Roti ½ Batu Zamrut

Oleh Imron Supriyadi

SAYA LUPA hari dan tanggalnya. Tapi seingat saya tahun 2015. Suatu kali, anak saya Anisatun Nurul Alam yang masih duduk di SD, menoton sebuah iklan roti di televisi. Dengan cara yang menarik, roti itu memicu selera Caca, panggilan anak sulung saya itu.

Spontan, ketika saya keluar dari kamar,  Caca seketika meminta dibelikan roti seperti iklan di televisi.

“Yah, Caca pengen roti yang seperti di tivi,” ujar Caca memohon.

“Roti, apo, Nak?” selidik saya.

“Itu, Yah, Roti yang di toko-toko besak. Roti itu bermerk, macem roti Brassery itu, Yah,” isteri saya menjelaskan jenis roti yang diinginkan Caca.

“Roti itu mahal, nak. Tunggu ayah ado duit. Sekarang kito beli yang penting dulu,” sergah isteri saya.

“Memang mahal, yo, Bun?” tanya Caca.

“Kalau roti sudah ado di iklan di tivi, hargonyo pasti beda dengan yang di warung-warung. Dak cukup dengan seribu dua ribu,” ujar isteri saya.

“Berapo, Bun hargonyo?” Caca mendesak.

“Doa dulu, Ca. Rajin-rajin shalat, minta samo Allah supaya Allah memberi rezeki. Kalau ayah dapat rezeki lebih, agek ayah biso mbelike roti seperti di tivi itu,” kata saya menghibur Caca.

“Ndak usah neko-neko, Ca. Sekarang ini  Caca samo Kahfi biso jajan di warung sudah alhamdulillah, ndak usah nak melok-melok iklan di tivi,” ujar isteri saya lagi.

*

Ini salah satu roti yang pernah diinginkan anak saya


Malam menjelang. Saya baru saja pulang dari kampus. Selain saya aktif sebagai jurnalis, mengajar ngaji, saya juga diberi amanah untuk mengampu 2 mata kuliah di Universitas Islam Negeri Raden Fatah  Palembang, di Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

“Yah, jangan marah, ya. Bunda nak crito,” isteri saya seketika mendekati saya dan merayu saya agar saya tidak menyimpan amarah malam itu.

“Marah? Emang  ngapoi nak marah? Ayah kan ndak tahu ujung pangkal crito bunda,” kata saya penasaran.

“Tadi pagi, waktu Bunda antar Kahfi, baleknyo Bunda nemu HP,” isteri saya mulai mengisahkan.

“Dimano nemunyo?” saya kian penasaran. Tapi saya tidak ada sedikitpun ingin marah. Sebab saya tahu persis kalau isteri saya tidak pernah dapat pelajaran mengambil hak orang lain.

“Nemunyo di tikungan dekat TK Sofiyah,” jawabnya singkat. “Hp samsung lipat warno hitam,” jelas isteri saya lagi.

“Sudah kontak samo yang punyo HP?” tanya saya.

“Sudah. Dio yang telpon Bunda. Kato bunda : O, iya Bu, silakan. HP-nya masih saya simpan. Silakan Ibu datang ke Rumah Tahfidz Baitullah, di jalan Sultan Masyur,” ujar isteri saya menceritakan ucapannya saat ditelpon  si pemillik HP.

“Yo, sudah, Baguslah kalau gitu,” kata saya tanpa beban.

“Ayah, dak marah, kan?” isteri saya khawatir kalau tindakan mengambil HP itu sebagai perilaku ceroboh yang membuat saya marah.

“Ayah ini bukannyo wong gilo, Bun,” ujar saya sekenanya.

*

Malam. Sehari setelah HP dikembalikan ke pemiliknya, saya pulang sepeti biasa. Tapi agak larut kali itu. Bayangan permintaan Caca untuk membeli roti masih melintas di benak saya. Sementara persiapan di rumah hanya cukup untuk membeli beras dan kebutuhan keseharian.  Di kanting saya juga hanya Rp20 ribu, cukup untuk membeli bensi dari Bukit Lama ke Km. 3,5 selama dua hari.

Saya coba  tanya sama rekan-rekan mahasiswa yang saya ajak nongkrog usai kuliah. Diantara mereka sesekali mungkin ada yang pernah membeli roti seperti yang disebut Caca.

“Macem-macem, Pak. Ada yang lima bela ribu, ado jugo yang tigo puluh. Kalau yang besak  lebih, Pak,” ujar salahs atu mahasiswi, yang sepetinya paham dengan harga roti yang saya maksud.

Ternyata lumayan juga harganya. Pikir saya kali itu. Satu paket termurah Rp15 ribu. Ada juga yang Rp 30 ribu. Bahkan ada yang lebih mahal. Kalau pun saya membeli sudah pasti harus 2 paket, untuk Caca dan Kahfi. Tak cukup Rp20 ribu di kantong. Kalau Cuma Rp 10 ribu, bisa saya paksakan. Tapi kali itu tidak. Sebab jauh dari cukup untuk membeli roti selera anak saya.

Pikir-pikir, malam itu sengaja saya pulang agak larut, supaya ketika sampai di rumah Caca dan Kahfi sudah tidur. Paling tidak saya akan terhindar dari pertanyaan, kalau-kalau saja Caca masih menyoal tentang roti yang diinginkan.

Ketika pintu rumah terbuka, isteri saya hanya senyum berat. Wajahnya lusuh bangun tidur. Tapi tak ada pertanyaan kenapa saya pulang agak larut. Sebab isteri saya sudah sangat paham jam kerja dosen luar biasa yang juga sebagai jurnalis. Itu sudah jadi hukum sejak kami menikah. Jadi tidak ada yang aneh ketika saya pulang pagi sekalipun.

Saya kemudian memasukkan sepeda motor di ruang tamu. Isteri saya sudah hilang dari hadapan saya, setelah sebelumnya mengunci kembali pintu utama.

“Bunda teduk, yo,”  ujar  isteri saya usai menyedu satu  gelas kopi untuk menyambut saya malam itu.

“Teduklah, Yang,” isteri saya hilang di balik pintu kamar.

“Ayah belum nak teduk?” tanya isteri saya sedikit baa-basi.

“Masih banyak berita yang belum di-edit,” ujar saya. Isteri saya sudah hilang di balik horden pintu kamar.

Saya segera bersih-bersih  badan, ganti pakaian dan duduk  menikmati kopi dan sebatang rokok kesukaan saya. Iseng-iseng saya buka penutup meja makan. Harapan saya, kalau saja malam itu masih ada sisa nasi atau makanan apa saja yang bisa saya makan.

“Allahu akbar!” ujar saya spontan. Sesaat saya tercenung.

Betapa saya terkejut, heran, bersyukur. Ada subuah tas plastik bermerek roti seperti yang diinginkan Caca di atas meja. Satu kotak kemudian saya buka. Sebagian sudah dipotong. Didalamnya ada pisau fantasi terbuat dari plastik sebagai alat pemotong kue. Satu lagi masih terbungkus rapi. Pasti isinya tak jauh berbeda.

Kali itu, tak kuasa menahan embun dikelopak mata saya. “Ya Allah, terima kasih Ya Allah. Kau kabulkan keinginan anak saya,” bisik hati saya.

Bagi saya, dua bungkus roti malam itu seperti batu Zamrut yang dikirim dari sorga ke rumah saya. Binar dan rasanya bukan hanya dalam mulut, tetapi menghunjam ke hati saya, anak saya dan sudah tentu isteri saya. “Ini roti setengah batu Zamrut,” hati saya bisik lagi.

Pelan-pelan saya membuka pintu kamar. Ingin menanyakan asal roti itu. Tapi detak napas isteri saya malam itu demikian lelah.  Mengajar ngaji 25 santri  dari pagi, siang, dan sore sore yang datang dan pergi, sepertinya sudah menguras energi isteri saya. Saya harus menunggu kabar di pagi hari.

*

Belum sempat saya bertanya, isteri saya sudah berkisah tentang asal muasal roti.  Saya cukup mendengarkan dan besyukur dalam hati.

“Kemarin, pemilik HP itu kesini. Kata ibu itu : terima kasih, Bu. Kalau hargo Hp ini ndak seberapo, tapi nomornyo ini, Bu. Terima kasih, Bu. Ternyato, hari gini masih ado wong baik, semoga berkah, Bu. Tapi kami mohon maaf nian, kami dak biso ngasih apo-apo. Ini cuma roti untuk anak-anak ibu. Tolong diterimo, Terima kasih, ya Bu, HP-nyo,” ujar isteri saya menirukan si pemilik HP saat datang ke rumah kami.**

Bukit Lama-Palembang, 2015-201




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *