyertaan itu yang sebagian di antaranya kami pakai sebagai biaya operasional. Di samping itu ada pemasukan dari sewa venue, sewa plaza,” ungkapnya.

Dengan jumlah karyawan 352 orang, biaya operasional tetap Jakabaring Sport City (JSC) yang sudah pasti dikeluarkan per bulan mencapai Rp1,5 miliar. Termasuk di dalamnya gaji karyawan, ongkos listrik, air, dan semacamnya. Angka ini belum menyertakan pengeluaran untuk Asian Games 2018, yang diperkirakan Bambang “bakal jauh lebih besar” karena ada penambahan venue yang mesti dirawat, thus penambahan jumlah pekerja.

“Sekarang kurang lebih ada 21 venue. Berstandar internasional dan berstandar Asia,” kata Bambang.

Biaya perawatannya?

“Alhamdulillah, sampai sekarang masih aman terkendali,” tambahnya, tanpa merinci berapa kisaran “aman terkendali” tersebut.

Bambang optimistis infrastruktur di Palembang, yang dilengkapi moda transportasi light rail transit (LRT) dan sejumlah jalan tol, akan membantu pengembangan JSC sebagai kota olahraga dunia.

Bambang mengklaim ada pertumbuhan ekonomi positif di kawasan JSC, dengan mengukurnya dari jumlah wisatawan yang makin bertambah.

“Ini sudah mulai, bukan cuma masyarakat Palembang. Dari Bengkulu, Bangka Belitung, Jambi, banyak yang datang. Apalagi hari Minggu ramai sekali,” katanya.

Menurut Nirwono Joga, tak mungkin pemerintah daerah terus-menerus menopang biaya perawatan JSC. “Kota olahraga yang baik harusnya jadi penyumbang pemasukan APBD, bukan sebaliknya,” pendapat Joga.

“Di Indonesia, semua kegiatan olahraga menyedot APBD dan APBN. Itu menunjukkan kota olahraga belum bisa menghidupi diri sendiri. Belum menguntungkan secara finansial. Terlalu bertumpu pada event,” tambahnya.

Sejumlah infrastruktur pendukung Asian Games, yang disebut Bambang, nyatanya tidak selesai sesuai target. Misalnya, pembangunan jalur LRT dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menuju Jakabaring, sepanjang 23,4 kilometer. Meski targetnya menyediakan 13 stasiun dan 1 depot, nyatanya kereta LRT yang dikirim dari Madiun itu hanya akan beroperasi satu jalur dari bandara menuju Jakabaring.

Uji coba yang direncanakan pada akhir April lalu bahkan akhirnya batal. Saat saya mengonfirmasi ke Mashudi, manajer proyek Waskita Karya Pembangunan LRT Sumsel, ia menjawab bahwa uji coba itu bukan batal, hanya diundur.

“Info terakhir, kereta siap tanggal 8 Mei,” katanya, Rabu kemarin.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id – Indepth)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *