Asal Muasal Lorong Basah Palembang

Oleh Muhammad Ikhsan, Dosen Universitas Sriwijaya dan Penelusur sejarah Palembang

SIAPA yang tak kenal lorong Basah? Seperti juga jembatan Ampera, seseorang belum diakui sebagai wong kito kalau belum pernah menginjakkan kaki dan belanja di lorong Basah. Nama suatu lorong yang popularitasnya menyaingi nama jalan lain di kota Palembang.

Walaupun nama lorong ini telah naik tingkat menjadi sebuah jalan, Sentot Ali Basya. Nama yang sangat unik disebutkan begitu saja. Masyarakat lebih familiar tetap menyebutnya lorong Basah.

Banyak yang menyangka lorong Basah adalah sebutan singkat atas nama jalan Sentot Ali Basah, seorang panglima dalam perang Jawa yang mendampingi perlawanan Pangeran Diponegoro. Padahal tidak seperti itu. Tak ada hubungan sama sekali antara tempat ini dengan sang pahlawan.

Sejak awal nama lorong ini memang lorong Basah. Justru nama jalan Sentot Ali Basah disematkan untuk mengganti nama asli tersebut. Syahdan menurut beberapa sumber asal muasal nama lorong Basah berkait erat dengan suasana di zaman kolonial Belanda. Paling tidak ada dua versi asal mula nama ini.

Versi pertama menurut Raden Husein Natodirajo, seorang penelusur senior sejarah kota Palembang yang banyak berperan dalam memelihara manuskrip dan mencatat segala sesuatu yang berkait histori kota. Menurutnya, disebut lorong Basah memang lorong ini dahulunya sering basah oleh tumpahan dan ceceran air yang diangkat dan diangkut melintasi lorong tersebut.

Para pendatang Tionghoa di Palembang yang mencari nafkah mengangkut air atas pesanan penduduk asli yang dahulunya bermukim di kawasan jalan Masjid Lama. Air sungai Musi yang diambil di tepi perairan sungai Musi yang berada di dekat Pasar Los 16 Ilir diangkat dan diangkut menuju kampung penduduk di sekitar jalan Masjid lama dan jalan Beringin Janggut.

Dengan sarana angkat berupa dua kaleng persegi yang berfungsi seperti ember namun tidak berpenutup, air sungai tersebut diangkut dengan pikulan. Rute angkut tersebut melalui lorong yang menghubungkan jalan Pasar Baru dengan jalan Masjid Lama. Disebabkan dibawa dengan ember kaleng tak berpenutup, air tersebut berceceran di sepanjang alur. Basahnya lorong inilah yang menjadi awal sebutan tersebut.

Versi lain yang sedikit berkesan miring, kawasan ini suatu masa di zaman kolonial sekitar tahun 1938 hingga 1942 menjadi tempat praktik prostitusi, basah di sana berhubungan dengan aktifitas seks komersil di tempat itu.

Terkesan untuk menghilangkan citra negatif tersebutlah pada sekitar akhir tahun 1970-an nama lorong Basah ditingkatkan menjadi nama jalan dengan nama seorang pahlawan yang pada namanya jika dilafalkan lisan terdengar sebagai jalan Sentot Ali Basah. Seperti diuraikan sebelumnya, beliau seorang pahlawan gagah berani. Seorang panglima perang tangan kanan Pangeran Diponegoro yang namanya jika ditulis tepat dan lengkap adalah Sentot Ali Basha atau Sentot Ali Pasha.

Gelar Ali Pasha berarti panglima tinggi yang didapatkan beliau dari kesultanan Turki ketika belajar taktik strategi militer di sana. Di samping sebutan lain atas namanya Sentot Prawirodirjo.

Geliat sebagai tempat perdagangan mulai dirasakan di era kolonial, sejak dibangunnya Pasar Straat yang saat ini disebut jalan Pasar Baru, lorong ini menjadi akses ke lorong Purban dan jalan Masjid Lama.

Pada mulanya berupa deretan rumah sekaligus toko atau gudang yang mayoritas dihuni keturunan Tionghoa. Selanjutnya tumbuh toko-toko baru, di antaranya toko yang berdagang kopiah seperti toko Raden Mat bin R.H. Abdoel Madjid Toko ini terkenal dengan kopiah cap Matahari Terbit. Toko mana di sekitar awal tahun1970-an berganti menjual barang dagangan berupa pakaian seragam sekolah.

Selain dikenal sebagai pusat perdagangan pakaian seragam sekolah, kemudian di era tahun 1970-an lorong Basah dikenal pula sebagai kawasan toko pecah belah.

Istilah pecah belah digunakan untuk barang tembikar berupa produk piring, mangkuk, gelok stoples, cangkir, gelas dan perlengkapan makan dan dapur lainnya.
Deretan toko tersebut terletak di kiri kanan lorong Basah.

Ada pula toko berdagang alat memasak berbahan dasar aluminium seperti panci, teko, kuali, dandang dan seterusnya Selain itu awalnya pada beberapa pintu toko menjual juga peralatan penerangan bukan berbasis listrik, seperti petromax, lampu teplok, lampu badai.

Ada pula toko kaca cermin dan pigura bingkai foto. Sebagian lainnya menjual bumbu kari dan mainan anak-anak. Ciri umum toko-toko tersebut selain sebagai grosir juga menjual secara eceran.

Sebelum bagian tengah lorong Basah dijadikan tempat berjualan pakaian dan lainnya, pada era tahun 1970-an itu pada beberapa bagian tengah lorong tersebut digunakan sebagai tempat berdagang si tukang obat dan penjual barang cara lelang. Tukang obat ini menjual dagangannya secara menarik karena diselingi dengan kemampuan bermain sulap. Banyak pengunjung hanya sekadar menonton permainan sulapnya.

Cukup menarik di saat sekarang ini jika rajin membaca nama toko di sepanjang lorong Basah, ada yang tertulis alamatnya jalan Sentot Ali Basah atau Sentot Ali Basa tanpa huruf “h” di akhir nama. Ada pula secara berselang seling tak beraturan tertulis tetap bernama lorong Basah. Di atas perbedaan itu, kini memang lorong Basah tak lagi basah. (*)

TEKS : PALEMBANGPRO.COM




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *