Joniman Adukan Gunambela Serobot Tanah

PALEMBANG   I  KSOL — Tanah hak usaha milik M. Syarfiin (69 tahun) terletak di Jalan Rompok Jaya RT.47 RW. 07 KelelurahanLebung Gajah, Kecamatan Sematang Borang, Palembang.

Tanah hak usaha Syarfiin yang merupakan bagian dari lahan kelompok tani Rompok Jaya itu diserobot oleh Gunambela (45 tahun) alias Marsus.

Syarfiin memberikan kuasa penuh kepada keponakannya, bernamaJoniman(42 tahun) untuk mengurus lahan tersebut, termasuk menempuh upaya-upayahukum.

Berdasarkan atas surat kuasa penuh dari Syarfiin, pada 5 Maret 2018 Joniman melaporkan Gunambela ke aparat Kepolisian Daerah (Polda) Sumatra Selatan.

Tandabukti laporan ditandatangani oleh Kompol M. Pahri atas nama Kapala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumsel.

Tanah hak usaha seluas lebih kurang 7.000 (tujuh ribu) meter persegi milik Syarfiin berdasarkan telah Akta Pengoperan dan Penyerahan Hak atas tanah di hadapan Notaris Handan Syarif.

Penerbitan akta tersebut berlandaskan pada Surat Keterangan Hak Usaha atas tanah Nomor AG.120/317/SK.IV/1983  yang ditandatangani oleh M. Sabenih (alm), pada April 1983 dan diketahui oleh Camat Talang Kelapa RasuanBakri (aum).

Tanah hak usaha Syarfiin juga mendapat bukti pengakuan dari aparat pemerintah setempat berupa Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (Sporadik) ditandatangani oleh Lurah Lebung Gajah.

Tak terima karena tanahnya diserobot oleh Gunambela, penerima kuasa penuh Joniman mendatangi Kepoolisian Daerah (Polda) Sumsel guna melaporkan Gunambela sebagai terduga penyerobotan tanah dan pemalsuan surat.

“Bersarkan keterangan masyarakat dan bukti-bukti dari lapangan, kami mengetahui dan memastikan Saudara Marsus alias Gunambela telah menyerobot tanah paman saya, Syarfiin. Dia menyalahgunakan tanah tersebut dengan memperjualbelikan tanah tanpa sepengetahuan paman saya,” kata Joniman kepada media.

Surat Tanda Terima Laporan Polisi (SPKT) Nomor STTLP/186/III/2018/SPKT menyebutkan pokok perkara, yaitu bahwa tertuduh Gunambela diduga melanggar Pasal  385 KUHP dan 263 KUHP (Penyerobotan Tanah dan Pemalsuan Surat). Atas laporan pada Senin, 5 Maret 2018, “Kasus tanah ini kini dalam penyelidikan dan penyidikan aparat Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumsel,” jelas Joniman (Asmaran Dani/S. Fajri/Pariwara)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *