Soal UN dan Kebijakan yang Buru-Buru

Oleh Muhammad Ruslan

Kesulitan soal UN (Ujian Nasional) dikeluhkan oleh siswa (SMK dan SMA) yang sempat ramai dibicarakan di media sosial pasca UNBK tahun ini membuat Mendikbud Muhadjir Effendy menuturkan permintaan maaf. Alasan Menanggapi keluhan kesulitan soal tersebut, Mendikbud beralasan karena sistem penyusunan soal tahun ini sudah mengadopsi perumusan soal level HOTS (High Order Thinking Skill).


Pertanyaannya, benarkah HOTS adalah faktor utama di balik kesulitan siswa dalam menjawab soal? Sejauh mana HOTS berkontribusi dalam tingkat kesulitan soal? Dalam konteks ini, saya mengensampingkan faktor teknis lain, seperti isu ketidaksinkronan kisi-kisi dan soal UN, hingga isu ketimpangan kualitas level soal try out (simulasi) dan soal UN itu sendiri yang banyak dikeluhkan siswa.

Dalam bayangan publik barangkali soal HOTS identik dengan kata “sulit”. Itu tergambar dari terjemahan katanya, “keterampilan berpikir tingkat tinggi”. Meski begitu, persepsi ini tidak sepenuhnya bisa dikatakan benar. Mengasosiasikan kesulitan soal dengan HOTS adalah juga salah kaprah. Persepsi “segala yang HOTS sudah pasti sulit” belum tentu benar adanya.


HOTS pada dasarnya tidaklah selalu berkontribusi positif terhadap tingkat kesulitan soal. Difficulty is not same as higher order thinking, begitu kira-kira maksudnya. HOTS hanyalah pengembangan metode penyusunan soal, bukan sebuah perluasan ruang lingkup pengetahuan.

Persepsi kesulitan yang dialami siswa bisa dikatakan muncul bukanlah karena metode HOTS-nya itu sendiri, namun lebih kepada bahwa implementasi kebijakan ini (HOTS dalam perumusah soal UN) adalah sebuah kebijakan yang terburu-buru, tanpa melihat level penyerapannya di sekolah. Ini substansi masalahnya. Jangankan siswa, guru bahkan tidak pernah membayangkan penyusunan soal UN tahun ini sudah menyerap model HOTS.

Gagasan tentang HOTS sendiri bisa dikatakan baru diperkenalkan sejak 2016. Bahkan modulasi teknis tentang bagaimana penyusunan soal HOTS ini justru baru keluar pada 2017 lewat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud.


Ini artinya hanya ada rentang yang terlalu pendek sebelum sempat ditakar penyerapannya di sekolah. Bahkan tidak bisa dipungkiri masih banyak guru yang bahkan belum mengenal istilah ini. Di kota-kota besar saja sosialisasi tentang HOTS belumlah bisa dikata sudah menyentuh semua sekolah. Apalagi dengan sekolah yang jauh dari kota.


CLOUD SERVER HOSTING SERVICE IN UK

Padahal kalau kita timbang, dibutuhkan waktu yang cukup untuk mensosialisasikan konsep HOTS ini. Selain karena jumlah sekolah dan guru di Indonesia lumayan banyak, juga dari sisi keterserapan nilai HOTS itu sendiri terhadap guru menurut saya tergolong tidak mudah. Sebab HOTS ini tidak sekadar berbicara tentang persoalan teknik penyusunan soal sebagai instrumen penilaian semata, tapi juga mengarah pada diskursus perubahan substansi paradigma pengelolaan pembelajaran secara utuh. Ketika model penilaian berubah maka itu artinya model pengajaran juga mesti berubah. Ini yang belum terjadi.

HOTS belum dielaborasi secara cukup dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Kesulitan soal yang sebagian dirasakan siswa lahir dari ketimpangan ini. Soal disusun dengan berbasis HOTS, namun di satu sisi KBM sebelumnya justru masih berlangsung dengan model lama. Sehingga menciptakan guncangan bagi siswa yang merasa asing dengan soal sebab disarikan dengan metode yang tidak lazim bagi mereka.

HOTS sendiri secara konsep bukanlah sesuatu yang terlampau asing untuk dianggap sebagai sesuatu yang baru, meskipun istilah ini memang bisa dikatakan baru diperkenalkan. HOTS sebagai metode pengukuran pengetahuan maupun sebagai metode pengajaran digadang-gadang lahir sebagai respons dari tuntutan kecerdasan abad ke-21 yang menuntut suatu jenis kemampuan berpikir kritis yang harus dimiliki siswa generasi milenial.

Karena itu, HOTS menekankan pada tingkatan tertinggi dari proses belajar yakni kemampuan untuk menghubungkan beberapa konsep untuk memecahkan masalah dengan mengandalkan model berpikir analitis dan berpikir kritis yang berada pada dimensi meta-kognitif. Suatu jenis kemampuan berpikir yang melampaui dari sekadar mengetahui (know), mengingat (recall), dan menyatakan kembali (restate), alias metode hafalan yang lazim dipakai selama ini (Low Order Thinking).


Karena itu dalam penyusunan soal-soal berbasis HOTS, soal disusun berdasarkan pendekatan stimulus dengan model penyajian terhadap masalah (problem solving). Stimulus ini sejenis narasi sebelum muncul pertanyaan. Umumnya stimulus didasarkan pada realitas yang kontekstual dan diskursus-diskursus global maupun sehari-hari dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk menjawab soal tipe demikian, siswa mestinya sudah harus terbiasa berpikir tingkat tinggi yang menjadi domain dari HOTS itu sendiri, yang seharusnya ia sudah dapatkan dalam proses KBM. Namun faktanya tidak demikian adanya.

Kita bersepakat dengan Mendikbud dalam memahami bahwa HOTS memang sangat urgen bagi dunia pendidikan kita saat ini yang cenderung jalan di tempat (statis). Paradigma belajar di sekolah memang seyogianya meningkat sebab tuntutan dunia luar juga terus berubah. Namun, menjadikan standar HOTS sebagai parameter pengukuran pengetahuan tanpa disertai dengan efektivitas penerapannya pada proses KBM adalah bentuk ketidakadilan pemerintah terhadap siswa itu sendiri.

Untungnya, sejak 2015 lalu UN sudah diputuskan bukan lagi penentu kelulusan. Kalau tidak, bisa-bisa UN kali ini bisa berpotensi jadi preseden buruk terhadap kelulusan siswa.

Muhammad Ruslan pemerhati pendidikan, tinggal di Batam

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *