Bullying  di sini,  bisa juga timbul di sana


TANGERANG  I KSOL — Kasus bullying yang viral beberapa hari lalu di media sosial membawa dua remaja, LS (16) dan YIZ (17) ke balik jeruji. Menurut Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati hal serupa dapat terjadi dimana saja.

“Kalau anak putus sekolah itu, kehidupannya belajar dari luar. Kalau sampai bertato, indikasi secara sosial problematik dan mengalami pergaulan yang kurang baik,” papar Rita pada Republika.co.id, Selasa (13/3/2018).

Rita menuturkan, perlakuan kasar atau bullying terjadi karena kehidupan sosialnya tidak baik. “Apalagi kehiudpan jalanannya yang sangat mempengaruhi dan bully jadi hal lumrah bagi dia,” lanjutnya.

Peran orang tua yang hilang dari pola pengasuhan anak, lanjut Rita, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tindakan bullying tersebut. “Nenek tidak sempurna untuk mengasuh anak dan kasih sayangnya berbeda daripada orang tua,” jelasnya.

Hal tersebut menjadi konsep yang beriringan, dimana situasi mempengaruhi anak. “Anak mencari perhatian dari lingkungan dan bisa jadi dia haus kasih sayang dan kasih sayang yang diharapakan tidak ada untuk anak tersebut,” lanjutnya.

Mengenai kasus di Tangerang, Rita menyayangkannya karena Pemerintah Kota Tangerang mencanangkan Kota Layak Anak (KLA). “KLA tidak berarti bebas dari kasus, justru hal ini didirikan untuk menyelesaikan kasus seperti itu dan bagaimana mekanisme lokal dalam menyelesaikan kasus-kasus seperti ini,” paparnya.

Untuk itu, Rita menjelaskan, bagaimana KLA mengembangkan sistem pembelajaran keluarga sampai ke masyarakat. “Yang jadi problematik ialah apakah program pengasuhan berjalan dengan baik?” tutupnya.

TEKS/FOTO : TIM  KSOL / ROL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *