Wartawan juga pewaris para nabi, Diskusi Peran Media Online dalam Pilkada Sumsel 2018

PALEMBANG | KSOL – Era digital yang diringi munculnya media online, media sosial (medsos), berimbas pada percepatan informasi di setiap denyut kehidupan. Tak ayal, perkembangan  ini juga berdampak pada mentalitas, cara pandang, sikap hidup bahkan dalam pemenuhan ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Rumah Citra Indonesia (RCI) menyebutkan sedikitnya 30 % masyarakat Sumsel sudah menggunakan internet. Konsekuensinya, mereka juga memanfaatkan media online (MOL) dan media sosial sebagai ruang untuk publikasi, baik kepentingan pribadi, organisasi dan bisnis.

Tak mau ketinggalan pula, sejumlah partai politik, para kandidat kepala daerah di seantero jagad Indonesia juga memanfaatkan MOL dan medsos sebagai ajang sosialisasi visi dan misi mereka untuk menarik calon pemilih. Pun demikian halnya di Sumatera Selatan..

Mengutip sebuah sumber, Asnadi C.A, wartawan senior di Palembang, mengatakan, para calon kepala daerah yang tidak memanfaatkan MOL dan medsos akan kalah.

Hal itu diungkap Pemimpin Redaksi Media Online sumseldaily.com dalam diskusi santai bertema : Peran media online dalam Pilkada Sumsel 2018, di Dipo cafe, Rabu (7/2/2018).

Namun disisi lain, pada diskusi yang menghadirkan perwakilan tim media masing-msing calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubenrur (cawagub) Sumsel ini terungkap data RCI menyebutkan, tingkat keyakinan masyarakat terhadap calon kepala daerah hanya 1,8 persen.

Pernyataan itu kemudian ditampik Mulyono, perwakilan Tim Media pasangan Dodi Reza Alex – Giri  Ramandha Kiemas. “Jangankan 1,8 pesrsen, kita lebih 8 angka saja dari kandidat lain sudah dinilai menang. Apalagi 1,8 persen. Jadi menurut kami, angka itu tidak membuat kami pesimis terhadap tingkat kepercayaan pengguna medsos pada Dodi-Giri,” ujarnya.

Lain halnya Imron Supriyadi, pemimpin redaksi Media Online Palembang.com. Menurut Ketua Aliansi Jurnalis Indepennden (AJI) Palembang periode 2009-2011 ini, ketidakpercayaan 1,8 persen ini menjadi tantangan bagi setiap kandidat dan tim media, terhadap elektabilitas kandidat.

“Dengan angka itu tidak harus pesimis, tetapi justeru menjadi tantangan bagi setiap tim media, bagaimana dapat mendongkrak tingkat kepercayaan dengan berbagai program riil yang membumi, yang kemudian di[ublish di media sosial dan media online,” ujarnya.

Pewaris Para Nabi

Tentang maraknya media online menghadapi Pilkada Sumsel 2018 yang kian berkembang, menurut Imron hal ini menjadi tantangan. Menurut Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Palembang (DKP) ini, ada dua sisi yang akan memberi dampak pada  maraknya media online.

Dari sisi positif, Imron mengutip pernyataan Gus Dur, semakin warga disuguhi banyak bacaan, artinya warga negara ini akan banyak alternatif sumber informasi. Semkin banyak bacaan warga neara akan semakin cerdas.  Sebab ketika itu, akan ada perbandingan antara informasi satu dan lainnya. “Ini berbeda ketika rezim Orde baru yang semuanya harus sama, termasuk informasi yang diseragamkan, ini sangat membodohi,” ujarnya.

Lebih lanjut, dosen jurnalistik pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini mengatakan, banyaknya media online menjadi awal proses pencerdasan bagi pembaca.

Namun disisi lain, efek negatifnya adalah tidak sedikit pengusaha yang tidak berlatar belakang pers kemudian mendanai media online. Ironisnya, sebagian investor tidak lagi menimbang kualitas wartawan dan pengelola media. Akibatnya, ada istilah di kalangan pers media online abal-abal dan wartawan asal jadi yang tidak memiliki ideologi.

Padahal, menurut Pimpinan Rumah Tahfdz Rahmat Palembang ini, tugas wartawan bukan sebatas menulis dan menyebarkan informasi semata. Tetapi lebih dari itu, wartawan adalah pembawa misi kebaikan.

“Lebih tegasnya, menurut saya, wartawan adalah pembawa misi kenabian. Sebab wartawan yang paling professional di muka bumi ini adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau mendapat informasi dari Allah berupa wahyu, lantas turun ke Malaikat Jibril, lalu disampaikan ke Nabi Muhammad SAW, kemudian Nabi SAW menginfomasikan, mengabarkan wahyu, kepada para sahabat. Jadi Nabi Muhammad adalah juga pengabar. Pengabar itu ya wartawan,” tegasnya.

Sadar amanah wartawan sebagai pembawa misi kenabian, menurut ayah dari 1 putri dan dua 2  putra ini, dalam menghadapi Pilkada Sumsel 2018, seorang wartawan  harus menjaga nilai-nilai kenabian dalam menulis berita.

“Beritakan apa yang benar, itu namanya sifat siddiq. Tulis yang jujur, ini sifat amanah. Dan sampaikan apa yang ditugaskan, ii sifat tabligh. Hal yang penting lagi, wartawan harus punya sifat fathonah artinya kercerdasan. Wartawan harus cerdas dan medianyanya harus mencerdaskan. Bagaimana mungkin kita akan mencerdaskan pembaca kalau diri kita tidak lebih dulu cerdas?” tegasnya.

Secara umum tim media dari masing-msing kandidat, pada diskusi kali itu menyatakan perlunya peran media online untuk mendukung sosialisasi program.

Diantaranya Firdaus Hasbullah, perwakilan pasangan cagub dan cawagub Sumsel, Ishak Mekki-Yudha menilai, hal yang penting dalam media online adalah, menjaga netralits dalam pemberitaan, terutama menghadapi konstestasi pilkada Sumsel 2018.

Firdaus menegaskan, selain netralitas, media online juga harus melakukan pendidikan politik kepada calon pemilih. Proses pendidikan itu, menurut Firdaus salah satu diantaranya, dengan menulis berita yang mengajak warga untuk menggunakan hak pilihnya dengan baik. “Termasuk didalamnya, bagaimana media online juga ikut menjadi pengawas dalam penyelenggaraan pilkada,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rasyid Irfandi alias Peddo, perwakilan tim media pasangan Aswari-Irwansyah mengatakan pentingnya wartawan yang harus tetap pada koridor dan kaidah Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

“Apapun peristiwa dan kegiatan setiap calon boleh ditulis, sebab itu sudah menjadi tugas wartawan. Tapi diharapkan dalam menulis berita, jangan sampai melanggar kode etik jurnalistik. Ini juga untuk menjaga profesionalisme wartawan juga,” tegasnya.

Lain halnya dengan Alfrenzi Panggarbesi.  Tim media pasangan Herman deru-Mawardi Yahya ini mengingatkan forum terhadap perubahan pola pikir masyarakat yang sebelumnya menggunakan media konvensional (koran cetak) yang kemudian bergeser menjadi internet (MOL).

Kenyataan itu menurut Alfrenzi, dapat dilihat sejak pergulatan politik nasional di Pilpres. “Kita lihat pada saat Pak Jokowi nyalon presiden. Ini sangat tampak percepatan para pengguna hand phone merespon sebagian informasi tentang Pak Jokowi. Demikian juga Pak Prabowo yang juga memanfaatkan media online,” ujarnya.

Diujung acara, Pemimpin Umum Media Online palembangpro.com, M Khalifah Alam, diberi kesempatan membaca puisi sebagai pesan akhir dari penutupan acara. Isi puisinya merupakan pesan kepada semua pihak, baik wartawan dan calon pemilih untuk tetap menjaga stabilitas keamanan dan kedamaian dalam menyongsong Pilkada di Sumsel 2018.

TEKS : PALEMBANGPRO.COM 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *