Pesona Baru Danau Ranau OKU Selatan

BANDING AGUNG | KSOL – Entah berapa kali Rozali harus melempar seyuman kepada setiap orang yang menyambanginya. Ia memang bukan pemandu wisata, tetapi petani kopi ini selalu memberi informasi tentang apa saja kepada para pelancong.

Lelaki berumur 60 tahun ini selalu mengajak berbincang pada beberapa orang yang berfoto di pusat oleh-oleh dan kerajinan tangan khas Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan ‘Galeri Desaku’ yang berada di bibir Danau Ranau.

Sesekali, lelaki yang berasal dari Semarang Jawa Tengah ini bertanya kepada pengunjung ihwal dari mana berasal atau lokasi mengambil foto (berselfie).

Ketika ada beberapa pengunjung yang kurang referensi, Rozali langsung memberi saran dan arahan kemana para pengunjung harus menuju.

“Kalau adik berjalan lurus ke timur, pasti akan bertemu persawahan milik warga yang hijau. Ada juga pantai dan tempat-tempat yang cantik untuk difoto. Ooooya, perjalanan ke sana naik turun tebing yang curam, tapi enak kok, sudah diaspal. Sepanjang jalan ke sana, Danau Ranau ini enak sekali dinikmati. Dan Gunung Seminung seolah selalu melihatmu,” saran kakek ini kepada beberapa pengunjung, Rabu (31/1/2018).

Meski orang Jawa tapi Rozali lancar berbahasa Indonesia. Pasalnya, sejak tahun 1970, Rozali sudah pindah ke Pulau Sumatera, atas dasar program transmigrasi di era orde baru.

Kegiatannya menyambangi pengunjung di lokasi wisata dilakukan, setelah sebelumnya Rozali berkutat dengan kebun kopinya.

Namun, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 15. 30 WIB, ia segera meninggalkan kebun di pangkal Desa Surabaya, Banding Agung, menuju bibir Danau Ranau.

Di tempat itu, banyak sekali aktivitas yang dilakukan Roali. Baik mengasah parang, mengatur parkiran, hingga duduk bercengkrama dengan sejumlah pelancong, sambil menikmati kopi asli Ranau : Kopi Kahwa.

“Sambil sesekali melempar pandangan ke Gunung Seminung,” godanya sambil tersenyum.

Gunung Seminung lumayan tinggi, tercatat mencapai 1.880 meter di atas permukaan laut.

“Satu tahun terakhir, Danau Ranau ini cukup ramai,” ujar Rozali menyampaikan pengamatannya selama ini.

Ia juga membandingkan kondisi Danau Ranau antara tahun sebelumnya dan di zaman kini. Katanya, Danau Ranau saat ini tidak seramai sekarang. Alasannya, fasilitas pada masa itu tidak seperti saat ini, yang sangat mendukung para pengunjung.

“Sekarang, pengunjung bisa mengambil foto seindah mungkin dari setiap sudut Danau Ranau yang berlatar Gunung Seminung. Pengunjung juga bisa menikmati hijaunya Bukit Barisan yang mengitari danau, sekaligus bisa menikmati senja,” katanya.

Saat ini tempat wisata kebanggaan warga Sumatera Selatan itu dipersolek sedemikian rupa.

Danau terbesar nomor dua di Pulau Sumatera itu sudah dipasang plang nama raksasa ‘DanauRanau’, bersama pernak-pernik papan yang bertulisan ‘Alam Tidak Menghianati Kita’ papan membentuk selancar dengan tulisan ‘The CoffeLagend’.

Dari Palembang Danau Ranau dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat.

Setiap pengunjung yang hendak ke sana, harus menempuh jarak sejauh 328 km. Letak danau ini tidak jauh dari Kota Muara Dua, ibu Kota Kabupaten OKU Selatan.

Dari kota itu, hanya butuh perjalanan 1,5 jam. Sepanjang jalan akan disuguhi tikungan tajam, jalan sempit, jarai atau tebing tinggi. Jalan menuju danau itu menelusuri bagian dari Bukit Barisan.

Danau seluas 125,9 kilometer persegi itu juga dapat dikitari sepeda motor atau mobil.

Di sepanjang jalan, setiap pengunjung akan menjumpai pohon besar yang berada di di lereng tebing. Diantara dedaunan ada yang memayungi jalan.

Bahkan di beberapa tempat, ada mata air gunung yang dialirkan melalui bambu yang dapat langsung diminum setiap para pelancong atau awarga setempat.

Dari jalan itu, tampak perahu cadik nelayan yang lalu lalang di perairan danau yang berwarna biru kehijauan.

Diantara perahu cadik itu ada sejumlah warga yang sedang menangkap ikan. Sebagian ikan yang ditangkap, terutama Ikan Mujair Kumbang, Ikan Kepar, Ikan Patin dan ikan lainnya.

“Warga Danau Ranau bangga dengan Ikan Mujair Kumbang itu. Rasanya lebih enak, apalagi bila di panggang, dagingnya akan lebih terasa manis,” ujar Rozali.

Menuju Vila Pusri, pengunjung disunguhi pantai buatan yang teduh. “Nama pantai itu Sepuyuh Padang Ratu,” ujar suami dari Alimatus Sadiah itu.

Pantai itu memang tidak lebar. Ukurannya kurang lebih 50 meter. Panjangnya tak lebih dari 200 meter. Namun nuansanya tetap indah, karena dipayungi dahan pohon yang besarnya seukuran paha orang dewasa. Sementara sebagian batang pohonnya dicat merah, kuning, hijau, putih, hingga tampak seperti pelangi.

Bupati OKU Selatan, Popo Ali Mortopo juga sudah berjanji akan menghidupkan Danau Ranau. “Bila perlu setiap bulan akan dibuatkan acara atau festival,” janji Bupati saat memberi sambutan peringatan HUT ke-14 Kabupaten OKU Selatan, Rabu 31 Januari 2018 di bibir Danau Ranau.

*

Ketika malam menjelang, dingin mulai menyelimuti daerah Danau Ranau. Di Dermaga Vila Pusri tampak beberapa orang lalu-lalang. Di tempat inilah fotografer freelance, Muhammad Tohir sibuk menangkap gambar matahari tenggelam di atas Danau Ranau di samping Gunung Seminung.

“Komposisi yang paling lengkap memang mengambil gambar dari sini. Cahaya merah jingga akan memantul ke air danau. Dalam gambar itu akan dilengkapi Gunung Seminung yang teduh. Lebih indah lagi bila ada nelayan berperahu cadik lewat di tengah air yang berkilauan warna jingga itu,” ujar Muhamad Tohir membayangkan hasil fotonya.

Tohir saat ini menetap di Palembang. Ia mengaku sengaja datang ke Danau Ranau. Bukan hanya ingin menangkap senja di lokasi wisata itu, tetapi juga ingin berburu supermoon yang hanya muncul 152 tahun sekali.

Diantara suara jepretan kamera, Muhamad Tohir menangkap cahaya lembayung, matahari secara perlahan menjauh dan tenggelam.

TEKS/FOTO : palembangpro.com 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *